Warga mengenakan masker di Tempat Pelelangan Ikan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Minggu (6/9/2026). Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTOSebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau terdeteksi di sejumlah wilayah Jakarta, Lampung, dan sekitarnya pada Minggu (6/9).Dokter Spesialis Paru dari Siloam Hospitals Mampang, dr. Wulandini, Sp.P, mengatakan abu vulkanik terdiri dari campuran mineral, batu, serta partikel-partikel kecil lainnya. Jika masuk ke saluran pernapasan, partikel tersebut dapat menyebabkan iritasi.“Debu vulkanik merupakan campuran dari mineral, batu ataupun partikel kecil-kecil lainnya sehingga saat terhirup bisa menyebabkan iritasi pada saluran napas,” kata Wulandini saat dihubungi kumparan, Minggu (6/9).Menurutnya, gejala yang muncul setelah menghirup abu vulkanik dapat berawal dari keluhan ringan. Beberapa di antaranya yakni rasa gatal pada hidung, batuk, hingga nyeri tenggorokan.Namun, paparan abu vulkanik juga dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan yang lebih serius. Salah satu gejala yang perlu diperhatikan adalah sesak napas.“Gejala awal yang biasa muncul adalah rasa gatal pada hidung, batuk, nyeri tenggorokan dan bisa berkembang sampai sesak napas,” ujarnya.Wulandini menjelaskan, kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan akibat paparan abu vulkanik. Mereka di antaranya penderita alergi, pasien asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), ibu hamil, lansia, serta balita.Ia menambahkan, gangguan saluran pernapasan tidak hanya dapat terjadi akibat paparan dalam jangka panjang. Paparan dalam waktu singkat juga berpotensi menimbulkan masalah, terutama apabila konsentrasi partikel abu vulkanik yang terhirup cukup besar.“Paparan dalam jangka pendek juga dapat menyebabkan gangguan saluran napas terutama jika konsentrasi partikel yang terhirup cukup besar,” jelasnya.Untuk mengurangi risiko terpapar abu vulkanik, Wulandini menganjurkan masyarakat menggunakan masker yang mampu menyaring partikel secara efektif.“Masker N95 lebih dianjurkan dalam kondisi ini karena dapat menyaring partikel lebih efektif,” katanya.Selain menggunakan masker, masyarakat juga disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah selama abu vulkanik masih terdeteksi. Imbauan tersebut terutama berlaku bagi kelompok rentan.“Pengurangan aktivitas di luar rumah sangat dianjurkan dalam kondisi ini terutama bagi kelompok yang rentan,” tutur Wulandini.Bagi warga yang sudah terpapar abu vulkanik, menjaga kondisi tubuh juga menjadi hal penting. Wulandini menyarankan masyarakat menjaga asupan nutrisi, beristirahat cukup, dan memperbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi.Masyarakat juga dapat rutin melakukan cuci hidung untuk membantu menjaga kebersihan saluran pernapasan setelah terpapar.“Menjaga daya tahan tubuh sangat diutamakan, bisa dengan menjaga nutrisi, istirahat yang cukup dan jangan lupa minum air putih untuk mencegah dehidrasi, termasuk rutin mencuci hidung,” jelasnya.Jika setelah terpapar abu vulkanik muncul keluhan pernapasan yang semakin berat, Wulandini meminta warga segera mendapatkan pemeriksaan medis.“Segera konsultasi ke dokter terdekat jika muncul gangguan saluran napas yang semakin memberat setiap harinya,” pungkasnya.