Wall Street Melemah Usai Yield Treasury AS Capai Level Tertinggi

Wait 5 sec.

Ilustrasi Wall Street. Foto: ShutterstockBursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street melanjutkan tren penurunan pada Selasa (15/9), seiring kenaikan imbal hasil Treasury AS, kekhawatiran terhadap utang yang semakin besar, serta lonjakan harga minyak mentah yang membuat investor menahan diri untuk membeli saham.Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 328,09 poin atau 0,63 persen menjadi 52.093,11. S&P 500 melemah 34,25 poin atau 0,45 persen menjadi 7.585,73, sedangkan Nasdaq Composite turun 204,84 poin atau 0,78 persen menjadi 25.981,57.Ketiga indeks saham utama AS itu melanjutkan pelemahan pada perdagangan Senin (14/9). Sentimen risk-off secara luas menekan hampir seluruh sektor, kecuali energi. Sektor energi justru mendapat dorongan dari meningkatnya perang di Timur Tengah, termasuk serangan baru terhadap infrastruktur energi Arab Saudi.“Seiring kenaikan harga bahan bakar, terutama diesel, prospek kenaikan suku bunga yang hampir pasti dimulai besok, serta kekhawatiran mengenai potensi perlambatan di ekosistem AI, mengapa harus masuk ke pasar secara agresif sebelum sebagian dari persoalan ini mereda?,” kata Presiden Chase Investment Counsel, Peter Tuz.Federal Reserve. Foto: ShutterstockFederal Reserve (The Fed) telah memulai rapat kebijakan moneter selama 2 hari yang akan berakhir pada Rabu (16/9) terkait keputusan suku bunga. Data ekonomi terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih berada dalam kondisi solid, sementara tekanan harga energi akibat perang mulai meluas menjadi inflasi yang lebih sistemik. Bank sentral AS ini diperkirakan akan menaikkan target suku bunga dana federal sebesar 25 basis poin, yang akan menjadi kenaikan suku bunga pertama dalam lebih dari tiga tahun.“Ini kemungkinan besar bukan kenaikan yang hanya terjadi sekali, melainkan serangkaian kenaikan suku bunga. Hal ini akan bergantung pada harga minyak. Minyak benar-benar menjadi sumber inflasi dan dampaknya mulai merembet ke bagian lain dari pasar,” kata penasihat kekayaan senior sekaligus ahli strategi pasar di Murphy & Sylvest, Paul Nolte.Seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga, imbal hasil obligasi global kembali naik. Imbal hasil acuan Treasury AS menembus 5 persen dan mencapai level tertinggi sejak 2007.Kenaikan suku bunga juga meningkatkan tekanan terhadap para peminjam yang memiliki utang besar, termasuk perusahaan-perusahaan yang menggelontorkan investasi besar untuk pengembangan AI.