Dengan merilis ulang ‘Avengers: Endgame’, Marvel diam-diam mengakui kegagalan multiverse mereka

Wait 5 sec.

Rumor besar yang beredar selama beberapa bulan mengenai penayangan ulang film Avengers: Endgame (2019) di bioskop terjawab sudah. Kepastian tersebut dikonfirmasi melalui rencana perilisan cuplikan resmi pada 25 September 2026—tiga bulan menjelang penayangan film epik musim Natal, Avengers: Doomsday.Penayangan ulang Avengers: Endgame sangat masuk akal. Endgame merupakan puncak epik dari fase pertama Marvel Cinematic Universe (MCU) dan Infinity Saga—mencakup 23 film saling terhubung, dimulai dari Iron Man pada 2008.Iron Man, yang dibintangi oleh Robert Downey Jr., menyelamatkan Marvel dari ancaman kebangkrutan dan mengorbitkannya kembali ke arus utama budaya populer. Selain itu, Avengers: Endgame merupakan film terlaris sepanjang masa sekaligus film Marvel dengan penilaian tertinggi—yang tak bisa dikejar oleh rentetan film fase-fase berikutnya—meraih rating 94% “fresh” di Rotten Tomatoes.Di sisi lain, sebagai peneliti fandom pahlawan super, perilisan ulang ini memperlihatkan secara jelas bagaimana Marvel memandang karya-karya sinematiknya selama tujuh tahun terakhir.Awalnya, Multiverse Saga (2021–sekarang) kelanjutan Infinity Saga (2008–2019) menjanjikan potensi besar. Di dalamnya, para karakter penyintas Endgame (seperti Loki atau Doctor Strange) melanjutkan kisah mereka, diberengi dengan perluasan dunia melintasi Multiverse bersama karakter baru seperti Moon Knight dan Ironheart.Multiverse Saga juga menjanjikan pengalaman yang lebih imersif—tidak hanya lewat film layar lebar, tetapi juga serial yang menawarkan eksplorasi mendalam bagi karakter niche maupun arus utama. Tak perlu diragukan lagi, semuanya berada dalam satu kesinambungan alur cerita yang sama, sejalan dengan pendekatan penceritaan Marvel selama puluhan tahun. Cuplikan versi perbaikan terbaru untuk film ‘Avengers: Endgame’ rilisan 2019. Kekecewaan penggemarNamun, studi yang tengah saya lakukan terhadap fandom Marvel menunjukkan sambutan dingin terhadap Multiverse Saga. Ketika gelombang pertama serial televisi mulai tayang di Disney+ pada 2021, mengikuti begitu banyak karakter yang tersebar di berbagai alur cerita yang saling tumpang tindih—baik di film maupun serial TV—menjadi hal yang sangat melelahkan bagi sebagian besar penggemar.Bahkan, banyak penggemar Marvel yang saya wawancarai menyebut pengalaman menonton Multiverse Saga lebih seperti “mengerjakan pekerjaan rumah” ketimbang bersenang-senang.Yang tak kalah penting, ada pergeseran pola dalam menikmati MCU yang semula mengikuti alur cerita secara bertahap, menjadi jauh lebih terfokus. Artinya ada kecenderungan penggemar hanya mengikuti satu atau dua karakter favorit secara intens, sementara karakter lainnya diabaikan—atau paling banter hanya “dipantau” lewat Wikipedia dan forum internet.Masalah ini sebenarnya bukan hal baru dalam narasi berseri. Untungnya, Infinity Saga bisa menghindarinya.Dinamika konsumsi ini terekam jelas, baik dalam pemberitaan media maupun perolehan box office. Sejumlah judul berita utama, seperti “There is no getting back on this ride (tidak ada jalan kembali” (The Aftermath) dan “How Marvel lost its way (bagaimana Marvel kehilangan sentuhannya” (TIME), menjadi cerminan nyata dari kondisi tersebut.Dari sisi pendapatan box office, titik balik kemunduran mulai terlihat sejak penayangan The Marvels pada 2023. Hingga saat ini, beberapa film andalan dari fase Multiverse Saga bahkan nyaris tidak balik modal, seperti The Eternals (2021), Thunderbolts* (2025), dan Captain America: Brave New World (2025). Bahkan, performa sejumlah rilisan populer seperti Fantastic Four (2025) tak mencerminkan rekam jejak sukses Marvel selama ini.Performa buruk lebih dari sekadar fenomena “superhero fatigue” (kejenuhan terhadap pahlawan super). Sebab, lini bisnis Marvel lain seperti komik maupun gim video justru sedang gemilang. Bahkan film Spider-Man: Brand New Day saat ini tengah memecahkan rekor box office. Pengakuan diam-diamDalam konteks ini, penayangan ulang Avengers: Endgame dapat ditafsirkan sebagai pengakuan secara diam-diam dari Marvel atas kegagalan Multiverse Saga dengan membangkitkan kembali kenangan “masa-masa kejayaan” Infinity Saga. Cuplikan versi perbaikan terbaru untuk Avengers: Endgame. Salah satu caranya adalah dengan menampilkan kembali karakter-karakter favorit dari era Infinity Saga seperti Thor dan Steve Rogers di film Avengers: Doomsday mendatang.Penayangan ulang Endgame juga akan ditambahi adegan ekstra yang menghubungkan langsung peristiwa di Endgame dengan Doomsday. Belum lagi Robert Downey Jr.—sosok legendaris pemeran Iron Man di era Infinity Saga—secara mengejutkan dipaksa hidup kembali untuk memerankan Dr. Doom, musuh utama dalam Doomsday. Terakhir, banyak karakter baru yang diperkenalkan pada fase Multiverse Saga (seperti Moon Knight, Echo, dan Ironheart) justru absen di Doomsday.Bagi penggemar budaya pahlawan super, terputusnya kontinuitas cerita mendadak, jualan nostalgia, serta tersingkirnya rekam jejak narasi terdahulu merupakan hal yang menyedihkan tapi tidak mengejutkan. Modus serupa sudah berulang kali digunakan sejak era komik cetak, baik Marvel maupun DC (Batman, Superman).Salah satu contoh terbesar dari langkah ini adalah peristiwa Crisis on Infinite Earths pada 1985–1986 di DC Comics. Kala itu, seluruh semesta DC terdahulu mendadak dirombak total dan digantikan oleh semesta baru; sejumlah pahlawan dan musuh dimatikan, sebagian menghilang, sisanya memulai alur cerita yang benar-benar baru.Apakah Avengers: Doomsday bakal berujung pada perombakan total Marvel Cinematic Universe? Masih patut ditunggu. Namun, kehadiran Avengers: Endgame edisi penayangan ulang mengindikasikan bahwa Marvel mulai berpaling ke solusi lama yang familier: ketika semesta yang kian meluas makin sulit diarahkan, kembalilah ke momen narasi, karakter, dan dinamika hubungan yang dulu pernah membuatnya solid, lalu abaikan sisanya.Dalam konteks tersebut, tantangan Marvel menuju masa depan pasca-Doomsday bukan sekadar membuat film yang bagus seperti dulu, melainkan mengembalikan imperium medianya yang raksasa agar terasa seperti sebuah semesta yang utuh kembali.Penonton menyukai sebuah semesta dengan kepingan cerita yang saling terhubung, mengapa keterkaitan itu penting, dan mengapa mereka harus terus mengikutinya.Roman Pavlyuchenko tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.