Kisah Mahasiswa UNY Jualan Risol di Kampus: Ingin Mandiri, Bantu Orang Tua

Wait 5 sec.

Takashi Nurdi Al Mu'tasyimbillah (19) mahasiswa UNY yang kuliah sembari berjualan risol di kampus, Senin (14/9/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanDi sela-sela pergantian mata kuliah, Takashi Nurdi Al Mu’tasyimbillah (19) membuka boks putih yang dibawanya dari kos. Di dalamnya terdapat risol aneka rasa, mulai dari mayo, cokelat, hingga matcha.Dengan telaten, mahasiswa Program Studi Biologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) angkatan 2025 itu melayani pembeli yang tak lain merupakan teman-teman kuliahnya, Senin (14/9).Hari Takashi sudah dimulai sejak pukul 05.00 WIB. Saat sebagian mahasiswa masih beristirahat, pemuda asal Lamongan, Jawa Timur, itu telah sibuk menyiapkan dagangannya.Di sebuah kos di Ngaglik, Kabupaten Sleman, Takashi menggoreng puluhan risol yang sebelumnya telah ia buat sejak sore hingga larut malam. Setelah dikemas, risol-risol tersebut dimasukkan ke dalam boks yang kemudian diikat di bagian belakang sepeda motornya untuk dibawa ke kampus.Dalam sehari, Takashi mampu memproduksi sekitar 80 hingga 100 risol.Bagi Takashi, berjualan risol bukan sekadar cara untuk menambah uang saku. Ia ingin belajar mandiri sekaligus membantu meringankan beban orang tuanya. Dengan harga Rp 3.500 hingga Rp 4 ribu per buah, hasil penjualannya bahkan dapat digunakan untuk membayar biaya kos.Takashi Nurdi Al Mu'tasyimbillah (19) mahasiswa UNY yang kuliah sembari berjualan risol di kampus, Senin (14/9/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan"Memang dari kecil saya sudah dibina dari orang tua saya untuk bisa mencari uang sendiri. Dan saya lanjutkan lagi di perkuliahan, bagaimana caranya saya bisa mendapatkan uang sendiri tanpa membebani orang tua," kata Takashi.Kemampuan membuat risol itu ia dapatkan dari sang ibu. Tak disangka, risol buatan Takashi justru digemari teman-temannya. Dagangannya kerap habis dibeli mahasiswa hingga dosen."Kadang tersisa. Bahkan itu juga kalau tersisa pun saya kasihkan ke teman-teman biar enggak mubazir," ujarnya.Mandiri hingga Bisa MenabungTakashi baru sekitar satu semester menjalankan usaha tersebut. Meski masih terbilang baru, hasilnya sudah cukup membantu kebutuhan sehari-harinya.Dari berjualan risol, ia bisa membayar biaya kos, memiliki uang jajan sendiri, hingga menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung."Habis itu bisa buat beli sepatu atau yang lain, kebutuhan yang lain gitu," katanya.Keinginan memiliki usaha sebenarnya sudah muncul sejak Takashi memutuskan untuk kuliah. Semula, ia berencana melanjutkan pendidikan di Surabaya. Namun, ia akhirnya mendapat kesempatan kuliah di Yogyakarta dan memilih memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengembangkan usaha."Memang kan awalnya saya itu planning-nya itu enggak kuliah di Yogyakarta. Asli saya kan Lamongan, penginnya di Surabaya, tapi rezekinya di sini. Jadi, bagaimana saya caranya bisa mengembangkan usaha," tuturnya.Takashi merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Kedua orang tuanya di Lamongan juga menjalankan usaha di bidang makanan, mulai dari katering, serabi, hingga aneka kue basah."Ibu saya juga di sana mengembangkan usaha, tapi sudah 11 tahun belum ada perkembangan, seperti itu. Nah, ke depannya mungkin saya bisa menjualkan atau hasil dari usaha saya ini nantinya bisa di sini, di Jogja, bisa buka usaha sendiri," katanya.Tak Pernah Malu BerjualanBerjualan di lingkungan kampus tak pernah membuat Takashi merasa malu. Ia bahkan sudah terbiasa berjualan sejak duduk di bangku SMA."Alhamdulillah nggak ada yang mencibir atau gimana gitu," katanya.Respons dari lingkungan kampus pun justru positif. Takashi bercerita, salah seorang dosen bahkan pernah membeli seluruh dagangan yang dibawanya."Dosen pernah juga membeli, dagangan saya diborong semua," ujarnya.Ke depan, Takashi ingin menjadi seorang pengusaha. Ia juga memiliki keinginan untuk mengembangkan usaha di bidang pertanian yang masih berkaitan dengan Program Studi Biologi yang kini ditempuhnya.Dapat Apresiasi dari DosenKegigihan Takashi dalam menjalankan usaha mendapat apresiasi dari dosennya, Dr Wenny Pinta Litna Tarigan.Menurut Wenny, Takashi mampu membagi waktu antara berjualan dan menjalani aktivitas perkuliahan. Selain rajin mengembangkan usaha kuliner, Takashi juga tetap serius mengikuti kegiatan akademik."Beliau sehari-harinya rajin menciptakan makanan-makanan kuliner seperti ini untuk menambah pemasukan. Selain itu, beliau juga rajin di kelas," kata Wenny dalam keterangannya.Wenny mengaku salut dengan kegigihan Takashi yang tetap bersemangat menjalani kuliah di tengah upayanya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari."Saya sangat berempati kepada beliau dan salut dengan kegigihannya. Di tengah perjuangan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, beliau tetap bersemangat untuk belajar dan meraih cita-cita," ujarnya.