Layar menampilkan pergerakan perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (23/10). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTOIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak melemah pada level 6.371-6.290 pada pembukaan perdagangan Kamis (17/9). Sebelumnya pada Rabu (16/9), IHSG terkoreksi 24,30 poin atau melemah 0,38 persen ke level 6.436,85.“Berdasarkan indikator, MA20&60 berada dalam kondisi bullish crossover. Meskipun demikian, Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal negatif, sementara volume terus mengalami penurunan,” kata Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, dalam keterangannya, Kamis (17/9).Proyeksi melemahnya IHSG, kata Nafan, karena sentimen The Fed yang akhirnya menaikkan federal funds rate sebesar 25 bps menjadi 3,75–4,00 persen, menjadikan kenaikan suku bunga pertama sejak Juli 2023.Sementara itu, median proyeksi FOMC (dot plot) menunjukkan suku bunga sekitar 4,1 persen pada akhir 2026, yang mengindikasikan masih adanya kemungkinan kenaikan berikutnya dengan peluang saat ini sekitar 50/50.Ilustrasi bendera Amerika Serikat. Foto: George Wirt/Shutterstock“Yield US Treasury 10 tahun bahkan menguat 0,54% pada level 5,023%, level tertinggi dalam hampir dua dekade, sehingga kenaikan cost of capital mulai menjadi tekanan bagi aset berisiko,” jelas dia.Dia juga menyebut perhatian para pelaku pasar tertuju pada peluncuran Icomex/Bursa Mineral dan Komoditas Strategis, dengan timah menjadi komoditas strategis pertama yang diperdagangkan, dan implementasi kembali mekanisme short selling yang sudah dimulai sejak 15 September.“Faktor ini berpotensi meningkatkan aktivitas perdagangan dan likuiditas market,” sebut dia.Sedangkan menurut MNC Sekuritas, IHSG pada Kamis (17/9) diproyeksi bervariasi. Bisa menguat pada rentang 6.541-6.581 atau melemah dalam rentang 6.290-6.370.“Namun, selama IHSG masih mampu berada di atas 6.370 maka masih terdapat peluang IHSG menguat ke rentang 6.541-6.581,” tulis MNC Sekuritas, dalam keterangannya, Kamis (17/9).