Kala rumah menjadi penjara: Menelusuri trauma dan ruang isolasi baru korban karhutla

Wait 5 sec.

• Karhutla mengubah kearifan lokal berladang warga menjadi tuduhan kejahatan.• Kepungan asap merusak makna rumah sebagai ruang perlindungan yang aman.• Dampak karhutla memicu ketimpangan ekonomi dan sosial di masyarakat.Bagi Jay dan Marda yang tinggal di Desa Lebung Itam dan Kuro, Sumatra Selatan, aroma asap di awal kemarau dulunya adalah bagian dari ritme hidup. Asap menandai pembukaan ladang kecil secara tradisional–kearifan lokal yang menopang kehidupan mereka.Namun, sejak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas, aroma yang sama berubah menjadi horor.Udara desa berubah pekat dan lengket seperti bagian dalam tungku pengasapan ikan. Demi bertahan hidup, mereka terpaksa menunda menyadap karet hingga pukul 10 pagi, menunggu kabut asap sedikit menipis. Di luar rumah, lingkungan yang mereka kenali berubah menjadi asing dan berbahaya. Jarak pandang yang hilang memaksa mereka bertaruh nyawa menghadapi risiko kecelakaan atau serangan satwa liar yang terusir karena hutannya terbakar.Dampak karhutla bahkan terasa ratusan kilometer jauhnya, di sebuah kondominium di Kuala Lumpur, Malaysia. Dari balik jendela apartemennya, Tikka Hun menyaksikan polusi menebal dengan cemas.Saat jerebu semakin pekat dan langit berubah kemerahan, ibu ini harus berkejaran dengan waktu untuk melindungi bayinya. Karena hanya memiliki satu air purifier, ia menutup rapat celah jendela dan ventilasi dengan selotip, lalu mengurung diri bersama bayinya di kamar terkecil.Selama berhari-hari, makan, tidur, dan merawat bayi dilakukan di ruang sempit itu. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung berubah menjadi sangkar.Inilah potret kesukaran warga yang terekam dalam laporan Greenpeace (2025). Keduanya mengajak kita melihat dimensi terdekat yang kerap terlewat: karhutla mendekonstruksi ruang hidup manusia. Karhutla bukan sekadar bencana musiman akibat El Nino, melainkan proses penaklukan ruang yang menjungkirbalikkan makna tradisi bagi petani lokal dan merusak makna rumah sebagai tempat perlindungan. Baca juga: Ketika negara kehilangan empati: Meriahnya perayaan kemerdekaan di tengah duka bencana Kearifan menjadi kejahatanEfek pertama yang mendasari krisis ini adalah kriminalisasi tradisi.Selama beberapa generasi, pembukaan lahan dengan api (controlled burning) menjadi bagian dari kearifan bertani masyarakat lokal. Praktik ini disertai mekanisme pengendalian, seperti sekat bakar, penggunaan air, dan aturan adat mengenai kerusakan yang ditimbulkan. Semua berubah ketika industri skala besar merangsek ke desa-desa. Di Tanah Borneo dan Sumatra, pembukaan hutan oleh industri meningkat sejak era Suharto. Mereka menguasai jutaan hektare lahan, termasuk membangun jaringan kanal raksasa sehingga mengeringkan lahan gambut. Perubahan tutupan hutan akibat ekspansi industri HTI, sawit, hingga pertambangan sejak 1973. (Gaveau et.al, 2014), CC BY Gambut yang semestinya menyimpan air berubah menjadi tumpukan bahan bakar raksasa yang mudah terbakar. Api kecil dari lahan pertanian atau rumput kering dapat merambat ke dalam gambut, membakar lapisan bawahnya dan membuat api jauh lebih sulit dipadamkan.Naasnya, petaka akibat ulah industri justru dibebankan kepada petani kecil. Dalam kebakaran sebelumnya, aparat menindak lebih dari 150 petani karena dituduh menyebabkan kebakaran. Tahun ini, pemerintah kembali memperketat larangan terhadap tradisi pembakaran lahan warga lokal.Ruang hidup warga telah terdesak, dan kini kearifan yang diwariskan turun-temurun pun dilabeli sebagai kejahatan. Baca juga: Praktik bakar lahan tradisional terus berkurang, tapi ini bukan kabar baik Lantas, bagaimana dengan korporasi? Berbagai laporan menunjukkan sebagian besar korporasi justru lolos dari jerat penjara maupun denda triliunan rupiah. Biang keladinya adalah jaringan patronase antara korporasi dan elite politik yang mengakar di tingkat lokal hingga nasional. Ketika