Koleksi jaket Malam Sciaparelli yang dipamerkan. Foto: Rifina MarieDua Lipa mengenakan setelan haute couture Schiaparelli yang dibuat khusus pada hari pernikahannya. Zendaya berjalan di atas karpet merah dalam balutan koleksi runway Schiaparelli. Generasi muda sekarang boleh jadi mengenal nama Schiaparelli dari budaya pop. Tak semuanya mengenal riwayat pemilik nama yang kepiawaiannya telah dikenal sejak awal abad ke 20. Museum Victoria & Albert di London menggelar pameran besar yang tak hanya mengisahkan sejarah si empunya nama, namun juga menggaris-bawahi sepak terjang dan pengaruh perempuan yang menjadi ikon pemrakarsa mode surealis ini. Berikut catatan penting dari pameran yang digelar hingga 8 November 2026:1. Ningrat yang PemberontakWarna shocking pink, salah satu inovasi Schiaparelli. Foto: Rifina Marie“Nenekmu adalah seorang magician,” kata Yves Saint Laurent kepada model dan aktris Marissa Berenson, merujuk kepada Elsa Schiaparelli sang nenek. Bagi Berenson, Schiaparelli adalah tulang punggung keluarga yang kehadirannya sangat kuat dalam kenangan masa kecilnya. Tak suka dengan nama Elsa, sang nenek lebih menyukai panggilan Schiap. Lahir pada 1890 di istana Corsini, Roma, Schiap mewarisi darah ningrat dari ibu dan intelektual dari ayah. Sedari muda ia menolak ekspektasi seorang ningrat, baik cara berpakaian maupun perilaku. Pindah ke London di usia 23 tahun, menikah, pindah ke New York, bercerai, lalu memboyong anak perempuannya untuk memulai hidup di Paris. Di setiap fase hidup, Schiaparelli bermimpi dan menciptakan kembali hidupnya, seperti dituturkan dalam autobiographynya Shocking Life, dalam warna ciptaannya shocking pink yang kini menjadi bagian dari keseharian kita.2. Karya Pertama Sweater Motif Simpul PitaSweater trompe l'oeil. Foto: Rifina MarieBerkat dorongan dari perancang busana Paul Poiret, Schiaparelli menjadi perancang bagi Maison Lambal, sebuah rumah mode kecil di Paris. Setahun kemudian, pada Januari 1927, ia mendesain koleksi pertama di bawah label namanya sendiri berupa sweater rajutan tangan yang menampilkan pola geometris hitam dan putih. Mendapat sambutan hangat di majalah Vogue maupun kalangan Paris, ia lalu meminta seniman Armenia Aroosiag Mikaëlian untuk merajut sweater dengan desain darinya: motif simpul pita bergaya trompe l'oeil; sebuah teknik yang menggunakan imaji realistis untuk menciptakan ilusi optik tiga dimensi pada permukaan datar. Motif simpul pita tersebut meraih kesuksesan luar biasa, mengantarkannya sebagai desainer yang kemudian menciptakan karya-karya avant garde.3. Karya-karya Pendobrak BatasGaun karya Schiaparelli tahun 1939. Foto: Rifina MarieHanya dalam hitungan beberapa tahun saja, Schiaparelli menjadi salah satu desainer yang suaranya paling berpengaruh. Menyukai inovasi, ia selalu memilih jalan baru dalam berpakaian. Seperti zipper alias ritsleting yang baru mulai digunakan untuk pakaian khusus utilitarian pada 1928, dipakainya sebagai bagian dari desain high fashion. Ia juga gemar bereksperimen dengan material-material baru seperti kertas, kaca, hingga kardus. Gaun-gaun indah dan jaket-jaket untuk busana malam menjadi hal yang diburu para pelanggan dan jurnalis mode. Bisnisnya berkembang dengan 400 karyawan yang menghasilkan 7.000 garmen tiap tahunnya.4. Surealisme & Kolaborasi AbadiElsa Schiaparelli. Foto: Rifina MarieKolaborasi dengan sesama seniman menjadi tema sentral dalam perjalanan karier Schiaparelli hingga Coco Chanel pun mengoloknya, “Elsa Schiaparelli sejatinya seniman yang membuat baju.” Dari sekian banyak nama, adalah dua seniman yang secara fantastik berkolaborasi dengan Elsa Schiaparelli dalam beberapa koleksi: Salvador Dali dan Jean Cocteau. Busana kolaborasi Schiaparelli dengan Jean Cocteau. Foto: Rifina MarieSalvador Dali, seniman asal Spanyol merupakan tokoh utama surealisme yang dikenal karena gambar-gambar bernuansa mimpi yang dilukis dengan presisi sedangkan Jean Cocteau adalah seorang penulis, seniman, dan intelektual avant-garde asal Prancis yang mengaburkan batas antara modernitas dan klasisisme, serta fantasi dan realitas. Karya-karya kolaborasi dengan dua nama tersebut dipajang secara artistik dalam pameran, termasuk sketsa-sketsa asli, gambar, dan koleksi pakaian.5. Tongkat Estafet Daniel RoseberryRumah mode Schiaparelli di bawah arahan kreatif Daniel Roseeberry. Foto: Rifina MarieSatu hal lain yang menarik dari pameran ini adalah hasil karya Elsa Schiaparelli dari awal abad 20 terjalin alami dengan karya masa kini Daniel Roseberry. Rumah mode Schiaparelli di bawah arahan kreatif Daniel Roseeberry. Foto: Rifina MarieIni memungkinkan karena dalam tenggang waktu yang lama, desainer asal Amerika Serikat ini adalah satu-satunya yang meneruskan tongkat estafet direktur kreatif Maison Schiaparelli. Di tangan Roseberry, kekhasan artistik dan jiwa seni Schiaparelli tidak saja dihidupkan kembali namun berhasil menjadi kebanggaan dan penghormatan bagi dunia adibusana.