Kaya Keanekaragaman Hayati, Menko PMK Sesalkan Impor Bahan Baku Obat Tembus 94%

Wait 5 sec.

Menteri Koordinator (Menko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno memberikan sambutan saat uji publik kajian penentuan batas maksimal kadar nikotin dan tar di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTOMenteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menyoroti ironi tingginya ketergantungan Indonesia terhadap pasokan medis luar negeri. Pasalnya, di tengah melimpahnya kekayaan keanekaragaman hayati (biodiversity) nasional, impor bahan baku obat (BBO) masih menembus 94 persen dan alat kesehatan (alkes) mencapai 80 persen.Pratikno menilai, lonjakan belanja sektor kesehatan masyarakat yang terus melesat melampaui pertumbuhan ekonomi (gross domestic product/GDP) belum dinikmati oleh ekosistem industri domestik.“Kan konsumsi obat itu kan konsumsi sektor kesehatan kan terus menaik, jauh lebih tinggi daripada kenaikan GDP. Jadi, semakin naik GDP, semakin naik lebih cepat kenaikan belanja kesehatan. Tetapi ke mana uang itu pergi?” ujar Pratikno saat memberikan sambutan dalam Forum Menenun Kebijakan di Kantor BPOM, Jakarta Pusat, Senin (14/9).Ia menegaskan, derasnya perputaran dana kesehatan tersebut justru mengalir ke pasar luar negeri akibat industri hulu farmasi lokal yang belum mandiri.“Kita sedih bukan hanya efek dari obat yang berdampak beberapa waktu yang lalu seperti gagal ginjal pada anak-anak. Tapi bagaimana obat dan makanan itu berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi,” ujarnya.“Kita masih impor bahan baku obat berapa persen, Prof? 94%. Kemudian, kita masih impor obat, bahan baku obat. Kita masih impor alkes itu juga sekitar 80%. Betapa perkembangan konsumsi obat dan makanan itu tidak berimplikasi signifikan terhadap perekonomian kita,” paparnya.Kondisi tersebut, menurut Pratikno, sangat kontradiktif dengan status Indonesia sebagai salah satu pemilik megabiodiversitas terbesar di dunia. Terdiri dari 17.000 pulau, Indonesia menampung sekitar 10 persen spesies dunia, memiliki 25.000 spesies tumbuhan berbunga, serta mencatatkan keanekaragaman hayati laut terkaya secara global.Ilustrasi Obat Narkoba. Foto: Juliette_FOX/Shutterstock“Indonesia adalah negara bisa dikatakan the richest biodiversity in the world. Kita paling kaya. Daratan kita, biodiversity kita kalah dengan Brasil memang, tapi biodiversity laut kita, itu terbesar di dunia. Ini kan kekayaan luar biasa untuk industri obat. Bagaimana biodiversity kita ini dimanfaatkan untuk pengembangan industri dalam negeri,” tuturnya.Pratikno pun menitipkan mandat khusus kepada Kepala BPOM Taruna Ikrar agar pengawasan obat dan makanan tidak hanya berhenti pada penjaminan mutu dan keamanan, melainkan berpihak pada hilirisasi riset farmasi berbasis bahan alam dan UMKM.“Maka PR beratnya Prof. Tar, bukan semata-mata menjamin obat dan makanan itu aman, bermutu, dan berkhasiat, tetapi juga menjamin aset ekonomi yang begitu besar itu menumbuhkan kemakmuran rakyat. Ini PR berat yang kedua. Regulasi penting, tetapi keberpihakan terhadap industri dalam negeri, keberpihakan terhadap UMKM menjadi sangat penting,” pungkas Pratikno.