rumah menjadi penjaraEfek kedua karhutla membawa kita pada pengalaman menghuni yang menyempit secara ekstrem. Menurut antropolog Tim Ingold, menghuni merupakan proses menjalani dan membentuk kehidupan melalui keterlibatan terus-menerus dengan lingkungan—melampaui sekadar ruang di dalam bangunan. Sementara antropolog Mary Douglas melihat rumah sebagai ruang yang dibentuk oleh kebiasaan, benda, aktivitas, dan ritme kehidupan bersama.Namun, kabut asap memaksa terjadinya “penahanan biologis domestik” karena udara di luar rumah berubah menjadi racun yang mengancam kehidupan.Tikka yang terpaksa mengurung diri di kamar berselotip di Malaysia, dan Marda yang cemas asap akan merusak kesehatan bayinya, menunjukkan bagaimana karhutla merampas rasa aman dan kendali atas rumah.Api mengobarkan ketimpanganPada 19 Juli 2026, Marlina pulang dari pengajian dengan panik setelah mendapat kabar api mengepung rumahnya di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.Meski petugas berhasil memadamkan api sebelum rumahnya terbakar, dampaknya belum berakhir. Pakaian yang berbau asap harus dicuci ulang, jemuran dipindahkan ke dalam rumah, sementara suaminya, seoraMarlina dan anak balitanya mulai batuk, bahkan sang anak sesak pada malam hari. Pengeluaran untuk masker bertambah, begitu pula kecemasan. “Mau ke mana kami hidup kalau rumah ini terbakar,” ujarnya, dikutip dari Mongabay.Kisah Marlina menggenapi kenyataan pahit kisah Jay dan Marda serta Tikka: kesempatan untuk bernapas lebih aman semakin bergantung pada kemampuan individu untuk membayar. Mereka yang lebih mampu (seperti Tikka di Malaysia) setidaknya dapat membeli pemurni udara dan menata ruang perlindungan. Sementara itu, buruh harian dan petani menghadapi pilihan sulit antara mengurangi paparan racun dan mempertahankan penghasilan. Baca juga: Mengapa sanksi pelaku karhutla amat timpang dengan kerugian berantai yang ditimbulkannya? Ketimpangan ini juga masuk ke dalam rumah melalui pengeluaran tambahan, pekerjaan yang tertunda, dan kerja perawatan yang bertambah. Dalam pembacaan ini, krisis lingkungan yang diproduksi pada skala bentang alam memindahkan sebagian biaya perlindungannya ke tubuh dan anggaran keluarga.Menguji pengambil keputusanSudah terlalu lama karhutla diperlakukan sebagai keadaan darurat, bukan akibat pengabaian sistemik. Ketika api dan jerebu mereda, tindak lanjut untuk memulihkan alam yang terbakar pun ikut surut.Negara memang melaporkan sanksi terhadap puluhan perusahaan. Namun, efektivitasnya baru bisa dinilai dari pelaksanaan sanksi, pemulihan ekosistem, dan berhentinya kebakaran berulang.Tuntutan pertanggungjawaban pun perlu menjangkau pengambil keputusan, pengendali tata air, dan pihak yang memperoleh keuntungan dari perubahan lahan. Mengangkat karhutla sebagai isu politik berarti kembali membahas penguasaan lahan dan perlindungan yang adil bagi warga sekitar dan masyarakat adat. Termasuk, menghormati tradisi controlled burning para peladang berpindah yang telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.Kesepakatan tersebut sebenarnya sudah ada tinggal memastikan bagaimana negara melaksanakannya, termasuk bersama negara tetangga.Perlindungan warga harus menjangkau layanan kesehatan, ruang udara bersih yang dapat diakses publik, penghidupan yang terganggu, serta beban perawatan keluarga. Pembiayaannya perlu menuntut pertanggungjawaban pihak penyebab kerusakan. Warga juga perlu dilibatkan dalam keputusan tentang lahan dan tata air yang menentukan keselamatan mereka. Sebab, selama gambut dikeringkan dan hutan dirusak demi keuntungan korporasi, risikonya akan terus ditanggung masyarakat, sementara kearifan lokal menjadi kambing hitam.Jika dibiarkan, rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru bisa berubah menjadi penjara yang menyesakkan.Pada akhirnya, hak untuk merasa aman di dalam rumah tidak dapat dipisahkan dari hak untuk menentukan apa yang terjadi di luar dindingnya.Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.