Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Perkebunan Kementan Heru Tri Widarto saat memberikan keterangan di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Selasa (15/9/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparanKementerian Pertanian (Kementan) memastikan stok beras nasional aman untuk kebutuhan hingga 10 bulan ke depan meski sejumlah wilayah Indonesia tengah dilanda kekeringan.Plt Dirjen Perkebunan Kementan Heru Tri Widarto mengatakan ketersediaan beras ditopang oleh produksi dari lahan pertanian yang masih dalam masa tanam hingga stok beras di Bulog dan rumah tangga.“Untuk 10 bulan ke depan itu stoknya aman, karena di standing crop ada 3,8 juta hektare, setara kurang lebih 10 juta ton beras,” kata Heru saat memaparkan perkembangan harian penanganan bencana di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Selasa (15/9).Heru menambahkan, stok beras yang berada di hotel, restoran, kafe (horeka) dan rumah tangga berada di kisaran 10 juta ton. Sementara stok beras di Bulog mencapai 4,6 juta ton.“Sehingga untuk 10 bulan ke depan kita masih cukup dan aman untuk beras,” ujarnya.Produksi Beras 2026 Capai 38,6 Juta TonIlustrasi beras Foto: Shutter StockHeru menyebut produksi beras Indonesia pada 2026-2027 diproyeksikan mencapai 38,6 juta ton. Angka tersebut meningkat sekitar 0,20 persen dibandingkan produksi sebelumnya yang berada di angka 38,5 juta ton.Menurut Heru, capaian produksi tersebut terjadi meski Indonesia menghadapi El Nino yang cukup kuat.“Indonesia meskipun di tengah El Nino yang cukup kuat ini, justru meningkat produksi berasnya. Naik sekitar 0,20 persen dari tahun lalu, dari 38,5 menjadi 38,6 juta ton,” katanya.Dengan produksi tersebut, Heru menyebut Indonesia berada di peringkat keempat dunia setelah India, China, dan Bangladesh, serta menjadi negara dengan produksi beras tertinggi di ASEAN.Heru mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah optimistis kebutuhan pangan nasional tetap terjaga di tengah kekeringan.Ribuan Pompa Air Disiapkan Antisipasi KekeringanKementan juga menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga produksi pertanian di wilayah yang terdampak kekeringan. Salah satunya dengan mengerahkan bantuan alat dan mesin pertanian, termasuk pompa air serta sistem irigasi perpompaan.Heru mengatakan pemerintah telah memetakan wilayah yang rawan kekeringan. Dari pemetaan tersebut, bantuan pompa dan irigasi diarahkan ke wilayah yang mengalami keterbatasan air.“Yang tidak cukup hujannya berarti mengoptimalkan bantuan-bantuan pompa maupun irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, yang kesemuanya itu adalah untuk melakukan gerakan percepatan tanam,” ujarnya.Heru menyebut bantuan alat mesin pertanian telah disiapkan sejak 2024 hingga 2026. Untuk pompa air saja, kata Heru, Kementan mencatat sebanyak 137.573 unit telah diberikan.Selain pompa, bantuan tersebut mencakup 12.098 traktor roda empat, 6.317 traktor crawler, 69.457 hand sprayer, 5.981 rice transplanter, dan 26.909 traktor roda dua.Heru mengatakan alat-alat tersebut dapat dipindahkan dari satu wilayah pertanian ke wilayah lainnya sesuai kebutuhan.“Jadi, alsin yang kami bantukan kepada masyarakat itu juga bisa bersifat mobile, pindah dari satu wilayah pertanaman ke wilayah lain dalam satu daerah,” katanya.