PISA 2025: Paradoks antara keinginan belajar dan kompetensi akademis

Wait 5 sec.

● Sikap dan motivasi belajar siswa Indonesia tinggi, tetapi kompetensi akademis dasar mereka masih rendah.● Ini terjadi karena pembelajaran belum mendalam, tugas sebatas rutinitas, dan AI belum dipakai secara kritis.● Perlu penguatan pertimbangan profesional guru agar modal motivasi siswa bisa diubah menjadi kemampuan bernalar.Ada paradoks menarik dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. Proporsi siswa Indonesia di bawah ambang kecakapan dasar (Level 2) masih sangat tinggi: 83% dalam matematika, 73% dalam membaca, dan 63% dalam sains.Namun, PISA juga mengungkap kabar gembira karena sekitar 80% siswa Indonesia menyatakan memiliki rasa ingin tahu tinggi, dibandingkan rata-rata negara anggota OECD (73%). Sebanyak 74% di antaranya tetap berusaha keras saat menghadapi tugas sulit, dan 90% tak ragu meminta bantuan guru ketika mengalami kesulitan.Data ini memberikan pesan penting: banyak siswa datang ke sekolah dengan modal belajar yang relatif positif. Namun, mengapa modal belajar tersebut tidak serta merta berubah menjadi kompetensi akademis?Untuk memahami persoalan ini, kita perlu memetakan empat penyebabnya. Baca juga: Hasil PISA 2025 dan potret seperempat abad reformasi pendidikan 1. Modal belajar tidak otomatis menjadi pemahamanAdanya rasa ingin tahu dan kegigihan adalah modal awal yang baik tapi tidak serta-merta bisa mengoptimalkan kemampuan nalar atau pemahaman konseptual siswa. Sebab, motivasi tinggi yang tidak dikombinasikan dengan pengalaman belajar yang menantang secara kognitif tak menjamin pemahaman mendalam siswa.Keinginan belajar memerlukan perencanaan alur pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi.Siswa yang berminat belajar pecahan, misalnya, bisa saja rajin mengerjakan latihan, dan aktif bertanya. Pada akhirnya dia bisa menjawab ½ + ¼ = ¾. Namun, apakah dia dapat menjelaskan mengapa jawabannya demikian, menggambarkannya secara visual, atau menggunakan konsep tersebut untuk memecahkan masalah dalam situasi yang berbeda?Rajin belajar dan mampu mengikuti prosedur belum tentu menghasilkan pemahaman yang dapat digunakan untuk bernalar dan memecahkan masalah.2. Dukungan guru belum efektifData PISA 2025 menunjukkan 82% siswa menyatakan bahwa guru memberi perhatian pada proses belajar (ilmu sains) mereka. Para guru, yang juga diamini oleh 85% murid, bahkan terus mengajar hingga siswa berhasil memahami materi. Angka ini sebenarnya bisa membantah argumen terkait rendahnya kualitas pendidikan semata-mata karena guru kurang peduli dan minim usaha. Yang perlu dikritisi adalah apakah perhatian tersebut efektif dalam konteks pendidikan (pedagogis).Penelitian tentang professional noticing menunjukkan bahwa pengajaran yang responsif menuntut guru tidak hanya memperhatikan strategi atau kesalahan siswa, tetapi juga menafsirkan pemahaman yang mendasarinya dan menentukan respons berdasarkan interpretasi tersebut.Misalnya, ketika seorang siswa menjawab ½ + ¼ = 2/6, guru dapat langsung mengatakan bahwa jawabannya salah dan menunjukkan prosedur dan jawaban yang benar. Namun, guru dengan pertimbangan profesional yang kuat akan terlebih dahulu mencari tahu mengapa siswa menjumlahkan pembilang dan penyebut secara langsung. Sebagai langkah lanjutan, guru dapat memilih pertanyaan, gambar, atau aktivitas yang membantu siswa memahami mengapa pecahan dengan penyebut berbeda perlu direpresentasikan menggunakan unit pecahan yang sama sebelum dapat dijumlahkan.Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa pemberian bantuan pun perlu terarah. Tanpa pertimbangan profesional (professional judgement) yang kuat, bantuan yang diberikan dengan niat baik belum tentu menyasar sumber kesulitan belajar siswa atau mengembangkan pemikiran matematis mereka. Baca juga: Skor siswa Indonesia dalam penilaian global PISA melorot, kualitas guru dan disparitas mutu penyebab utama 3. Sibuk belajar bukan berarti pendalaman pembelajaranAktivitas pembelajaran di Indonesia sering kali sekadar rutinitas: menghadiri kelas, mendengarkan, bertanya, dan menyelesaikan tugas atau lembar kerja. Siswa mungkin rajin bertanya dan menyelesaikan berbagai tugas, tetapi sebenarnya, mereka membutuhkan rangsangan dan tantangan lebih untuk memecahkan masalah. Siswa pun perlu mengevaluasi informasi dan menerapkan pengetahuan dalam situasi baru.PISA tidak mengukur seberapa sibuk siswa mengerjakan tugas, melainkan sejauh mana kemampuan nalar, transfer pengetahuan, dan menerapkannya pada situasi baru.Misalnya, siswa mungkin mampu mengerjakan puluhan soal yang meminta mereka menghitung persentase atau besar diskon. Namun, ketika dihadapkan pada dua (atau lebih) pilihan promosi, mereka perlu menentukan mana yang lebih menguntungkan dan menjelaskan alasan matematis di balik keputusan tersebut. Tugas seperti ini tidak hanya meminta siswa menggunakan rumus, tetapi juga memilih strategi, membandingkan hasil, dan memberikan alasan atas jawabannya. Inilah perbedaan antara sekadar sibuk mengerjakan tugas dan benar-benar terlibat dalam proses berpikir. Banyaknya aktivitas belajar memang penting. Namun, aktivitas yang memicu proses berpikir berkualitas itulah yang menentukan seberapa jauh siswa membangun kompetensi.4. Tantangan di era AIDi era artificial intelligence (AI) ini sebanyak 53% siswa Indonesia menggunakan chatbot AI cukup intens—lebih tinggi daripada rata-rata OECD (46%).Padahal kemudahan memperoleh jawaban tidak serta-merta menghasilkan pemahaman. Karena itu, siswa perlu belajar mengevaluasi luaran AI secara kritis. Partisipasi guru pun dituntut bukan untuk sekadar menyediakan materi, tetapi menilai apakah luaran AI akurat, relevan dengan kebutuhan siswa, dan memastikan teknologi memperdalam proses berpikir siswa, bukan menggantikannya. Baca juga: AI makin jago berhitung, guru perlu ajarkan matematika secara kritis Salah satu investasi terpenting bagi pendidikan Indonesia di era AI adalah memperkuat pertimbangan profesional guru (professional judgement) dalam memahami cara berpikir siswa, mengidentifikasi kebutuhan belajar mereka, dan menentukan respons pembelajaran yang paling tepat.Kemauan belajar adalah modal berhargaAnalisis PISA 2018 telah menyoroti kurangnya persiapan pembelajaran dan belum optimalnya pemahaman terhadap kebutuhan siswa. Analisis PISA 2022 juga menunjukkan bahwa beban kerja guru yang besar dan tidak seimbang dengan jumlah siswa, terutama di daerah terpencil, dapat membatasi efektivitas pembelajaran. Baca juga: Fakta lain dari data PISA 2022: kesenjangan pendidikan antara desa dan kota di Indonesia Karena itu, PISA 2025 seharusnya jadi titik landasan baru pengembangan pendidikan nasional. Ada modal penting bernilai tambah tinggi: banyak siswa Indonesia memiliki rasa ingin tahu, menghargai sekolah, dan bersedia berusaha ketika menghadapi kesulitan. Tantangan sistem pendidikan adalah mengubah modal belajar tersebut menjadi pembelajaran yang mendalam dan, pada akhirnya, kompetensi akademis.Sitti Maesuri Patahuddin tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.