• Warga Sebesi mengembangkan kesiagaan bencana lewat pengamatan indera langsung.• Memori bencana membangun kebiasaan dan budaya bersiaga masyarakat setempat.• Keterikatan pada ruang hidup membuat warga sekitar gunung api rela berdampingan dengan risiko.Erupsi Anak Krakatau mungkin memantik satu kesimpulan dalam pikiran banyak orang: bahaya. Namun, bagi 2.700-an penduduk pulau Sebesi (Lampung), Anak Krakatau tak terpisahkan dari kehidupan mereka selama bertahun-tahun, bahkan lintas generasi. Mereka mendiami pulau yang hanya berjarak 20 km di sebelah utara gunung api yang terus tumbuh dan berubah itu. Peta pulau Sebesi yang berdekatan dengan gunung Anak Krakatau. (TCID), CC BY Ada kabar yang menarik perhatian saya di tengah riuhnya berita erupsi. Seorang warga menyampaikan pesan WhatsApp kepada saya bahwa ada penduduk Sebesi pergi ke arah Teluk Baru di sebelah selatan pulau. Mereka menonton apa yang mereka sebut sebagai “irupsi Krakatau” dari kejauhan. Bagi orang luar, pemandangan seperti ini mungkin terasa ganjil. Bukankah gunung sedang erupsi? Mengapa justru ditonton? Apakah mereka tidak takut? Sementara bagi saya yang mempelajari sejarah pergulatan warga Sebesi dengan aktivitas Anak Krakatau, jawaban ini justru menandai budaya mereka yang bersiaga terhadap bencana.Bersiaga lewat inderaPenduduk Sebesi menonton “live” erupsi Anak Krakatau setelah mendengar suara dentuman.Warga sudah mendengar dentuman sejak Jumat, 4 September, menjelang dini hari. Namun, esok paginya, suara dentuman dari selatan semakin jelas dan sering. Warga Sebesi kemudian mengenalinya sebagai gelegar Anak Krakatau—bukan suara lain seperti petir.Menurut penuturan Hayun, warga dusun Bangunan Desa Tejang Pulau Sebesi, petir atau kilat menghasilkan suara menggelegar yang panjang. Sementara dentuman Krakatau terdengar seperti letupan meriam: diawali suara seperti tarikan, lalu disusul dentuman keras—"krekkekrekkrekkkekekek… dooom…“—kemudian kembali senyap, sebelum suara serupa terdengar lagi beberapa saat kemudian. Setelah "menonton” erupsi, warga Sebesi bersiaga hingga malam hari. Warga menggelar ronda dengan sistem jaga bergantian.Semua orang bersiaga penuh memantau erupsi ataupun tsunami. Grup WhatsApp jadi wadah untuk saling berbagi pantauan kondisi terkini. Tak sedikit pula yang tidur di luar rumah.Hayun, misalnya, pada pagi itu mengabarkan ibu dan adiknya yang tinggal di dusun berbeda untuk waspada: “Krakatau irupsi, ati-ati.”Pesan itu langsung mengena di hati warga Sebesi agar mereka segera mempersiapkan diri terhadap dampak aktivitas Anak Krakatau.Pasang surut memori bencanaCerita di atas menandai budaya risiko masyarakat Sebesi yang hidup bertetangga dengan gunung api. Dan budaya semacam ini tidak terbangun dalam semalam. Lukisan pulau Sebesi yang dibuat sekitar tahun 1880, tiga tahun sebelum letusan besar gunung Krakatau di selat Sunda. (Eigen Haard/Wikimedia Commons), CC BY Sejarah mencatat pulau Sebesi mengalami dampak dahsyat dari letusan dan tsunami Krakatau 1883. Koran Javabode menceritakan pulau Sebesi tertutup lumpur setebal 6 meter dan batu apung besar berserakan di sepanjang pantainya.Sejak letusan itu, Pulau Sebesi menjadi pulau tak