Stasiun Wonokromo Jejak Kolonial yang Tetap Bertahan di Tengah Pembangunan Massa

Wait 5 sec.

Stasiun Wonokromo di Jagir, Kota Surabaya yang menyimpang peninggalan kolonial Belanda. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)Saat berada di Kota Surabaya, bagi saya Stasiun Wonokromo bukan tempat yang asing. Hampir setiap hari ada orang datang dan pergi dari stasiun yang berada di Jalan Stasiun Wonokromo No. 1, Jagir, Surabaya ini.Bagi sebagian orang, Stasiun Wonokromo mungkin cuma tempat naik dan turun kereta. Datang, beli tiket, menunggu, lalu berangkat. Begitu terus setiap hari. Tapi kalau mau sedikit melihat lebih dekat, stasiun ini punya cerita yang jauh lebih panjang.Stasiun Wonokromo merupakan bagian dari jaringan perkeretaapian Staatsspoorwegen (SS) pada masa kolonial Belanda. Jaringan yang dulu dibangun untuk mendukung mobilitas dan kepentingan ekonomi kolonial itu kini dikelola PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan berada dalam naungan Daerah Operasi 8 Surabaya.Jadi, ketika kamu naik kereta dari Stasiun Wonokromo, sebenarnya kamu sedang menggunakan jalur yang punya sejarah panjang sejak zaman kolonial.Bermula dari Jalur Kolonial, Jadi Jalur Mobilitas angkutan MassalKereta api sejak dulu memang bukan sekadar alat transportasi. Pada masa kolonial, keberadaan jalur kereta punya peran penting dalam menghubungkan berbagai kawasan. Orang bisa berpindah, barang bisa dikirim, dan aktivitas ekonomi menjadi lebih mudah bergerak.Wonokromo sendiri punya posisi strategis karena berada di kawasan Surabaya. Tidak mengherankan kalau wilayah ini kemudian berkembang menjadi salah satu titik penting dalam jaringan transportasi kota. Kini lokasi ini fungsinya semakin terasa. Setiap hari Stasiun Wonokromo melayani masyarakat yang bepergian menggunakan kereta. Ada yang berangkat kerja, pulang kampung, pergi sekolah, atau sekadar melakukan perjalanan ke wilayah lain.Dulu kereta menjadi bagian dari sistem transportasi kolonial. Sekarang kereta menjadi bagian dari rutinitas masyarakat. Jalurnya tetap bergerak, hanya orang-orang dan zamannya yang berganti.Wonokromo dalam Kisah Bumi ManusiaAda satu hal yang membuat saya selalu memiliki kesan sentimentil ketika melewati kawasan Wonokromo yang terasa lebih menarik. Sebab lokasi ini muncul dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Di dalam novel tersebut, Wonokromo digambarkan sebagai kawasan pinggiran Surabaya yang menjadi tempat tinggal keluarga Mellema.Di sana berdiri Boerderij Buitenzorg, rumah sekaligus perusahaan pertanian dan peternakan milik Herman Mellema dan Nyai Ontosoroh. Jadi, Wonokromo bukan cuma punya cerita soal kereta api.Kawasan ini juga masuk ke dalam cerita sastra Indonesia. Agak menarik memang. Tempat yang hari ini dipenuhi penumpang kereta, kendaraan, dan aktivitas kota ternyata pernah menjadi latar dalam salah satu karya sastra Indonesia yang terkenal.Kalau biasanya saya membaca Bumi Manusia sambil membayangkan tempat-tempat yang diceritakan, sekarang saya bisa menceritakan salah satu dari kawasan ini. Stasiun Wonokromo yang dikenal dalam wajah yang jauh berbeda dari dulu kala. Kini meski zamannya sudah berubah. Tapi namanya masih tinggal dan penuh cerita yang berkelindan.Peron Stasiun Wonokromo di Jagir, Kota Surabaya berbahan kayu masih tetap dipertahankan sebagai cagar budaya. (Foto. Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)Bangunan Lama, Ceritanya Tetap TerjagaHal lain yang membuat Stasiun Wonokromo menarik bagi saya adalah statusnya sebagai bangunan cagar budaya. Pemerintah Kota Surabaya menetapkan stasiun ini sebagai salah satu bangunan bersejarah yang perlu dilestarikan. Alasannya tentu bukan cuma karena usianya. Arsitektur klasik, struktur bangunan, hingga beberapa artefak yang masih tersisa menjadi bagian dari jejak panjang perjalanan perkeretaapian di Jawa Timur.Bahkan saat kunjungan saya ke sana, beberapa elemen lama juga masih bisa ditemukan. Bentuk bangunan, ornamen lama di peron, hingga lokasi persinyalan yang sudah ada sejak era kolonial menjadi pengingat bahwa stasiun ini bukan bangunan yang baru muncul kemarin sore. Memang sudah banyak renovasi dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan transportasi modern.Namun perubahan itu tidak mengubah struktur aslinya. Saya akui stasiun harus tetap bisa melayani penumpang dengan nyaman. Tetapi modernisasi tidak selalu berarti harus menghapus semua jejak masa lalu. Di Stasiun Wonokromo, keduanya justru bisa berjalan beriringan.Stasiun Sibuk, Sejarah Tak LarutSaat saya singgah di Stasiun ini, yang saya suka dari adalah pertemuan antara dua zaman yang masih kental bisa dirasakan. Di satu sisi, ada kebutuhan modern. Penumpang membutuhkan akses yang cepat, pelayanan yang nyaman, dan transportasi yang bisa diandalkan.Di sisi lain, ada bangunan dan elemen lama yang menyimpan cerita dan kini jadi cagar budaya. Sebagian penumpang mungkin datang ke stasiun karena ingin pergi ke suatu tempat. Tetapi tanpa sadar, kita sedang berada di bangunan yang telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Surabaya selama puluhan bahkan lebih dari satu abad.Coba sesekali, tidak ada salahnya berhenti sebentar dan memperhatikan bangunan di sekitar stasiun ini. Sebab sejarah kadang tidak hadir dalam bentuk museum yang sunyi. Ia bisa hadir di tempat yang ramai, di antara suara roda kereta, pengumuman keberangkatan, dan orang-orang yang sedang terburu-buru.Cerita Lama, Perjalanan yang Melewati ZamannyaStasiun Wonokromo sampai sekarang masih menjadi salah satu nadi transportasi penting bagi masyarakat Surabaya. Fungsinya memang terus berkembang mengikuti zaman. Tetapi keberadaan bangunan dan jejak masa lalunya membuat stasiun ini punya nilai lebih dari sekadar tempat transit.Dulu ia menjadi bagian dari jaringan Staatsspoorwegen milik pemerintah kolonial Belanda. Sekarang ia berada di bawah pengelolaan PT KAI dan melayani kebutuhan masyarakat Indonesia. Dulu kereta menjadi alat untuk menghubungkan wilayah dan kepentingan ekonomi kolonial.Sekarang kereta menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk bekerja, belajar, bepergian, dan pulang. Mungkin itulah menariknya Stasiun Wonokromo. Bangunannya boleh direnovasi. Pelayanannya boleh dimodernisasi. Penumpangnya terus berganti. Tetapi jejak sejarahnya tetap ada. Jadi, kalau suatu hari kamu berada di Stasiun Wonokromo, jangan cuma menunggu kereta. Lihat kembali bangunannya.Siapa tahu, di antara suara kereta yang datang dan pergi, kamu sedang berdiri di salah satu potongan sejarah panjang Kota Surabaya.