Vice President Economist Permatabank Josua Pardede. Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparanPemerintah menetapkan target inflasi sebesar 2,5 persen ± 1 persen pada 2026. Target tersebut dinilai masih realistis untuk dipertahankan meski ruang pengaman inflasi mulai menyempit seiring meningkatnya risiko dari fenomena El Nino, tingginya harga energi, serta potensi gangguan pasokan pangan pada kuartal IV.Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan posisi awal inflasi juga masih cukup aman. Inflasi Agustus tercatat 3,19 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan Juli yang sebesar 2,88 persen.Sementara itu, inflasi inti relatif stabil di level 2,92 persen, sedangkan inflasi pangan bergejolak atau volatile food kembali meningkat menjadi 4,06 persen dari 2,52 persen pada bulan sebelumnya.“Skenario dasar kami sebelum dampak El Nino sepenuhnya terlihat menempatkan inflasi akhir 2026 sekitar 3,13 persen, sehingga masih berada di bawah batas atas 3,5 persen,” kata Josua saat dihubungi kumparan, Sabtu (5/9).Dengan perkembangan terbaru, Josua memproyeksi inflasi akhir tahun diperkirakan berada di kisaran 3,1 persen hingga 3,4 persen, meski ruang amannya dinilai tidak lagi selebar beberapa bulan sebelumnya.Sementara sasaran 1,5 persen hingga 3,5 persen disebut merupakan target inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) secara keseluruhan dan bukan batas yang secara khusus harus dipenuhi oleh inflasi pangan bergejolak.“Inflasi pangan bergejolak sendiri dapat berada di atas 3,5 persen untuk sementara tanpa otomatis membuat inflasi umum keluar dari sasaran,” ujar Josua.Josua memaparkan kondisi tersebut pernah terjadi pada Juni ketika inflasi volatile food mencapai 5,58 persen, terutama akibat kenaikan harga bawang merah, bawang putih, dan beras, sementara inflasi umum masih berada di level 3,34 persen. Ia menilai faktor yang perlu diperhatikan adalah tingkat kenaikan harga pangan, durasinya, serta seberapa luas dampaknya terhadap komoditas lainnya.Seorang petani mengirigasi sawahnya yang kering di Desa Arjosari, Pacitan, Jawa Timur. Foto: Shutterstock“Risiko El Nino kali ini menurut saya tidak boleh diremehkan. Siklus El Nino 2026 sudah mencapai kategori sangat kuat sejak Juli, lebih cepat dibandingkan episode besar 1982-1983, 1997-1998 dan 2015-2016 yang umumnya mencapai puncak pada kuartal IV,” jelas Josua.Katanya, kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya musim kering berkepanjangan yang dapat mengganggu produksi sekaligus mendorong kenaikan harga pangan.Meski demikian, Josua mengatakan data produksi beras masih memberikan bantalan terhadap tekanan tersebut. Potensi produksi beras pada Juli-September diperkirakan mencapai 9,36 juta ton atau hanya turun 0,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, produksi beras sepanjang Januari-September diperkirakan relatif tidak jauh berbeda dari tahun lalu.“Namun tidak semua dampak El Nino akan langsung terasa pada 2026. Untuk kelapa sawit, misalnya, asosiasi produsen memperkirakan dampak kekeringan yang berlangsung sekarang baru terlihat lebih nyata pada produksi 2027, dengan potensi penurunan sekitar 3 juta ton atau sekitar 5 persen,” lanjut Josua.Untuk sisa 2026, Josua mengatakan komoditas berumur pendek dan kebutuhan pokok, seperti beras, cabai, bawang, sayuran, telur, dan daging ayam harus mendapatkan perhatian lebih besar.“Risiko inflasi juga dapat berlipat apabila kekeringan bersamaan dengan kenaikan biaya transportasi dan energi,” tuturnya.Senada, Ekonom INDEF Rizal Taufikurahman mengatakan dengan kondisi saat ini, target inflasi 2026 sebesar 2,5 persen ±1 persen masih dapat dijaga, tetapi ruang amannya semakin terbatas.Menurutnya, kenaikan inflasi Agustus menjadi 3,19 persen secara tahunan serta mulai menguatnya tekanan volatile food menunjukkan risiko terbesar hingga akhir tahun lebih banyak berasal dari sisi pasokan pangan, termasuk potensi dampak El Nino, dibandingkan tekanan permintaan.“Karena itu, respons kebijakan tidak cukup hanya mengandalkan instrumen moneter; pemerintah harus lebih agresif menjaga stok, distribusi, cadangan pangan, dan opsi impor terukur agar tekanan harga tidak menembus batas atas sasaran,” jelas Rizal kepada kumparan.Selain itu, Rizal menyatakan kondisi yang juga perlu diwaspadai adalah paradoks antara tingginya inflasi pangan dan melemahnya daya beli. Kenaikan harga pangan dapat memaksa rumah tangga menengah bawah mengalokasikan porsi pendapatan yang lebih besar untuk kebutuhan pokok dan mengurangi konsumsi nonpangan.“Akibatnya, headline inflation bisa tetap tinggi karena supply shock, tetapi inflasi inti dan konsumsi domestik justru tertekan,” ungkap Rizal.“Jadi inflasi tinggi dalam kondisi ini bukan cerminan ekonomi yang kuat, melainkan bentuk ‘pajak inflasi’ yang menggerus daya beli dan mempersempit ruang pertumbuhan,” tambahnya.