Tasya dan Ragil, Pasangan Gen Z pemilik pabrik Tahu Gen Z di Cilebut, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2026). Foto: Widya/kumparanKepulan asap terlihat dari sebuah pabrik tahu di dekat Stasiun Cilebut, Bogor, Jawa Barat. Di tempat itu, ratusan kilogram kedelai diolah setiap hari menjadi ribuan potong tahu yang siap dijual.Adalah pasangan Gen Z, Ragil (25) dan Tasya (23) yang mengembangkan bisnis produksi tahu tersebut. Bagi Ragil, pabrik tahu bukanlah dunia yang asing. Sejak kecil, dia sudah terbiasa melihat proses pembuatan tahu hingga membantu pengiriman ke pasar.“Karena saya dari dulu tuh sebenarnya orang tua saya basic-nya usaha tahu juga. Dari kecil saya hidupnya di pabrik tahu juga,” kata Ragil saat ditemui kumparan di pabrik tahu miliknya di Cilebut, Jawa Barat, Sabtu (19/9).Kedekatan dengan dunia tahu membuat Ragil memiliki bekal untuk memulai usaha sendiri. Setelah lulus sekolah, dia memilih menekuni bisnis ini, hingga menemukan skema pemasaran yang pas.Memangkas Jalur Pasar demi Cash FlowSaat membangun usahanya, Ragil tidak sepenuhnya mengikuti pola bisnis orang tuanya. Dia memilih menjual tahu langsung kepada konsumen, tanpa melalui pasar seperti yang dilakukan keluarganya.Ragil menjelaskan keputusan itu berangkat dari persoalan perputaran modal. Dia melihat, pengiriman tahu ke pasar membutuhkan modal yang tidak sedikit karena pembayaran dari pedagang tidak selalu diterima secara langsung.“Jadi kan dulu tuh orang tua buka pabrik tahu, dia tuh pengirimannya ke pasar. Jadi kalau ke pasar tuh kita tuh harus ada tiga modal,” jelas Ragil.Toko Tahu Gen Z di Cilebut, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2026). Foto: Widya/kumparanModal tersebut mencakup biaya produksi, modal yang tertahan di pasar, dan dana untuk membeli stok barang. Kondisi itu membuat sebagian modal usaha mengendap dan mempengaruhi arus kas.Dengan memangkas jalur distribusi, Ragil berupaya menjaga harga tahu tetap kompetitif sekaligus membuat perputaran uang dalam bisnisnya lebih lancar.Terlebih, dia melihat kedelai sebagai bahan baku pembuatan tahu yang didapat dari impor, membuat harganya dipengaruhi banyak faktor. Efisiensi jalur distribusi menjadi strategi yang diambilnya.Dari Pabrik Tahu hingga Dikenal di TikTokUsaha tahu yang dijalankan Ragil di lokasi tersebut baru berusia sekitar satu tahun. Namun, popularitasnya mulai meningkat setelah dia memanfaatkan TikTok dengan akun @tahugen.z untuk memperkenalkan bisnisnya.Popularitas di media sosial juga turut membuat pembeli datang dari berbagai daerah. Ragil bahkan menyebut pernah ada konsumen dari Medan yang datang membeli tahunya.Setiap harinya, pabrik tahu Ragil mengolah sekitar 300 hingga 400 kilogram kedelai. Dari jumlah tersebut, produksi dapat mencapai sekitar 18.000 potong tahu.“(Kedelai habis) rata-rata sehari kurang lebih 300 sampai 400 kilo. 18 ribu pieces,” ujar Ragil.Tahu Gen Z di Cilebut, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2026). Foto: Widya/kumparanTahu yang diproduksi kemudian dijual langsung kepada konsumen dengan harga yang relatif terjangkau. Tahu kuning dan tahu putih dibanderol Rp 700 per potong atau Rp 10.000 untuk 15 potong. Sementara itu, oncom dijual Rp 1.000 per keping.Untuk produk tempe, harganya bervariasi mulai dari Rp 6.000 untuk tempe daun, Rp 7.000 untuk tempe super, hingga Rp 12.000 untuk tempe besar. Ada pula tahu Sumedang yang dijual Rp 800 per potong.Selain menjual tahu yang dibuat secara dadakan, toko di bagian depan pabrik yang beroperasi setiap hari, mulai dari pukul 06.00 WIB hingga 20.00 WIB tersebut, juga menyediakan produk olahan kedelai yang lain.Tasya menjelaskan harga produk olahan kedelai yang dibanderol olehnya menjadi bagian dari strategi untuk menjaga produknya tetap kompetitif, di tengah biaya produksi yang harus dihadapi.“Jadi kita bagaimana sih mikir caranya biar kasih harga yang tetap spesial ke pelanggan,” ujar Tasya.Omzet hingga Ratusan Juta Rupiah SebulanPabrik Tahu Gen Z di Cilebut, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2026). Foto: Widya/kumparanDi tengah operasional yang berjalan setiap hari tanpa libur, usaha tahu Ragil mencatat omzet sekitar Rp 10 juta hingga Rp 18 juta per hari.Angka tersebut bukan keuntungan bersih, sehingga belum menggambarkan uang yang diperoleh setelah dikurangi biaya produksi dan operasional.“Kalau omzet tuh omzet kotornya sehari itu Rp 10 sampai Rp 18 juta, per bulan berarti dikali 30 aja karena kita gak ada liburnya. Kurang lebih (Rp 400 juta per bulan),” tutur Tasya.