Korsleting Listrik Picu Kebakaran Rumah di Surabaya, Ini Cara Mencegahnya

Wait 5 sec.

Kebakaran rumah di Jalan Simorejo XVI No 4, Kelurahan Simomulyo, Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya, Minggu (13/9/2026). Foto: DPKP SurabayaDua anak meninggal dunia, Kaffa Bihi Abdillah (7) dan Khotibul Umam (5), akibat terbakar di Surabaya, Jawa Timur. Kebakaran tersebut diduga dipicu oleh korsleting listrik.“Korsleting listrik, exhaust dan kipas kamar yang terbakar lalu merambat ke kasur,” kata M. Rokhim dikutip dari kumparan, Minggu (13/9).Saat ditemukan, kedua korban berada di dalam kamar yang diduga terkunci dari luar menggunakan rantai. Petugas pemadam kebakaran tiba sekitar enam menit setelah laporan diterima dan melakukan pembasahan di lokasi.Ya Moms, peristiwa ini menjadi pengingat bagi orang tua untuk lebih memerhatikan keamanan listrik di rumah. Anak juga perlu dikenalkan dengan kebiasaan sederhana untuk mencegah kebakaran serta cara bertahan jika terjebak di dalam rumah.Cek Perangkat Listrik di RumahIlustrasi Kipas Angin Foto: ShutterstockInisiator dan pendiri SafeKids Indonesia (SKI), Wahyu Minarto atau dikenal dengan panggilan Paman Bilie, mengingatkan pentingnya mengecek kelistrikan di rumah.“Pastikan perangkat elektronik dan kabel yang digunakan masih dalam kondisi baik. Saat meninggalkan rumah, jangan biarkan perangkat elektronik tetap tertancap pada sumber listrik,” katanya pada kumparanMOM, Kamis (17/9).Kebiasaan tersebut juga dapat dikenalkan kepada anak sesuai usia dan kemampuannya, seperti mencabut perangkat listrik setelah digunakan.Cara Bertahan Jika Terjadi KebakaranIlustrasi Kebakaran. Foto: ShutterstockJika muncul kobaran api dan tidak dapat menyelamatkan diri, usahakan bertahan sampai bantuan datang atau api padam.Dalam situasi ini, Paman Billie mengajarkan untuk menerapkan hal berikut:1. Posisikan tubuh serendah mungkin untuk mencari oksigen2. ⁠Tutup celah pintu agar asap tidak masuk“Jika memungkinkan, buka jendela atau buat celah agar udara masuk dan asap keluar. Tutup mulut serta hidung menggunakan kain, dan bila memungkinkan basahi kain tersebut,” jelasnya.Saat pintu tidak bisa digunakan, jendela dapat menjadi salah satu akses keluar darurat. Karena itu, penggunaan teralis juga perlu dipertimbangkan agar tidak menghambat proses penyelamatan.“Jadi, perlu dikaji kembali apakah jendela yang dilengkapi teralis justru memiliki risiko keamanan yang lebih tinggi dibandingkan risiko keselamatan. Jika rescue tidak dapat dilakukan, fokuslah pada survival sampai bantuan datang,”tutupnya.