Tetap Cari Nafkah di Tengah Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau

Wait 5 sec.

Eky Ardiyansyah, pengemudi ojol saat ditemui kumparan di Sudirman, Jakarta, Minggu (6/9/2026). Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparanSebaran abu vulkanik di wilayah Jakarta dan sekitarnya turut dirasakan oleh warga yang tetap beraktivitas di luar rumah. Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) dan pedagang keliling mengaku terdampak, mulai dari kendaraan dan peralatan yang dipenuhi debu hingga kondisi fisik yang terasa kurang nyaman.Salah satunya Eky Ardiansyah, pengemudi ojol yang berdomisili di Jakarta Barat. Ia mengaku merasakan dampak abu vulkanik saat beraktivitas pada Minggu pagi.Menurut Eky, debu cukup cepat menempel di motornya meski kendaraan tersebut hanya ditinggalkan sebentar. Debu bahkan menutupi bagian depan hingga belakang motor.“Tadi pagi sih lumayan terdampak ya karena saya tinggal motor sebentar aja tuh debunya segala macam udah nempel di motor, sampai semuanya gitu dari depan sampai belakang,” kata Eky saat ditemui kumparan.Karena kondisi tersebut, Eky memilih membersihkan motornya terlebih dahulu sebelum kembali menarik penumpang. Ia mengatakan, motor cukup dibersihkan menggunakan air, lap, dan sedikit sabun.Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Pandeglang, Banten, Minggu 6/9/2026). Foto: kumparanSelain kendaraan, Eky juga mengaku merasakan ketidaknyamanan saat berada di jalan. Ia sempat menggunakan masker, tetapi merasa kurang nyaman ketika memakainya terlalu lama.“Iya lumayan sih karena tadi pagi saya kan sering keluar pagi aja, jadinya berasa juga sih untuk sesaknya sama debunya tuh banyak banget di jalanan,” ujarnya.Eky mengatakan, dampak abu vulkanik juga dirasakan selama perjalanan dari rumah menuju kawasan Sudirman. Menurutnya, kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas warga yang biasanya menggunakan jasa ojol.Ia mengaku pendapatannya pada Minggu pagi terasa menurun karena sejumlah orang memilih tidak keluar rumah.“Tadi pagi beberapa orang banyak yang nggak naik Gojek, nggak keluar juga kan. Nah menurut saya sih lumayan ya karena mungkin hari Minggu. Nggak tahu kalau misalkan hari biasa tuh parah banget sih,” kata Eky.Pedagang Keliling Juga Ikut TerdampakHolis, pedagang minuman keliling saat ditemui kumparan di Sudirman, Jakarta, Minggu (6/9/2026). Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparanDampak serupa dirasakan Holis, pedagang minuman keliling. Ia mengaku peralatan dan gerobak jualannya menjadi lebih berdebu sejak Minggu pagi.Holis mengatakan, debu bahkan tetap terasa ketika ia hanya berdiam di satu lokasi. Karena itu, ia harus lebih sering membersihkan bagian atas gerobak dan peralatan dagangannya.“Kena, Kak. Ini kayak misalkan peralatan semua jadi banyak debunya, terus juga di atas gerobak ada debunya juga, harus sering lap-lap,” kata Holis.Tak hanya mengganggu kebersihan gerobak, Holis juga mengaku matanya terasa perih hingga memerah. Ia pun menggunakan kacamata untuk mengurangi paparan debu yang berterbangan.“Kena mata juga sih sampai merah perih,” ujarnya.Abu vulkanik juga turut berdampak pada aktivitas penjualan Holis. Ia mengatakan, jumlah pembeli berkurang karena banyak orang memilih tidak keluar rumah.Menurut Holis, situasi tersebut semakin terasa ketika kegiatan car free day (CFD) dibubarkan lebih awal. Ia menyebut CFD yang seharusnya berlangsung hingga pukul 10.00 WIB, saat itu dibubarkan pada pukul 09.00 WIB.“Kena, Kak, jadi kurang, sepi orang. Karena tadi aja pas CFD itu dibubarin jam sembilan yang harusnya jam sepuluh jadi jam sembilan,” kata Holis.Meski begitu, Holis tetap berusaha berjualan dengan lebih sering membersihkan gerobak dan peralatannya. Ia mengatakan, tisu yang digunakan untuk mengelap bahkan sampai berubah warna menjadi hitam karena debu.Pengalaman Eky dan Holis menunjukkan bahwa dampak abu vulkanik tidak hanya dirasakan oleh warga yang beraktivitas untuk olahraga atau rekreasi, tetapi juga oleh mereka yang harus tetap bekerja di luar rumah.