Ilustrasi badai matahari Foto: NASA/commons wikimediaPara peneliti usul membuat sebuah sistem satelit baru bernama StormWall yang dirancang untuk melindungi Bumi dari dampak paling buruk badai Matahari berkekuatan super (solar superstorm).Konsep inovatif ini pada dasarnya menciptakan semacam airbag raksasa di depan Bumi yang diyakini mampu mengurangi kerusakan hingga triliunan dolar dan dinilai cukup realistis untuk diwujudkan.Dalam beberapa tahun terakhir, Bumi terus dihantam puluhan badai Matahari seiring memasuki fase paling aktif dalam siklus 11 tahunan Matahari, yang dikenal sebagai solar maximum. Fenomena ini umumnya dipicu oleh lontaran awan plasma raksasa atau coronal mass ejection (CME), yang sering kali muncul setelah ledakan dahsyat di permukaan Matahari yang disebut solar flare.Badai-badai tersebut kerap menghasilkan aurora yang indah di langit, tetapi dampaknya tidak selalu menguntungkan. Sekitar sekali dalam seabad, Matahari dapat memuntahkan badai super yang kekuatannya berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan CME biasa. Salah satu contohnya adalah Peristiwa Carrington pada 1859.Apabila badai serupa menghantam Bumi saat ini, dampaknya diperkirakan sangat menghancurkan. Seluruh satelit yang mengorbit Bumi berpotensi rusak, astronaut bisa terpapar radiasi mematikan, jaringan listrik lumpuh, bahkan internet global dapat terganggu.Saat ini, satu-satunya cara menghadapi badai Matahari adalah meningkatkan kemampuan memprediksi kedatangannya serta memperkuat satelit dan infrastruktur di Bumi agar mampu bertahan.Namun, studi terbaru yang diterbitkan pada 2 Juni di jurnal Space Weather menawarkan pendekatan yang jauh lebih efektif. Dalam penelitian tersebut, ilmuwan mengusulkan peluncuran enam satelit berukuran sebesar bus ke orbit geostasioner pada ketinggian sekitar 36.000 kilometer di atas permukaan Bumi. Posisi ini jauh lebih tinggi dibandingkan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) maupun sebagian besar satelit lainnya.Satelit-satelit itu akan bersiaga menunggu datangnya badai Matahari besar. Ketika ancaman terdeteksi, satelit akan melepaskan tabung-tabung berisi gas reaktif di sekitar tepi medan magnet Bumi atau magnetosfer, sehingga membentuk dinding plasma raksasa yang berfungsi sebagai bantalan sekaligus pengalih hantaman CME.Ilustrasi satelit. Foto: SCIEPRO via Getty ImagesSimulasi yang dilakukan tim peneliti menunjukkan bahwa dinding plasma tersebut mampu mengurangi intensitas badai super hingga lebih dari 50 persen.Perlindungan ini memang tidak sepenuhnya menghilangkan dampak badai, tetapi cukup untuk mencegah skenario terburuk. Fisikawan antariksa dari University of Michigan yang juga merupakan salah satu penulis studi, Daniel Welling, mengibaratkan sistem ini seperti kantung udara pada mobil."Seolah-olah kita memasang airbag di dalam magnetosfer," ujarnya sebagaimana dikutip Live Science.Karena saat ini manusia belum memiliki teknologi untuk benar-benar melindungi diri dari badai Matahari, para peneliti menilai sistem semacam ini perlu segera dikembangkan."Ini seperti penduduk desa yang melihat sungai akan meluap. Mereka mungkin bisa memprediksi kapan banjir datang, tetapi akan jauh lebih baik jika mereka membangun tanggul. Itulah yang kami usulkan," kata Brian Walsh, penulis utama studi sekaligus pakar cuaca antariksa dari Boston University.Bedanya, lanjut Walsh, tanggul ini akan melindungi seluruh penduduk Bumi.Konsep StormWall sendiri sebenarnya meniru mekanisme pertahanan alami Bumi. Saat CME menghantam Bumi, magnetosfer akan melemah sementara dalam fenomena yang disebut gangguan geomagnetik. Kondisi ini memungkinkan radiasi Matahari masuk ke atmosfer atas dan memicu aurora.Namun pada saat yang sama, ion oksigen naik ke magnetosfer dan berkumpul di sisi Bumi yang menghadap Matahari. Gelembung ion tersebut