Kolom abu membubung saat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Minggu (16/8/2026). Foto: Anggi/kumparanGunung Anak Krakatau kembali erupsi. Gunung tersebut melontarkan lava pijar dan abu vulkanik hingga mengeluarkan suara dentuman.Berdasarkan situs magma.esdm.go.id, erupsi sudah terjadi sejak Jumat (4/9) malam. Saat ini, Gunung Anak Krakatau masuk kategori Level III atau Siaga."Kondisi erupsi seperti ini diinterpretasikan sebagai 'Lava Fountain' atau lava air mancur. Terdengar dentuman dan gemuruh dari Pos Gak Pasauran," demikian dikutip dari situs tersebut, Sabtu (5/9).Laporan ini disusun berdasarkan pemantauan pada Sabtu pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa CCTV pengamatan di lokasi mati karena terkena material vulkanik. Gunung terlihat jelas, namun asap kawah tidak teramati.Angin di Gunung Anak Krakatau mengarah ke barat laut atau ke arah Samudera Hindia.Masyarakat diimbau untuk tetap berada di radius aman.Rumah Bergetar-Kaca RetakWarga mengenakan masker saat debu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) menyelimuti permukiman warga Pulau Sebesi, Kabupaten Lampung Selatan, setelah material erupsi terbawa angin hingga ke rumah warga, Rabu (19/8/2026). Foto: IstiimewaAktivitas erupsi tersebut turut dirasakan masyarakat di wilayah pesisir Kabupaten Pandeglang. Warga mengaku mendengar suara gemuruh sejak Jumat malam, bahkan sejumlah daerah merasakan getaran hingga membuat kaca rumah retak.Eni, warga Kecamatan Sumur, mengatakan suara gemuruh Gunung Anak Krakatau mulai terdengar lebih jelas sejak sekitar pukul 21.00 WIB.Meski sudah terbiasa dengan aktivitas gunung, Eni mengaku tetap khawatir karena teringat peristiwa tsunami 2018."Mulai kedengaran, jelas, itu sekitar jam 9 malam. Kemarin-kemarin ke sini (Kecamatan Sumur) sih enggak kedengaran (gemuruh). Agak khawatir sih, apalagi ingat ke tahun 2018. Tapi mudah-mudahan baik-baik saja, kita berdoa bersama," kata Eni, Sabtu (5/9).Sementara itu, Heri, warga Kecamatan Carita, mengatakan suara gemuruh Gunung Anak Krakatau sudah terdengar sejak beberapa hari terakhir. Namun, kali ini suara terdengar lebih keras hingga membuat rumahnya bergetar.Bahkan, getaran tersebut membuat kaca jendela rumah Heri mengalami retak-retak."Ini lebih jelas, kemarin-kemarin kedengaran tapi enggak begitu. Kalau sekarang itu rumahnya getar. Kaca (rumah) aja pada retak," ujarnya.Meski aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat, Heri mengatakan kondisi tersebut belum mengganggu aktivitas warga pesisir Carita. Namun, dampaknya mulai terlihat dari menurunnya kunjungan wisatawan ke Pantai Carita.Kesaksian PemancingKolom abu membubung saat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Minggu (16/8/2026). Foto: Anggi/kumparanSalah seorang warga, Eghie Febriansyah, mengatakan dirinya bersama sejumlah rekannya sedang memancing di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau saat erupsi terjadi.Eghie menuturkan, ketika pertama kali tiba di lokasi, kondisi Gunung Anak Krakatau masih terlihat normal dan belum menunjukkan aktivitas erupsi. Mereka hanya melihat kabut berwarna hitam dari arah gunung."Awalnya belum ada erupsinya, masih kabut hitam. Nah, pas jam 11-an lewat baru terjadi erupsinya," kata Eghie.Menurut Eghie, erupsi tersebut disertai suara dentuman yang terdengar hingga ke lokasi mereka memancing. Ia memperkirakan suara dentuman terdengar sebanyak tiga kali."Tiga kali, kurang lebih," ucapnya.Tak hanya mendengar suara dentuman, Eghie dan rekan-rekannya juga melihat kilatan menyerupai petir serta semburan material panas dari arah Gunung Anak Krakatau."Itu kami lihatnya lebih dari sekitar 5 kilometer (area inti GAK)," lanjutnya.Melihat aktivitas tersebut, Eghie bersama rekan-rekannya