Ilustrasi Wall Street. Foto: ShutterstockWall Street kembali menguat pada Kamis (17/9) setelah penurunan harga minyak, imbal hasil US Treasury, dan data ketenagakerjaan yang solid membantu pasar melewati kenaikan suku bunga pertama Federal Reserve (The Fed) dalam lebih dari tiga tahun.Dikutip dari Reuters, Jumat (18/9), ketiga indeks saham utama AS ditutup menguat tajam, didorong oleh reli luas yang dipimpin saham teknologi. Nasdaq mencatat kenaikan terbesar.Indeks Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 317,95 poin atau 0,62 persen menjadi 51.779,85. S&P 500 (.SPX) menguat 85,93 poin atau 1,14 persen menjadi 7.637,74. Sementara itu, Nasdaq Composite (.IXIC) naik 439,87 poin atau 1,69 persen menjadi 26.418,30.“Kami melihat minat pada sektor-sektor pasar yang terpukul cukup keras sebagai antisipasi kenaikan suku bunga The Fed ini,” kata Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth, Fairfield, Connecticut. “Dan orang-orang mulai masuk, melakukan sedikit pembelian saat harga terkoreksi,” imbuhnya.Harga minyak mentah turun hingga menyentuh level terendah dalam sepekan setelah kekhawatiran gangguan pasokan mereda menyusul laporan bahwa minyak Arab Saudi bergerak melalui Oman.Kerugian harga minyak kemudian menyusut seiring situasi Timur Tengah tetap tegang. Harga energi melonjak sejak dimulainya perang AS-Israel melawan Iran, yang turut meningkatkan tekanan inflasi global secara lebih luas.Pada Rabu (16/9), para pembuat kebijakan The Fed dengan suara bulat memutuskan menaikkan target suku bunga dana federal untuk pertama kalinya sejak Juli 2023. Dalam pernyataannya, bank sentral mengatakan berkomitmen untuk mewujudkan kembalinya inflasi ke target 2 persen secara lebih tepat waktu, membuka peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut tahun ini.“Pasar sedikit lega karena The Fed menunjukkan kesatuan sikap, yakni mereka semua memilih arah yang sama. Ketua The Fed Warsh kembali menegaskan independensi The Fed,” kata Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird, Louisville, Kentucky. Pasar keuangan saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed berikutnya pada Oktober mencapai 53,1 persen, naik dari 27,2 persen sepekan sebelumnya, berdasarkan alat FedWatch milik CME.Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan dalam konferensi pers pada Rabu bahwa ekonomi AS berada dalam kondisi kuat. Dia juga menyampaikan bahwa memastikan stabilitas harga tidak harus merugikan pasar tenaga kerja.Pandangan tersebut didukung laporan klaim tunjangan pengangguran mingguan dari Departemen Tenaga Kerja AS, yang menunjukkan klaim awal turun mendekati level terendah sejak 1969.Indeks Volatilitas Pasar CBOE (.VIX), yang sering disebut “indeks ketakutan”, menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan, sejalan dengan meredanya harga minyak mentah.“Ketika terjadi guncangan harga minyak selama ini, dampaknya pasti mulai merembet ke harga di seluruh perekonomian. Ini benar-benar satu-satunya hambatan besar yang dihadapi ekonomi global saat ini,” kata Mayfield.“Dan ketika ada sedikit kelegaan atau penyelesaian atas masalah itu, hal tersebut menjadi angin segar bagi konsumen, perusahaan, dan memungkinkan The Fed untuk bersikap kurang hawkish,” tambahnya.Saham Teknologi Memimpin PenguatanIlustrasi teknologi komputasi awan (cloud computing). Foto: Shutter StockSektor teknologi (.SPLRCT) mencatat kenaikan persentase terbesar di antara 11 sektor utama S&P 500. Sektor keuangan (.SPSY) dan barang kebutuhan pokok konsumen (.SPLRCS) menjadi dua sektor yang ditutup melemah, meski penurunannya tipis.Saham perusahaan tambang emas dan perak (.XAU) serta saham semikonduktor (.SOX) menjadi beberapa sektor yang mencatat kinerja menonjol. Keduanya menguat lebih dari 3 persen.Saham perusahaan pembangunan rumah (.SPCOMHOME) naik 1,1 persen setelah data perumahan menunjukkan pembangunan rumah keluarga tunggal dan penjualan rumah yang masih dalam proses meningkat pada bulan lalu.Saham perbankan yang sensitif terhadap suku bunga (.SPXBK) stabil setelah merosot 2,3 persen pada Rabu. Indeks tersebut mengakhiri sesi perdagangan dengan kenaikan 0,2 persen.Saham yang terkait dengan kripto menguat setelah Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) mengumumkan pengecualian selama lima tahun untuk perdagangan saham yang ditokenisasi.Saham Circle Internet Group (CRCL.N) dan Robinhood (HOOD.O) masing-masing naik 5,8 persen dan 5,2 persen. Sementara itu, Coinbase (COIN.O) menguat 5,8 persen.Saham CoreWeave (CRWV.O) turun 4,2 persen setelah mengumumkan rencana menghimpun modal melalui penawaran saham dan obligasi konversi.Saham Fluence Energy (FLNC.O) anjlok 15,4 persen setelah perusahaan menurunkan proyeksi pendapatan untuk tahun fiskal 2026.Pergerakan Saham di Bursa ASIlustrasi Nasdaq. Foto: JHVEPhoto/ShutterstockDi Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang menguat lebih banyak dibandingkan saham yang melemah dengan rasio 2,38 banding 1. Terdapat 112 saham yang mencatat level tertinggi baru dan 164 saham yang mencatat level terendah baru di NYSE.Di Nasdaq, sebanyak 3.274 saham menguat dan 1.483 saham melemah. Rasio saham yang naik dibandingkan yang turun mencapai 2,21 banding 1.S&P 500 mencatat 12 saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 20 saham yang mencatat level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat 60 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 127 saham yang mencatat level terendah baru.Volume perdagangan di bursa AS mencapai 17,57 miliar saham, dibandingkan rata-rata 15,37 miliar saham per sesi selama 20 hari perdagangan terakhir.