Kim Yo-Jong dan Kim Jong-Un Foto: Reuters/Korea Summit Press PoolKim Yo-jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, menolak seruan internasional agar Pyongyang melakukan denuklirisasi. Ia menegaskan status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir bersifat "absolut"."Posisi DPRK (Republik Rakyat Demokratik Korea Utara) sebagai negara bersenjata nuklir adalah absolut yang tidak dapat dibalikkan dengan apa pun," kata Kim Yo-jong dilansir kantor berita Korea Selatan, YonHap, Jumat (18/9). Pernyataan itu disampaikan Kim Yo-jong dalam pernyataan yang dimuat Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), Kamis (17/9). Pernyataan tersebut disampaikan saat Sidang Umum Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ke-70 berlangsung di Wina, Austria.Dalam sidang tersebut, IAEA membahas perkembangan kapasitas nuklir Korea Utara. IAEA juga menyerukan Pyongyang meninggalkan program senjata nuklir secara lengkap, dapat diverifikasi, dan tidak dapat dibatalkan, sesuai dengan kewajibannya berdasarkan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).Menjelang sidang, IAEA juga merilis laporan pengamanan nuklir mengenai Korea Utara. Laporan tersebut memaparkan peningkatan signifikan kapasitas pengayaan uranium serta perluasan fasilitas utama nuklir Pyongyang.Kim Yo-jong menyebut seruan denuklirisasi tersebut sebagai "all noises" atau sekadar kebisingan serta menyebutnya sebagai bukan hal yang baru. Rudal balistik antarbenua Hwasong-18 diluncurkan dari lokasi yang dirahasiakan di Korea Utara. Foto: KCNA/via REUTERS"Betapapun putus asanya IAEA dan Barat mengadakan pertemuan secara berkala dan berbicara tentang denuklirisasi sesuai dengan skenario yang telah ditetapkan, mereka tidak dapat memengaruhi keinginan dan kemampuan DPRK untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan guna melindungi kepentingan tertinggi negara," kata Kim Yo-jong, dilansir kantor berita YonHap, Jumat (18/9).Kim Yo-jong juga menegaskan, tak ada seorang pun yang dapat mengubah posisi Korut soal kebijakan senjata nuklir mereka."Tidak seorang pun dan tidak ada apa pun yang dapat membalikkan perubahan penting dalam kekuatan dan posisi DPRK serta mencegahnya di masa depan," kata Kim Yo-jong.