memutuskan segera meninggalkan lokasi demi keselamatan. Mereka tidak mencari titik memancing lainnya dan memilih kembali ke dermaga.Tak Ada Potensi TsunamiKepala Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati saat memberikan keterangan terkait erupsi Gunung Anak Krakatau pada Konferensi Pers, Sabtu (5/9/2026). Foto: Abisatya/kumparanKepala Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati memastikan status aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih berada pada Level III atau Siaga.Ia menyebut, PVMBG melakukan pemantauan aktivitas Anak Krakatau melalui dua stasiun pengamatan yang berada di Pasauran dan Kalianda."Untuk khusus Anak Krakatau ini kami memiliki dua stasiun pengamatan, yang ada di Pasauran dan juga yang ada di Kalianda," ujar Rita dalam konferensi pers, Sabtu (5/9).Rita mengatakan sejak tanggal 2 Juli 2026, status Gunung Anak Krakatau statusnya dinaikkan dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga."Gunung Anak Krakatau ini erupsi di tanggal 2 Juli 2026, sehingga levelnya juga kita naikkan dari Waspada menjadi Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026," katanya.Rita menyebut, PVMBG memastikan pertumbuhan kembali tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi dan longsoran pada 2018 masih relatif kecil.Karena itu, hingga saat ini tidak terdapat potensi keruntuhan tubuh gunung dalam skala yang dapat memicu tsunami."Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," ujar Rita.Kapal Nelayan di Lampung Kena Hujan BatuPerahu nelayan kena hujan batu saat Gunung Anak Krakatau meletus. Foto: Dok. IstimewaSejumlah nelayan asal Pesawaran kejatuhan batu saat berlayar di perairan Gunung Anak Krakatau (GAK), Lampung Selatan, Sabtu (5/9). Kapal yang mereka tumpangi dihujani material batu saat GAK mengalami erupsi.Peristiwa tersebut terekam dalam video yang diterima dan beredar di media sosial. Dalam video, terlihat material batu berukuran kecil menghujani kapal hingga mengenai permukaan air laut dan menimbulkan percikan.Situasi tersebut membuat para nelayan panik. Mereka hanya bisa berlindung di dalam kapal sembari melantunkan takbir dan berdoa memohon keselamatan."Ya Allah, hujan batu Ya Allah. Hujan batu," teriak salah seorang nelayan dalam video.Salah satu nelayan, Surya, warga Pesawaran, mengatakan peristiwa itu terjadi saat dirinya bersama empat rekannya dalam perjalanan pulang dari Jawa menuju Lampung.Menurut Surya, aktivitas Gunung Anak Krakatau telah terlihat sejak malam sebelumnya. Gunung disebut mengeluarkan api dan asap sebelum akhirnya mereka terkena hujan material saat melintas di sekitar GAK."Pas sampai daerah Krakatau itu, perahu itu jarak dari Gunung Krakatau ke perahu sekitar 10 sampai 30 meter itu sudah hujan batu. Sampai jarak 300 meter masih kena," ujarnya.Material batu bahkan disebut masuk dan menumpuk di dalam kapal. Surya memperkirakan terdapat sekitar lima hingga enam karung material batu yang masuk ke perahu.Meski berada dalam situasi berbahaya, seluruh nelayan dalam kapal tersebut selamat. "Alhamdulillah enggak ada (korban)," kata Surya.Sebaran Abu Sampai ke JabarWarga menunjukkan abu vulkanik di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTOErupsi Gunung Anak Krakatau masih terjadi hingga Sabtu (5/9) malam. Gunung itu masih melontarkan abu vulkanik.Berdasarkan keterangan BMKG Wilayah 2, abu tersebar ke berbagai wilayah akibat terbawa angin.Sebaran pertama terbang di ketinggian 20 ribu kaki ke arah tenggara dan selatan gunung yang mencakup wilayah Banten dan Jawa Barat serta perairan sekitarnya.Sebaran kedua ada di ketinggian 50 ribu kaki ke arah barat daya dan barat laut gunung yang mencakup sebagian wilayah Lampung, Banten, Bengkulu, Sumsel, Sumbar, Selat Sunda, hingga Samudera Hindia.