Gambir Disiapkan Kembali Layani KRL, KAI Tata Layanan KJJ Lebih Dulu

Wait 5 sec.

Sebanyak 13 KA Jarak Jauh keberangkatan Stasiun Gambir difasilitasi berhenti di Stasiun Jatinegara guna mengantisipasi kepadatan Konser Akbar Monas, Sabtu (18/7/2026). Foto: Dok. KAI Daop 1 JakartaPT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI menyiapkan pengembangan Stasiun Gambir agar ke depan dapat kembali melayani perjalanan kereta rel listrik (Commuter Line /KRL). Rencana tersebut akan dilakukan secara bertahap setelah penataan layanan kereta jarak jauh (KAJJ) yang saat ini beroperasi di Stasiun Gambir. “Untuk stasiun Gambir, di dalam 2 tahun itu akan ada schedule, ini sedang disiapkan, tetapi yang terutama dulu adalah kereta jarak jauhnya diberesin dulu, habis itu melakukan pembangunan KRL,” kata Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba saat Jumpa Pers KAI di Stasiun BNI City, Jumat (4/9). Anne menjelaskan persiapan renovasi Stasiun Gambir masih mencakup sejumlah aspek, mulai dari keselamatan, infrastruktur, administrasi, keuangan, hingga teknis. Dalam hal ini, KAI juga akan berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan. Dalam hal ini, KAI juga perlu memastikan pekerjaan yang dilakukan tidak mengganggu layanan sekaligus memberikan informasi kepada masyarakat mengenai perubahan yang mungkin terjadi selama proses pembangunan.Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba saat Jumpa Pers KAI di Stasiun BNI City, Jakarta, Jumat (4/9/2026). Foto: Nur Pangesti/kumparan“Nanti mungkin kalau sudah ready timeline-nya bisa kita share ke publik, ya, untuk persiapan-persiapan karena area stasiun ini pasti akan crowd, terhadap layanan dan kita pasti akan lakukan sosialisasi dan edukasi bagaimana nanti layanan di Gambir dan pekerjaan apa yang sedang dilakukan,” ujarnya. Anne menyebut pengembangan Stasiun Gambir merupakan bagian dari Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2026-2030. Langkah tersebut dilakukan seiring dengan pertumbuhan jumlah pengguna kereta api yang terus meningkat lebih dari 140 juta penumpang dalam 10 tahun terakhir. Pengembangan Stasiun Gambir juga tidak terlepas dari rencana integrasi dengan moda transportasi, salah satunya yaitu akan terkoneksinya dengan MRT Jakarta. Hal ini juga sejalan dengan rencana KAI untuk mengoperasikan kembali KRL di Stasiun Gambir. “Sehingga dengan adanya MRT, integrasi antarmoda, kami memprediksi Gambir juga menjadi hak mobilisasi masyarakat di Jabodetabek, khususnya Jakarta. Sehingga kami harus menyiapkan untuk proyeksi stasiun ini 10-20 tahun ke depan,” ujarnya.Suasana di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (5/8/2025). Foto: Nasywa Athifah/kumparanKAI berharap investasi untuk pengembangan Stasiun Gambir dapat dilakukan dengan skema tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hal ini sejalan dengan upaya perseroan untuk meningkatkan kontribusi pendapatan dari pemanfaatan aset.Anne menjelaskan, KAI saat ini masih mengandalkan bisnis angkutan sebagai sumber utama pendapatan, dengan sekitar 90 persen pendapatan berasal dari tarif angkutan. Sementara itu, kontribusi pendapatan dari aset masih di bawah 10 persen.Berdasarkan benchmark dengan sejumlah operator perkeretaapian di Jepang dan Eropa, pendapatan dari pemanfaatan aset bisa menyumbang sekitar 40 hingga 50 persen dari total pendapatan. “Sehingga kami mencoba memonetize aset kami untuk juga memberi kontribusi kinerja. Salah satunya melalui stasiun Gambir,” jelas Anne.