Ekspansi Data Center AI di AS Picu Perlawanan Warga

Wait 5 sec.

Ilustrasi Data Center. Foto: Gorodenkoff/ShutterstockPembangunan data center berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini tengah menghadapi gelombang penolakan keras dari berbagai komunitas lokal di Amerika Serikat. Meskipun para pelaku industri menjanjikan pembukaan lapangan kerja baru dan pertumbuhan ekonomi yang masif, sebagian besar warga lokal menentang keras proyek tersebut karena mengkhawatirkan dampak buruk lingkungan serta krisis energi yang membayangi kawasan pemukiman mereka.Penolakan ini terasa sangat intens di wilayah-wilayah urban yang memiliki sejarah panjang sebagai kawasan industri berat, salah satunya adalah pemukiman Grays Ferry di South Philadelphia, Pennsylvania. Warga di kawasan ini enggan mengulangi sejarah kelam pencemaran udara setelah puluhan tahun hidup berdampingan dengan kilang minyak terbesar di Pantai Timur Amerika Serikat yang baru ditutup pada 2019 lalu setelah mengalami insiden ledakan besar.Trauma Polusi Industri Masa LaluShawmar Pitts, salah satu direktur organisasi lingkungan Philly Thrive, menceritakan bagaimana warga Grays Ferry bergulat dengan penyakit kronis akibat polusi dari kilang minyak di masa lalu. Pitts menyadari bahwa banyak anggota keluarganya yang menderita penyakit pernapasan akut akibat emisi industri tersebut, sebuah trauma fisik dan psikologis yang membuat warga sangat skeptis terhadap proyek industri baru. Pitts mengenang bagaimana ia menyadari dampak buruk industri tersebut setelah membaca selebaran dari kelompok advokasi lingkungan."Saya membaca informasi tentang bagaimana hidup dekat dengan kilang minyak memengaruhi kesehatan Anda, dan saya melihat daftar penyakit di kertas itu, lalu berpikir, ‘Ibu saya menderita ini, saudara perempuan saya mengalami itu, tetangga sebelah rumah saya menderita penyakit ini’ —hampir di setiap rumah, seseorang mengidap penyakit yang ada di daftar tersebut," ujarnya, mengutip TechCrunch.Ilustrasi pusat data. Foto: Gorodenkoff/ShutterstockKekhawatiran serupa disuarakan oleh Ketua Philly Thrive, Sonya Sanders, yang kehilangan suaminya akibat kanker tulang langka pada tahun 2020. Sanders meyakini polusi udara dari kawasan industri menjadi penyebab utama kematian suaminya yang tidak pernah merokok ataupun mengonsumsi alkohol."Di mata saya, mereka membunuhnya," ungkap Sanders dalam sebuah aksi unjuk rasa di Balai Kota Philadelphia. "Polusi yang membunuhnya. Saya yakin dia masih akan berada di sini hari ini jika tidak dibunuh secara perlahan, karena pengejaran keuntungan korporasi lah yang membunuhnya."Ancaman Nyata Konsumsi Energi dan EmisiMeskipun dampak lingkungan langsung dari sebuah data center artificial intelligence tidak sekotor kilang minyak mentah, kebutuhan energinya yang sangat luar biasa menjadi ancaman baru bagi iklim global. Lembaga BloombergNEF memproyeksikan bahwa, konsumsi gas alam oleh fasilitas data center di Amerika Serikat akan melampaui gabungan konsumsi Jerman dan Jepang pada 2035. Kebutuhan energi yang melonjak drastis ini diperkirakan akan menyumbang tambahan emisi gas rumah kaca sebesar 1 juta metrik ton setiap harinya.Penggunaan generator diesel cadangan pada pusat data juga menjadi sorotan tajam para aktivis lingkungan. Annie Fox, seorang pengacara dari Clean Air Council, menjelaskan bahwa sebuah pusat data standar di Pennsylvania umumnya dilengkapi dengan ratusan mesin diesel berkapasitas besar."Pusat data standar yang direncanakan di Pennsylvania memiliki ratusan mesin diesel yang menyemburkan polusi udara, dan meskipun mesin tersebut seharusnya hanya digunakan untuk keadaan darurat, pemerintah telah menyatakan bahwa pusat data harus menggunakannya daripada menyerap listrik dari jaringan yang sudah kelebihan beban selama gelombang panas," jelas Fox.Hal ini diprediksi akan mempercepat laju perubahan iklim yang membuat gelombang panas semakin sering terjadi.Ilustrasi Data Center. Foto: Gorodenkoff/ShutterstockGelombang Moratorium dan Kebijakan PembatasanTekanan dari aksi protes warga mulai memaksa para pejabat publik di berbagai negara bagian Amerika Serikat untuk mengambil tindakan preventif. Gubernur New York, Kathy Hochul, telah menandatangani perintah eksekutif yang membatasi sementara pemberian izin proyek-proyek industri skala besar."Kemajuan tidak boleh datang bersamaan dengan lonjakan tagihan utilitas, menipisnya pasokan air, atau polusi suara," tegas Hochul, seraya menambahkan bahwa data center hanya boleh dibangun di tempat-tempat yang memang menginginkan kehadiran fasilitas tersebut.Selain New York, beberapa kota besar seperti Denver, Indianapolis, Asheville, Charlotte, dan Reno juga telah memberlakukan kebijakan moratorium terhadap pembangunan data center baru. Langkah penangguhan ini diambil guna memberikan waktu bagi pemerintah daerah untuk mengkaji secara komprehensif dampak lingkungan. Donna Greenberg, seorang warga yang turut serta dalam aksi unjuk rasa, menyampaikan kecemasannya."Saya mengkhawatirkan polusi. Saya khawatir tentang pengawasan dan fakta bahwa mereka akan memiliki akses ke informasi yang tidak seharusnya mereka ketahui, dan saya cemas mereka akan menggunakan air dan listrik yang merampas hak masyarakat serta lingkungan yang membutuhkannya."