Keuangan AirAsia Tertekan, MAS-Batik Air Bakal Ambil Alih Rute Domestik Malaysia

Wait 5 sec.

Ilustrasi pesawat AirAsia. Foto: Lim Huey Teng/REUTERSKeuangan maskapai Low Cost Carrier (LCC) asal Malaysia, AirAsia, sedang mengalami tekanan. Pemerintah Malaysia kini tengah menyiapkan langkah penanganan situasi tersebut.Dikutip dari Reuters pada Kamis (17/9), saat ini pemerintah Malaysia sedang ada dalam perbincangan dengan Malaysia Airlines (MAS) dan Batik Air agar kedua maskapai tersebut bisa mengambil alih rute domestik AirAsia. Pembicaraan itu juga sudah dilakukan secara intens selama beberapa pekan terakhir.Lebih detail, pembicaraan tersebut melibatkan Kementerian Keuangan dan operator bandara yang terafiliasi dengan negara yakni Malaysia Airports Holdings Berhad (MAHB).Adapun, AirAsia terdampak lonjakan biaya bahan bakar pesawat akibat perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Karena perang, harga bahan bakar jet melonjak 66 persen pada kuartal II dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi rata-rata USD 183 per barel.Hal itu membuat pemerintah Malaysia saat ini terus memantau keuangan AirAsia dan menjadikan opsi ambil alih rute domestik oleh dua maskapai lainnya sebagai salah satu skenario.Merespons opsi itu, Malaysia Airlines dan Batik Air menyampaikan kepada pemerintah Malaysia bahwa mereka hanya akan mengambil alih operasi AirAsia dalam skala besar jika mereka juga bisa mengambil alih sewa pesawat milik AirAsia. Hal ini karena menyerap rute dan jumlah penumpang AirAsia tanpa pesawat yang digunakan maskapai tersebut akan menyulitkan Malaysia Airlines dan Batik Air.Di samping itu, Malaysia Airlines dan Batik Air juga telah menyampaikan kepada pemerintah Malaysia bahwa mereka bersedia melakukan ekspansi secara organik guna mengambil alih rute dan penumpang AirAsia alih-alih mengakuisisi seluruh bisnis AirAsia.CEO Batik Air Malaysia Chandran Rama Muthy juga sudah mengatakan dalam pernyataan pada bahwa maskapainya mampu mendatangkan pesawat dengan cepat untuk menyerap atau membantu mengambil pangsa pasar domestik jika diperlukan.Sementara terkait skenario lainnya, pemerintah Malaysia berencana memberikan dukungan atau endorsement untuk memperkuat rencana AirAsia menghimpun modal baru dari investor eksternal. Meski demikian, hal itu belum didetailkan.Adapun saat ini AirAsia menguasai sekitar 40 persen pasar penerbangan Malaysia secara keseluruhan dan 60 persen penerbangan domestik.Respons AirAsiaDi sisi lain, Deputy Group CEO AirAsia Group, Farouk Kamal mengatakan dalam pernyataan bahwa maskapai tersebut belum bisa mengomentari spekulasi mengenai operasional atau keuangan maupun kesepakatan korporasi yang belum diumumkan.“Seluruh informasi material mengenai bisnis dan strategi armada kami disampaikan secara transparan melalui laporan resmi bursa dan pengumuman perusahaan pada waktunya. Kami juga ingin menegaskan kembali bahwa AirAsia tetap fokus menjaga keberlangsungan bisnis dan stabilitas operasional di seluruh pasar kami. Kami juga terus melihat permintaan yang kuat di seluruh jaringan dan bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk mengelola kebutuhan keuangan dan operasional,” kata Farouk.Adapun AirAsia yang memiliki liabilitas lancar sebesar 18,4 miliar ringgit atau sekitar USD 4,51 miliar per 30 Juni lalu.Selain itu, mereka juga berutang sedikitnya 500 juta ringgit kepada MAHB. Utang tersebut terkait layanan seperti biaya pendaratan dan parkir pesawat. Meski demikian, MAHB telah memberikan perpanjangan waktu pembayaran kepada AirAsia.Sedang Cari Pendanaan BaruPada bulan ini, AirAsia mengatakan bahwa mereka tengah mempercepat pembicaraan dengan sejumlah lembaga keuangan terkait pendanaan baru. Adapun AirAsia menargetkan penghimpunan dana hingga USD 1 miliar dari pasar utang internasional serta fasilitas kredit lokal sebesar 700 juta ringgit terutama untuk merestrukturisasi utang.Untuk itu, beberapa sumber memperkirakan AirAsia membutuhkan sedikitnya USD 3 miliar modal baru untuk mengatasi kondisi keuangannya. Menanggapi hal tersebut, AirAsia mengatakan target pendanaan yang ditetapkan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Sebelumnya per 30 Juni lalu, AirAsia memiliki kas dan saldo bank sebesar 954 juta ringgit.Selain itu, AirAsia mencatat rugi bersih 831 juta ringgit pada kuartal II per 30 Juni lalu Kinerja tersebut terdampak kenaikan biaya bahan bakar jet dan kerugian valuta asing yang besar mencapai 331 juta ringgit.