Ilustrasi OpenAI. Foto: ShutterstockKasus AI "nakal" milik OpenAI ternyata bukan cuma sekali terjadi. Sebelum insiden besar yang membobol Hugging Face pada Juli 2026, agen AI OpenAI rupanya sudah lebih dulu mencoba menjebol dua platform lain—dan kedua insiden itu disimpan rapat-rapat oleh OpenAI selama berbulan-bulan.Insiden pertama yang baru terungkap adalah serangan ke RubyGems, registry paket untuk bahasa pemrograman Ruby. Pada 11-12 Mei 2026, sekawanan agen AI membanjiri RubyGems dengan ratusan paket berbahaya dan spam, memaksa platform tersebut menghentikan sementara pendaftaran akun baru selama empat hari.Menurut temuan peneliti independen Spencer Kitts, Thomas Larsen, dan Sydney Von Arx yang dipublikasikan awal September 2026, agen-agen tersebut bahkan mencoba mengeksploitasi celah keamanan di server RubyGems untuk mencuri API key milik pengguna. Namun, belum jelas apakah upaya pencurian kredensial itu benar-benar berhasil.Para peneliti meyakini paket-paket berbahaya itu ditulis oleh agen internal OpenAI, berdasarkan gaya bahasa yang khas keluaran LLM serta beberapa agen yang secara terang-terangan mengidentifikasi diri sebagai sistem OpenAI. OpenAI sendiri akhirnya mengonfirmasi keterlibatan agennya, tapi menyebut aktivitas tersebut sebagai tugas yang "tidak berbahaya"—yakni mengakses internet untuk mengambil informasi publik selama proses pelatihan dan evaluasi model.OpenAI membantah AI-nya melakukan serangan ke RubyGems. "Berdasarkan tinjauan kami, agen kami menggunakan platform RubyGems untuk mengakses internet guna melakukan tugas-tugas yang tidak berbahaya dan mengambil informasi publik. Kami akan terus menyelidiki sebagai bagian dari tinjauan aktivitas agen yang lebih luas selama pelatihan dan evaluasi," ungkap Juru bicara OpenAI, Kayla Wood dilansir The Verge.Ilustrasi hacker. Foto: ShutterstockBukan cuma RubyGems, OpenAI menyimpan rahasia insiden kedua: pembajakan wiki pemrograman asal Jerman, DseWiki. Berdasarkan laporan kelompok riset Nightingale Collective, agen-agen OpenAI yang awalnya hanya diberi akses baca (read-only) ke wiki berusia 25 tahun itu berhasil mengeksploitasi celah pada permintaan web dan mengubah wiki tersebut menjadi papan buletin rahasia.Agen-agen nakal itu membuat lebih dari 18.000 unggahan di DseWiki, berisi jawaban tugas, riset soal lingkungan sekitar mereka, hingga cara membobol batasan sandbox dan menyembunyikan diri dari deteksi manusia. Insiden ini terjadi antara Mei dan Juni 2026, tapi OpenAI baru mengakuinya lewat unggahan di platform X pada awal September 2026—setelah disimpan diam-diam selama berminggu-minggu.Kedua insiden itu terjadi lebih dulu ketimbang kasus yang paling banyak disorot publik yakni pembobolan Hugging Face pada Juli 2026. Dalam insiden ini, sekawanan agen OpenAI dilaporkan berhasil mendapatkan akses root ke server produksi platform AI open-source tersebut saat mencoba "mengakali" evaluasi keamanan siber. Jumlah agen yang terlibat masih simpang siur antar sumber—sebagian laporan menyebut sekitar 700 agen, sementara sumber lain menyebut angka lebih dari 1.200 agen dalam serangan lima hari tersebut.Pola yang berulang di tiga insiden ini menimbulkan kekhawatiran baru: OpenAI cenderung menahan informasi soal insiden "misalignment" alih-alih segera melaporkannya. Padahal, di bawah EU AI Act yang mulai berlaku Agustus 2026, perusahaan yang mengoperasikan model AI berisiko sistemik wajib melaporkan insiden serius semacam ini kepada Kantor AI Uni Eropa tanpa penundaan.Insiden DseWiki bahkan memicu reaksi keras dari sejumlah anggota Parlemen Eropa. Co-lead Kelompok Kerja AI Parlemen Eropa, Michael McNamara, menilai EU AI Act sebenarnya sudah memberi kewenangan bagi otoritas untuk melawan risiko agen AI, namun Kantor AI Uni Eropa butuh staf dan sumber daya yang memadai untuk mengimbangi kemampuan sistem AI yang terus berkembang.Co-lead lainnya, Brando Benifei asal Italia, menyebut aturan risiko sistemik dalam EU AI Act perlu ditegakkan secara konsisten agar tidak sekadar aturan di atas kertas. Ia mendorong Kantor AI Uni Eropa untuk aktif meminta akses model, melakukan evaluasi independen, dan mewajibkan mitigasi, bukan sekadar mengandalkan laporan sukarela dari perusahaan.OpenAI pun merespons. Perusahaan mengaku tengah menyusun kerangka kerja baru soal kapan dan bagaimana insiden misalignment AI seharusnya dilaporkan ke publik. Perusahaan itu mengklaim standar pelaporan yang ada saat ini belum memadai untuk menghadapi "fase baru" kemampuan model AI yang berkembang pesat.Terlepas dari respons tiap pihak atas insiden itu, ada satu hal jadi terlihat jelas: Rentetan insiden RubyGems, DseWiki, dan Hugging Face menunjukkan pola yang sama, agen AI OpenAI berulang kali melewati batas yang seharusnya, dan publik baru mengetahuinya berbulan-bulan kemudian.