Sumber: Gemini AI”Mbak, poinnya nambah ya. Struknya mau dibawa atau enggak?”Kalimat itu hampir selalu terdengar setiap kali aku selesai belanja di minimarket. Tanpa berpikir panjang, aku sering menjawab, “Enggak usah, Mbak.” Struk langsung dibuang, belanjaan masuk tas, lalu pulang. Rasanya biasa saja.Sampai suatu hari, aku sedang mengantre di belakang seorang bapak yang membeli beberapa kebutuhan rumah tangga. Setelah membayar, beliau justru memeriksa struk belanja dengan cukup teliti. Bukan menghitung harga barang, melainkan melihat rincian pajak yang tercantum di bagian bawah struk. Setelah itu, beliau melipat struk tersebut dan menyimpannya di dompet.Saat itu aku sempat bertanya dalam hati, “Memangnya sepenting itu ya?” Peristiwa sederhana itu membuatku sadar bahwa selama ini banyak dari kita hanya fokus pada nominal yang harus dibayar, tetapi hampir tidak pernah memperhatikan bagaimana transaksi itu dicatat. Kita sibuk mengumpulkan poin belanja, berburu cashback, atau mencari diskon, tetapi lupa melihat bagian kecil yang sebenarnya menyimpan informasi penting tentang pajak.Padahal, setiap transaksi yang tercatat bukan hanya menjadi bukti bahwa kita telah membeli suatu barang. Di balik selembar struk itu terdapat jejak administrasi yang berkaitan dengan sistem perpajakan. Sayangnya, kesadaran masyarakat terhadap hal ini masih sangat rendah karena struk dianggap hanya secarik kertas yang akan berakhir di tempat sampah.Inilah sisi perpajakan yang menurutku jarang dibahas. Selama ini pembahasan pajak selalu identik dengan tarif, aturan baru, atau kewajiban wajib pajak. Padahal, persoalan yang lebih dekat justru berada di depan mata, yaitu budaya masyarakat yang belum peduli terhadap bukti transaksi.Padahal, jika dipikirkan lebih jauh, kebiasaan mengabaikan struk secara tidak langsung juga membuat kita kehilangan kesempatan untuk menjadi konsumen yang lebih kritis. Ketika ada kesalahan harga, barang yang tidak sesuai, atau bahkan transaksi yang bermasalah, struk menjadi bukti utama. Dalam konteks perpajakan, bukti transaksi juga menunjukkan bahwa penjualan dilakukan secara resmi dan tercatat.Ironisnya, masyarakat Indonesia terkenal sangat teliti ketika menghitung diskon. Selisih seribu rupiah saja bisa dipertanyakan kepada kasir. Namun ketika berbicara mengenai rincian pajak dalam transaksi, kebanyakan dari kita memilih tidak peduli. Seolah-olah selama barang sudah diterima, urusan administrasi bukan lagi tanggung jawab pembeli.Padahal, negara dengan sistem perpajakan yang baik bukan hanya dibangun oleh pemerintah atau pelaku usaha. Budaya masyarakat juga memiliki peran penting. Konsumen yang terbiasa meminta atau menyimpan bukti transaksi ikut mendorong terciptanya transaksi yang lebih tertib, transparan, dan terdokumentasi.Kesadaran seperti ini memang terdengar sederhana, bahkan mungkin sepele. Namun perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan kecil. Sama seperti kita mulai terbiasa membawa tas belanja sendiri demi mengurangi sampah plastik, budaya memperhatikan bukti transaksi juga dapat menjadi bagian dari literasi perpajakan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.Menurutku, edukasi mengenai pajak selama ini terlalu sering disampaikan melalui istilah-istilah yang rumit. Akibatnya, masyarakat merasa pajak hanyalah urusan pegawai kantor, pengusaha, atau akuntan. Padahal, setiap orang yang berbelanja juga berinteraksi dengan sistem perpajakan, meskipun dalam skala yang sederhana.Mungkin sudah waktunya cara mengenalkan pajak kepada masyarakat diubah. Bukan selalu dimulai dari seminar atau sosialisasi yang penuh istilah teknis, tetapi dari kebiasaan sehari-hari yang mudah dipahami. Misalnya, mengajak masyarakat membaca struk belanja, memahami informasi yang tertera di dalamnya, lalu menyadari bahwa setiap transaksi memiliki peran dalam membangun sistem yang lebih tertib.Pada akhirnya, aku jadi tidak lagi menganggap struk sebagai kertas yang tidak berguna. Sekarang, sesekali aku membacanya sebelum menyimpan atau membuangnya. Bukan karena ingin terlihat paham soal pajak, melainkan karena aku mulai sadar bahwa menjadi warga negara yang peduli ternyata bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana.Mungkin perubahan besar dalam perpajakan memang membutuhkan kebijakan yang baik. Namun, perubahan budaya juga sama pentingnya. Dan siapa sangka, langkah kecil itu bisa dimulai dari satu pertanyaan sederhana di depan kasir.“Struknya mau dibawa atau enggak?” Mungkin mulai hari ini, jawabannya tidak selalu “enggak usah.”