Garis putih terlihat membentang di lereng Gunung Merapi pada Sabtu (5/9/2026) pagi. Foto: Dok. BPPTKGGaris putih terlihat membentang di lereng Gunung Merapi pada Sabtu (5/9) pagi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menjelaskan, fenomena tersebut merupakan endapan debu yang terbawa angin kencang dari kawasan Merapi."Pagi ini 5 September 2026 sekitar pukul 06.20 WIB kecepatan angin di Stasiun Labuhan (lereng selatan) rata-rata 59 km/jam sedangkan Stasiun Jurangjero (lereng barat daya) rata-rata 35 km/jam dominan mengarah dari timur ke barat," jelas BPPTKG dalam keterangan resminya."Dampak dari kejadian ini endapan debu terbawa oleh angin kencang," jelasnya.Aktivitas Gunung MerapiSementara itu pantauan BPPTKG periode Jumat (4/9) pukul 00.00 sampai 24.00 WIB, teramati empat kali guguran lava."Teramati 4 kali guguran lava ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter," jelasnya.Kemudian, pada periode pengamatan Sabtu (5/9) pukul 00.00 sampai 06.00 WIB, teramati delapan kali guguran lava."Teramati 8 kali guguran lava ke arah barat daya (Kali Sat/Putih, Kali Krasak) dengan jarak luncur maksimum 1.700 meter," katanya.Gunung Merapi sampai saat ini masih berstatus level III atau Siaga.Potensi bahaya dari status ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya yaitu Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak dan Bebeng sejauh maksimal 7 km.Lalu, pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.Apabila terjadi letusan eksplosif maka lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.