Presiden FIFA Gianni Infantino. Foto: Giorgio Viera/AFPHubungan antara dua badan sepak bola terbesar di dunia, FIFA dan UEFA, kini memasuki babak baru yang kian memanas setelah FIFA secara terbuka menuduh konfederasi sepak bola Eropa tersebut melancarkan kampanye hitam untuk menjatuhkan Presiden Gianni Infantino. Ketegangan ini memuncak seiring langkah hukum yang diambil UEFA di pengadilan Amerika Serikat guna mendesak transparansi terkait rencana investasi triliunan rupiah yang kontroversial.UEFA dituding sengaja memanfaatkan jalur hukum formal hanya sebagai alat propaganda politik guna mendesak Infantino mundur dari jabatannya menjelang pemilihan presiden FIFA pada Maret mendatang. Di sisi lain, FIFA bersikeras bahwa manuver hukum UEFA di pengadilan New York tidak memiliki landasan hukum yang kuat dan hanya berfungsi sebagai rilis pers yang dikemas dalam dokumen pengadilan.Saling Jegal di Meja Hijau Amerika SerikatPerseteruan ini secara resmi berpindah ke ranah hukum setelah UEFA mengajukan tuntutan di pengadilan Amerika Serikat untuk meminta keterbukaan dokumen terkait rencana pembentukan anak perusahaan Piala Dunia bernilai 20 milar dolar AS. Melalui langkah hukum ini, UEFA bahkan mengancam akan memulai proses pidana terhadap Infantino di Swiss, tempat markas besar FIFA berada.Menanggapi gugatan tersebut, tim hukum FIFA mengajukan pembelaan resmi di pengadilan Distrik Selatan New York dengan menyebut aksi UEFA bermotif politik. Perwakilan hukum FIFA menyatakan, “Permohonan UEFA memiliki cacat mendasar: UEFA mencari pengumpulan bukti untuk membantu proses pidana asing yang sebenarnya tidak ada dan UEFA sendiri mengakui tidak memiliki wewenang untuk memulainya.”Polemik Proyek FFE dan Tuduhan MonopoliInti dari perselisihan ini adalah proyek FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah rencana ambisius untuk menjual sebagian hak Piala Dunia kepada investor swasta yang diproyeksikan menghasilkan dana segar. Mantan penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro, sempat mengundurkan diri setelah menyebut kesepakatan tersebut sebagai kesepakatan yang buruk bagi perkembangan sepak bola global.Presiden AS Donald Trump (kiri) berjabat tangan dengan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez di samping Presiden FIFA Gianni Infantino (kedua dari kiri), Raja Spanyol Felipe VI (tengah), dan Ratu Spanyol Letizia pada 19 Juli 2026. Foto: Franck Fife / AFPMeskipun dokumen internal menunjukkan adanya rencana untuk menerima investasi awal hingga 4,2 miliar dolar AS, FIFA berdalih bahwa rencana tersebut barulah sebatas proposal yang masih membutuhkan persetujuan dari asosiasi anggota dan dewan penasihat. FIFA menilai UEFA sengaja membesar-besarkan masalah ini demi melindungi kepentingan ekonomi turnamen elite mereka sendiri, seperti Liga Champions.Tudingan Hambat Negara BerkembangDalam dokumen pembelaannya, FIFA secara tajam menyerang motivasi ekonomi UEFA yang dianggap egois dan antipersaingan global. FIFA mengeklaim bahwa UEFA sengaja menjegal proyek FFE agar negara-negara kecil di luar Eropa tetap berada di bawah bayang-bayang kekuatan finansial klub raksasa Benua Biru.“Motivasi ekonomi UEFA adalah untuk mencegah negara-negara kecil memiliki kekuatan finansial untuk bersaing dengan elite Eropa,” tulis dokumen resmi FIFA tersebut. Menurut FIFA, jika dana FFE dapat disalurkan untuk membangun infrastruktur di negara berkembang, talenta lokal akan lebih memilih bertahan di liga domestik mereka daripada hijrah ke luar negeri, yang pada akhirnya akan mereduksi dominasi pasar UEFA di kancah sepak bola internasional.