berpenghuni hingga pada 1920-an orang-orang kembali mendatangi untuk mengambil hasil panen mereka. Kisah letusan Krakatau 1883 itu memang ibarat legenda semata, bagi generasi muda. Sebab, ia hanya hadir hanya melalui cerita orang tua, pengetahuan lokal, sekolah, arsip, atau berita.Namun, Tsunami Selat Sunda 2018 seperti reka ulang letusan 1883. Gelombang pasang akibat runtuhnya sebagian tubuh Anak Krakatau itu menerjang pulau-pulau di sekitar selat Sunda, termasuk Sebesi. Dampak tsunami terhadap pulau Sebesi. Peristiwa itu menjadi pengalaman langsung bagi masyarakat. Tsunami setinggi sepuluh meter menyapu hampir seratus rumah-rumah penduduk dan menewaskan seorang anak. Hampir seluruh warga mencari selamat di gunung Sebesi di sebelah barat daya pulau.Menariknya, horor bencana itu tidak otomatis membuat penduduk Sebesi menghindari Anak Krakatau. Memori erupsi justru masuk ke dalam kehidupan. Penduduk Sebesi—yang mayoritasnya adalah petani—menjadi lebih bersiaga saat mencium aroma belerang yang kuat, turunnya hujan abu, ataupun saat ombak terlihat lebih tinggi dari biasanya. Baca juga: Cerita warga pulau kecil Mensemut: Menolak pindah meski terancam tenggelam Saya kerap mendengar ungkapan sederhana dari warga:“Jangan tidur lelap-lelap kalau (Anak) Krakatau sedang aktif.”Kalimat itu selalu keluar saat saya bertanya bagaimana jika krakatau sedang erupsi? Hal menunjukkan bahwa pengetahuan risiko telah berubah menjadi kebiasaan. Sehidup semati dengan SebesiMemahami masyarakat Pulau Sebesi mungkin tidak cukup hanya dengan bertanya: seberapa besar risiko yang mereka hadapi? Kita juga perlu bertanya: Bagaimana mereka belajar hidup dengan risiko itu?Pertanyaan tersebut membawa kita dari sekadar kerentanan menuju sesuatu yang lebih manusiawi: pengalaman, ingatan, kebiasaan, dan hubungan manusia dengan ruang hidup.Anak Krakatau telah menjadi bagian dari identitas mereka. Itulah sebabnya pemandangan warga yang menonton “irupsi Krakatau” tidak harus dibaca sebagai ketidakpedulian atau bahkan dicap sebagai tindakan bodoh. Dan ronda malam tidak harus menjadi sinyal kepanikan. Keduanya dapat hadir bersamaan. Dan ketika seseorang sudah begitu lama hidup bersama suatu tempat, hubungan itu menjadi jauh lebih rumit dari perasaan takut ataupun tidak takut. Cerita serupa dapat kita temukan di desa Laingpatehi, permukiman yang hanya berjarak 1 km dari kawah gunung Ruang, Sulawesi Utara. Warga desa pun memiliki keterikatan dengan gunung api, dengan adanya kearifan adat untuk mengenali tanda-tanda erupsi dan langkah evakuasinya.Setelah erupsi gunung Ruang 2024 yang mengosongkan desa sekitar, sebagian warga tetap kembali. Ini menunjukkan bahwa pengalaman bencana tidak serta-merta memutus keterikatan mereka dengan tempat yang menjadi sumber penghidupan, ingatan, dan kehidupan sosial. Bagi warga Laingpatehi maupun Sebesi, mendiami suatu tempat tak hanya tinggal di dalam rumahnya. Mereka hidup bersama gunung api—dengan segala keindahan, penghidupan, ingatan, dan risikonya. Baca juga: Tsunami Aceh: Bagaimana monumen bencana membantu kita mengingat, sekaligus melupakan bencana Devi Riskianingrum menerima dana dari Beasiswa SAINTEK dari Kemenristekdikti 2018-2022