secara alami membantu mengurangi paparan radiasi selama magnetosfer sedang melemah.StormWall dirancang untuk menciptakan lapisan pelindung itu bahkan sebelum badai tiba sehingga gangguan geomagnetiknya tidak berkembang terlalu besar.Caranya, satelit akan melepaskan gas reaktif, seperti barium, litium, natrium, atau kalsium, dengan jumlah setara muatan sekitar selusin truk tangki minyak ke magnetosfer.Gas tersebut kemudian terionisasi oleh sinar Matahari dan membentuk penghalang plasma besar yang mampu menahan sekaligus membelokkan CME agar melewati sisi Bumi.Satelit yang mengorbit Bumi dapat terlempar keluar dari angkasa selama badai matahari karena peningkatan hambatan dari atmosfer planet kita yang mengembang. Foto: ESA/NASA–T.Pesquet)Untuk menguji efektivitas StormWall, tim peneliti mensimulasikan bagaimana sistem tersebut bekerja jika diterapkan pada badai Matahari Mei 2024, yang juga dikenal sebagai Mother's Day Storm.Saat itu, serangkaian CME menghantam Bumi secara beruntun dan memicu gangguan geomagnetik terkuat sejak 2003. Hasil simulasi menunjukkan StormWall dapat menurunkan intensitas gangguan geomagnetik hingga 84 persen."Ketika fisika yang sangat serius diterapkan pada konsep ini, ternyata memang berhasil," kata Walsh. "Jumlah material yang dibutuhkan maupun kemampuan peluncurannya semuanya masih berada dalam kapasitas teknologi yang kita miliki."Menariknya, jumlah gas yang diperlukan ternyata relatif kecil. Menurut SpaceWeather.com, total massa gas yang dilepaskan hanya sekitar sepersejuta dari massa sebuah CME biasa, tetapi mampu memangkas kekuatan badai hingga setengahnya.Tantangan: Biaya dan Dampak LingkunganMeski menjanjikan, StormWall masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah potensi dampak lingkungan antariksa. Seperti proyek geoengineering lainnya, konsep ini dikhawatirkan dapat memicu konsekuensi yang tidak diinginkan.Meski demikian, para peneliti yakin gas yang telah terionisasi tidak akan memberikan dampak permanen terhadap magnetosfer maupun atmosfer atas Bumi. Setelah digunakan, dinding plasma diperkirakan akan cepat menghilang dan terdorong menjauh oleh angin Matahari.Tantangan lain adalah biaya. Karena membawa tabung gas berukuran sangat besar, satelit StormWall diperkirakan menjadi salah satu wahana antariksa terberat yang pernah diluncurkan. Pengirimannya ke orbit geostasioner kemungkinan membutuhkan roket raksasa seperti SpaceX Starship.Meski analisis biaya belum selesai dilakukan, proyek ini diperkirakan menelan dana miliaran dolar. Namun, menurut para peneliti, biaya tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan potensi kerugian akibat badai Matahari besar.Sebagai contoh, badai Matahari pada Mei 2024 saja diperkirakan menyebabkan kerugian sekitar 500 juta dolar AS bagi petani di Amerika Serikat akibat gangguan sistem GPS. Sementara itu, badai sekelas Peristiwa Carrington diperkirakan dapat menimbulkan kerugian ekonomi hingga 3,4 triliun dolar AS.StormWall juga bukan solusi permanen. Setelah tabung gas habis digunakan, satelit harus diisi ulang atau diganti sepenuhnya, yang tentu membutuhkan biaya tambahan besar. Meski masih menghadapi berbagai tantangan, sejumlah ilmuwan yang tidak terlibat dalam penelitian menilai StormWall merupakan gagasan yang realistis.Fisikawan antariksa dari University of Iowa, Allison Jaynes, mengatakan proposal tersebut sangat inovatif dan tampak cukup memungkinkan untuk diwujudkan dalam waktu dekat.Sementara Kepala Divisi Heliofisika NASA Goddard Space Flight Center, David Sibeck, menilai proyek seperti ini layak dipertimbangkan karena hingga kini belum ada alternatif perlindungan yang lebih baik."Kalau saya tahu badai Matahari besar yang terjadi sekali dalam 100 tahun akan datang dan berpotensi melumpuhkan jaringan listrik, saya pasti ingin sistem seperti ini tersedia," ujarnya.