Harga Minyak Stabil, Investor Pantau Risiko Pasokan di Timur Tengah

Wait 5 sec.

Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: JHVEPhoto/ShutterstockHarga minyak dunia cenderung stabil setelah mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut. Pelaku pasar masih mencermati risiko gangguan pasokan di Timur Tengah serta upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.Mengutip Bloomberg, Senin (21/9), minyak mentah Brent berada di kisaran USD 104 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di bawah USD 100 per barel.Risiko geopolitik kembali meningkat setelah Arab Saudi mengeluarkan peringatan serangan udara untuk wilayah Riyadh pada akhir pekan lalu. Ini menjadi peringatan pertama di ibu kota Saudi sejak puncak perang AS-Iran pada Maret dan April. Peringatan serupa juga dikeluarkan untuk sejumlah wilayah di sekitar Laut Merah, termasuk Yanbu.Sebelumnya, Arab Saudi menghadapi ancaman serangan dari kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa dirinya kemungkinan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pekan ini. Trump juga dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dan berpotensi melakukan pertemuan dengan sejumlah negara di kawasan Teluk Persia.Sementara itu, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani mengatakan komunikasi antara AS dan Iran masih berlangsung melalui pertukaran pesan. Qatar menjadi salah satu negara yang berperan sebagai mediator dalam konflik tersebut.Harga minyak telah melonjak sepanjang tahun ini setelah perang mengganggu pengiriman energi melalui Selat Hormuz. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute utama yang menghubungkan kawasan Teluk dengan pasar energi global.Komandan Komando Pusat AS (US Central Command), Laksamana Brad Cooper, mengatakan arus pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz kini berada pada level tertinggi dalam enam bulan terakhir.Pelaku pasar juga menunggu perkembangan terkait upaya Arab Saudi memulihkan operasional pipa East-West. Pipa tersebut membentang melintasi Arab Saudi hingga ke Laut Merah yang mengalami kerusakan akibat serangan pada awal bulan ini.Gangguan tersebut berdampak pada pasokan minyak Saudi. Saudi Aramco bahkan telah memberi tahu sejumlah pelanggan perusahaan penyulingan di Eropa bahwa mereka tidak akan mendapatkan alokasi minyak mentah pada bulan depan berdasarkan kontrak jangka panjang.Di sisi lain, Moscow Oil Refinery di Rusia turut menjadi sasaran serangan pesawat nirawak dalam rangkaian serangan Ukraina yang disebut sebagai salah satu serangan terbesar dalam semalam sepanjang tahun ini.Ukraina dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia. Kondisi tersebut turut memperketat pasokan bahan bakar di pasar global, terutama untuk diesel.Konflik gabungan di Timur Tengah dan Eropa secara bersamaan meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara karena kenaikan harga energi. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang menaikkan suku bunga pada pekan lalu.Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari mengatakan inflasi masih terlalu tinggi. Menurutnya, tekanan inflasi kini telah meluas dan tidak hanya berasal dari kenaikan harga minyak.