25 Merek Beras Fortifikasi Bermasalah, Ini Cara Memilihnya agar Tak Salah Beli

Wait 5 sec.

Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman ungkap 25 merek beras fortifikasi bermasalah yang tidak sesuai standar SNI, ditarik dari peredaran, dicabut izinnya, dan diproses hukum di Jakarta, Selasa (15/9/2026). Foto: Dok. KementanBelakangan ini, beras fortifikasi tengah ramai diperbincangkan setelah pemerintah menemukan 25 merek yang kandungan gizi dan mutunya tidak sesuai dengan yang tercantum pada label.Temuan tersebut didapat setelah dilakukan pengawasan dan pengujian sampel di laboratorium. Produk yang bermasalah kemudian dihentikan produksinya, ditarik dari peredaran, hingga dicabut izin edarnya.Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, mengatakan ketidaksesuaian ditemukan antara kandungan fortifikasi yang tercantum pada label dan hasil pemeriksaan laboratorium.“Setelah kita cek di laboratorium, ternyata tidak sesuai dengan labelnya. Ini yang kita tindak,” ujar Amran, Selasa (15/9).Lantas, sebenarnya apa itu beras fortifikasi dan apa manfaatnya bagi tubuh?Apa Itu Beras Fortifikasi?Ilustrasi beras Foto: Shutter StockMenurut ahli gizi, Tri Mutiara Ramdani, S.Gz, M.Sc, beras fortifikasi pada dasarnya merupakan beras biasa yang ditambahkan zat gizi mikro esensial menggunakan teknologi fortifikasi.Penambahan zat gizi tersebut bisa dilakukan karena zat gizi tertentu hilang selama proses pengolahan dan perlu dikembalikan. Fortifikasi juga dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi tertentu di suatu wilayah.“Beras fortifikasi itu beras biasa, tapi dia sudah ditambahkan zat gizi mikro yang esensial, yang dinilai memang dibutuhkan dengan teknologi modern,” jelas Tara pada kumparanMOM, Jumat (18/9).Jenis zat gizi yang ditambahkan bisa berbeda, tergantung kebutuhan atau masalah kekurangan gizi yang ingin ditangani di suatu wilayah. Beberapa di antaranya adalah:Zat besiAsam folatVitamin BZincVitamin AVitamin DTara menjelaskan, produk ini dirancang untuk membantu menurunkan angka kekurangan gizi di suatu wilayah.Misalnya, ketika suatu wilayah memiliki masalah anemia, beras dapat difortifikasi dengan zat besi untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi tersebut.“Fortifikasi juga dapat memberikan manfaat bagi kelompok tertentu, seperti ibu hamil dan remaja putri yang membutuhkan zat besi. Selain itu, zat gizi seperti zat besi dan vitamin B juga dapat menjadi bagian dari dukungan pemenuhan gizi untuk membantu mencegah stunting,” jelasnya.Beras menjadi salah satu komoditas pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Karena itu, penambahan zat gizi melalui beras dapat membantu pemenuhan gizi apabila dikonsumsi secara rutin.Meski begitu, Tara mengingatkan bahwa produk ini bukan pengganti pola makan bergizi seimbang. Kebutuhan zat gizi tetap perlu dipenuhi dari berbagai jenis makanan lainnya.Apakah Beras Fortifikasi Mengubah Rasa dan Bentuk Beras?Ilustrasi beras Jepang Foto: dok.shutterstockMenurut Tara, proses fortifikasi seharusnya tidak mengubah rasa, aroma, maupun bentuk fisik beras.“Karena itu, perubahan kondisi beras atau nasi tidak serta-merta bisa dikaitkan dengan proses tersebut. Kondisinya juga dapat dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti penyimpanan, kelembapan udara, kontaminasi, hingga kondisi nasi ketika sudah matang,” katanya.Jadi, jika menemukan perubahan pada beras atau nasi, perlu melihat faktor lainnya dan tidak langsung menganggap perubahan tersebut disebabkan oleh proses fortifikasi, ya, Moms. Tara juga menyarankan agar konsumen tidak hanya melihat tulisan “fortifikasi” di bagian depan kemasan. Beberapa hal berikut juga perlu diperhatikan: 1. Cek informasi nilai giziPastikan zat gizi yang ditambahkan tercantum dengan jelas, termasuk jumlahnya per sajian.2. Lihat komposisinyaJangan hanya mengandalkan klaim yang tertera di bagian depan kemasan. Perhatikan juga komposisi dan kandungan yang tercantum secara keseluruhan.3. Perhatikan SNI dan izin edarLegalitas produk juga penting. Pastikan produk yang dibeli memiliki SNI dan izin edar yang sesuai.4. Periksa kondisi fisik beras dan kemasanJika tersedia tester, konsumen juga bisa melihat kondisi fisik beras sebelum membeli. Kondisi kemasan juga perlu diperhatikan.