Solusi Redam Road Rage di Jalan, Kuncinya Mengalah dan Sabar

Wait 5 sec.

Sejumlah pengendara merokok sambil mengendarai sepeda motor, di Padang, Sumatera Barat. Foto: Antara/Muhammad Arif PribadiPertikaian antarpengguna jalan atau yang dikenal dengan istilah road rage kian sering menghiasi media sosial. Kasus kekerasan, adu mulut, hingga tindakan destruktif di jalan raya kerap dipicu oleh persoalan sepele yang berujung pada emosi tidak terkontrol dari para pengendara.Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menilai bahwa maraknya insiden road rage di Indonesia menjadi cermin buruknya pengelolaan emosi pengendara saat berhadapan dengan situasi konflik di lalu lintas."Perilaku-perilaku road rage yang ada di Indonesia, Anda bisa lihat tuh. Orang main pukul, senggolan, pukul-pukulan, tabrak-tabrakan akibat ketidaksenangan, ketidaknyamanan yang dihadapi mereka saat berada di jalan raya," kata Jusri kepada kumparan, Selasa (1/9/2026).Menurut Jusri, konflik fisik di jalan umumnya berawal dari pemicu luar yang berinteraksi dengan kondisi tekanan mental internal pengendara.Pengendara sepeda motor tidak menggunakan helm saat melintas di Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta, Selasa (7/1/2025). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO "Pemicu awal sih adalah perilaku orang yang salah ya, yang melakukan pelanggaran. Nah, kita biasanya kan marah nih. Ketika kondisi mental kita lagi ada masalah misalnya masalah keluarga, pekerjaan, keuangan, atau relationship yang berat pemicunya membuat kita mengalami satu kemarahan yang luar biasa," jelasnya.Dalam situasi mental yang tidak stabil atau tertekan, koreksi sekecil apa pun di jalan raya dapat memicu tindakan kecemasan berlebih hingga memunculkan aksi impulsif yang berbahaya."Kecemasan yang meledak-ledak ini bisa membuat perilaku impulsif. Nah, ketika perilaku impulsif muncul, itu yang terjadi road rage, kekerasan atau tindakan-tindakan yang ngawur," tegas Jusri.Banyak pengendara mengira bahwa menegur pelanggar lalu lintas adalah tindakan yang tepat. Namun, Jusri mengingatkan bahwa menegur orang asing yang sedang melanggar justru kerap menjadi pintu masuk konflik fisik yang lebih parah."Menegur kesalahan orang itu menjadi pemicu. Kayak ada kasus merokok kemarin yang baru saja viral. Orang mau memperingati orang merokok di jalan, malah dia digaplok sama orang tersebut. Nah, apa yang terjadi? Kita aja yang rugi kan," tutur Jusri.Ilustrasi membonceng anak kecil di sepeda motor. Foto: radiantphotograph.comIa mengimbau masyarakat untuk menyadari batasan wewenang di jalan raya. Pengendara sipil tidak memiliki hak hukum untuk menghakimi ataupun menindak pengguna jalan lain."Anda tidak berhak melakukan judgment ataupun koreksi. Anda bukan hakim. Yang melakukan koreksi polisi, yang melakukan judgment hakim. Anda tidak dalam kondisi itu. Ketika berada di jalan, Anda bukan petugas polisi, Anda adalah pengguna jalan," lugasnya.Sebagai langkah preventif agar tidak terlibat dalam pusaran road rage, Jusri menyarankan para pengendara untuk mengedepankan sikap mengalah, mengendalikan ego, dan menahan diri dari menyalahkan orang lain."Bagaimana caranya menyikapi agar tidak terjadi tindakan-tindakan impulsif? Satu, tidak melakukan judgment. Dua, tidak melakukan koreksi atas kesalahan-kesalahan orang. Ketiga, sabar. Kalau ada pelanggaran, ngalah aja! Karena bukan hak kita di situ," saran Jusri.Mengakhiri keterangannya, Jusri menekankan tiga pilar utama yang wajib dimiliki oleh setiap pengguna jalan agar tercipta lalu lintas yang aman dan harmonis."Yang perlu kita miliki di jalan, pertama adalah keterampilan. Kalau enggak ada keterampilan, bahaya. Kedua, ketertiban peraturan dan etika. Yang ketiga, empati," tuntasnya.