● ‘Mindfulness’ dapat membantu mengelola kecemasan, tetapi bukan solusi persoalan sosial.● Tidak semua orang mengalami berita buruk dari jarak yang sama seperti Maudy Ayunda.● Empati penting agar kita memahami pengalaman orang lain menghadapi krisis.Video Maudy Ayunda tentang “mindfulness in the age of bad news” memicu perdebatan di media sosial. Dalam videonya, Maudy membagikan pengalamannya menghadapi derasnya berita buruk dari dalam dan luar negeri. Kritik muncul karena ajakan untuk mengambil jarak dari berita dinilai kurang peka terhadap orang yang hidupnya justru terdampak langsung oleh berbagai persoalan tersebut. Dalam klarifikasinya, Maudy mengakui bahwa kemampuan mengambil jarak dari berita tidak dimiliki semua orang secara sama.Mindfulness bukanlah gagasan yang baru dan keliru. Penelitian menunjukkan praktik ini dapat membantu mengurangi gejala kecemasan dan depresi, meski manfaatnya cenderung kecil hingga sedang—tidak terbukti lebih unggul daripada semua bentuk intervensi lain.Persoalannya adalah jarak kita terhadap sebuah berita tidak pernah sama.Negara sedang tidak baik-baik sajaDalam beberapa waktu terakhir, layar ponsel orang Indonesia dipenuhi kabar buruk tak ada henti-hentinya. Mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), erupsi Gunung Anak Krakatau, dan berbagai persoalan sosial dan ekonomi negara lainnya. September 2026, misalnya, Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi kemarau dan El Niño masih meningkatkan risiko karhutla, sementara sebaran abu Anak Krakatau sempat berdampak pada aktivitas warga. Baca juga: Karhutla Indonesia: Bencana kemarau atau potret negara enggan mencegah krisis? Belum lagi kasus-kasus keracunan siswa dan guru akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal tahun. Bagi sebagian orang, semua itu mungkin hanya berita yang muncul di feed: dibaca sebentar, dibagikan, lalu digeser.Namun, bagi orang yang rumahnya dipenuhi asap, berita karhutla bukan sekadar informasi. Bagi istri yang suaminya belum juga ditemukan dalam kecelakaan kapal KM Virgo 8 di Laut Jawa, berita itu bukan sesuatu yang bisa ditutup dengan menekan tombol mute.Begitu pula dengan berita PHK. Kita mungkin membacanya sambil sarapan, lalu kembali bekerja. Bagi orang yang baru kehilangan pekerjaan, berita tentang PHK adalah soal bagaimana membayar kontrakan dan cicilan bulan depan.Untuk itulah pesan yang terkait ajakan “mengambil jarak dari bad news” perlu disampaikan dengan sangat hati-hati.Selalu ada yang harus berhadapan langsung dengan bencanaBayangkan seorang pekerja yang setiap hari melihat berita kenaikan harga. Ia bisa berhenti membaca berita, tetapi tetap harus membayar ongkos transportasi dan membeli bahan makanan.Atau seorang pengemudi ojol yang berhenti scrolling berita tentang harga bahan bakar. Setelah ponselnya ditutup, ia tetap harus bekerja untuk mendapatkan penghasilan hari itu.Apakah orang-orang tersebut tidak butuh self-care? Tentu butuh. Diskusi tentang burnout, healing, boundaries, digital detox, dan mindfulness memberi kita cara untuk mengenali rasa lelah dan menjaga kesehatan mental. Tapi masalahnya, rasa lelah dan kecemasan tidak seluruhnya berasal dari dalam diri maupun terlalu banyak informasi. Ketika seseorang berkata, “jagalah kesehatan mentalmu ketika dunia terasa terlalu berat”, maksudnya mungkin sederhana: jangan biarkan arus berita buruk membuat kita kewalahan. Namun, bagi seseorang yang kondisi pekerjaannya yang tidak aman, biaya hidup, atau keluarga yang terdampak bencana, pesan tersebut bisa terdengar berbeda.Tidak ada individu yang ingin punya masalah hidup. Tapi hidup akan selalu dipenuhi masalah.Inilah mengapa kita perlu berempati. Bukan berarti kita harus mengalami sendiri semua pengalaman orang lain, tapi setidaknya memahami bahwa hubungan orang lain dengan sebuah krisis mungkin berbeda dari hubungan kita dengan krisis itu.Hanya mengurangi rasa perih, bukan menghilangkan sumber penyakitTidak ada yang salah dengan konsep mindfulness. Mindfulness pada dasarnya adalah latihan untuk membawa perhatian pada apa yang sedang kita alami saat ini, misalnya pikiran, emosi, atau sensasi tubuh, tanpa langsung menghakimi atau bereaksi terhadapnya.Sebuah meta-analisis terhadap 47 uji klinis dengan lebih dari 3.500 peserta menemukan bukti moderat bahwa program meditasi mindfulness dapat membantu mengurangi gejala kecemasan dan depresi. Baca juga: Mindfulness sebenarnya soal ‘mengingat’: latihan untuk kembali ke momen saat ini Namun, mindfulness tidak sama dengan menghindari berita atau menutup mata terhadap masalah. Ada perbedaan penting antara mengelola respons terhadap masalah dan menyelesaikan masalah itu sendiri.Meditasi mungkin membantu seseorang lebih tenang menghadapi kenaikan biaya hidup, tetapi tidak bisa menurunkan harga sewa. Mengurangi doomscrolling mungkin membuat kita tidur lebih nyenyak, tapi tidak bisa langsung memperbaiki rumah yang rusak akibat banjir. Mengambil jeda dari berita kecelakaan mungkin mengurangi kecemasan. Tapi di lokasi kejadian, keluarga korban masih harus menunggu kabar.Mindfulness dapat membantu kita, yang tidak berhadapan langsung dengan krisis, menghadapi masalah dengan lebih baik. Namun, ia tidak bisa mengganti kebijakan publik, perlindungan sosial, atau penyelesaian masalah struktural.Empati dimulai dari menyadari jarakMungkin persoalan yang lebih penting dari kontroversi Maudy bukan apakah kita boleh mengambil jeda dari berita.Boleh saja dan mungkin perlu dilakukan.Bahkan mungkin sesekali kita perlu melakukannya agar tidak tenggelam dalam kecemasan. Namun, sebelum mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama, kita perlu bertanya: apakah mereka sedang kewalahan karena terlalu banyak membaca berita, atau karena berita itu sedang menjadi kehidupan mereka?Mengambil jeda bukan berarti berhenti peduli. Justru setelah kita cukup tenang untuk menyalakan kembali layar, kita perlu melihat lebih jauh dari sekadar berita.Bagi kita, bad news berhenti ketika layar dimatikan. Bagi sebagian orang, bad news itulah kehidupan yang harus mereka jalani. Empati dimulai dari menyadari bahwa tidak semua orang memiliki jarak yang sama dari sebuah berita. Baca juga: Ketika negara kehilangan empati: Meriahnya perayaan kemerdekaan di tengah duka bencana Jusuf Ariz Wahyuono tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.