Kita Menentang Patriarki, tapi Apakah Kita Masih Mempraktikkannya?

Wait 5 sec.

Artistic black and white photo of two hooded figures in motion, creating a textured visual effect. Foto: Mariana Montrazi/Pexels.Ia telah menjelma menjadi tanah yang kita pijak dan udara yang kita hirup, menyerap dalam sunyi, hingga kita lupa bahwa rantai itu kini ada di tangan kita sendiri.Ketika mendengar kata patriarki, banyak orang langsung membayangkan bentuk ketidakadilan yang ekstrem: perempuan tidak boleh sekolah, tidak boleh bekerja, tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan sendiri, atau harus selalu tunduk kepada laki-laki. Karena bentuk-bentuk seperti itu kini semakin terbuka untuk diperdebatkan dan ditolak, kita sering merasa bahwa masyarakat sudah jauh lebih setara daripada sebelumnya. Kita sudah berbicara tentang kesetaraan gender, perempuan semakin banyak mendapatkan akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, dan gagasan bahwa laki-laki lebih tinggi daripada perempuan semakin sulit diterima secara terang-terangan.Namun, menganggap patriarki sudah hilang hanya karena bentuknya berubah adalah kesimpulan yang terlalu sederhana.Patriarki tidak selalu hadir sebagai larangan. Ia tidak harus berbentuk kalimat, “Perempuan tidak boleh.” Sering kali, ia justru hadir melalui sesuatu yang jauh lebih sulit dikenali: kebiasaan. Ia masuk ke dalam cara keluarga membesarkan anak, membagi pekerjaan, berbicara tentang tubuh perempuan, menentukan perilaku yang dianggap pantas, bahkan menentukan siapa yang boleh berbicara dengan tegas tanpa dianggap bermasalah. Karena semua itu dilakukan terus-menerus dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, kita akhirnya berhenti bertanya mengapa.Patriarki yang Bersembunyi di Balik Hal-Hal yang Dianggap NormalSalah satu alasan patriarki dapat bertahan begitu lama adalah karena ia tidak selalu diajarkan sebagai sebuah aturan. Tidak ada yang perlu mengatakan kepada seorang anak perempuan bahwa dirinya lebih rendah daripada laki-laki. Ia cukup tumbuh dalam lingkungan yang terus menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki peran yang berbeda. Anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari: siapa yang memasak, siapa yang membersihkan rumah, siapa yang membuat keputusan, siapa yang lebih sering melayani, dan siapa yang lebih banyak diberi kebebasan.Hal ini sejalan dengan penjelasan United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women) bahwa anak-anak menangkap berbagai isyarat tentang gender dari keluarga, sekolah, media, dan lingkungan sosial. Peran yang mereka lihat dilakukan orang dewasa dapat memengaruhi pemahaman mereka mengenai apa yang dianggap normal bagi laki-laki dan perempuan. Artinya, sebelum seseorang memahami istilah “patriarki,” ia mungkin sudah lebih dulu tumbuh di dalam pola yang membentuk cara pandangnya tentang gender.Contohnya sederhana, tetapi justru karena sederhana, kita sering tidak melihat masalahnya. Banyak anak perempuan sejak kecil belajar bahwa menstruasi sebaiknya disembunyikan. Pembalut harus dibungkus agar tidak terlihat, dibawa secara diam-diam, dan bahkan kata “menstruasi” sendiri kadang terasa terlalu memalukan untuk disebut keras-keras. Padahal, yang sedang terjadi hanyalah proses biologis yang alami. Tubuh perempuan bekerja sebagaimana mestinya, tetapi perempuan justru diajarkan untuk bertingkah seolah-olah ada sesuatu yang harus dirahasiakan. Ironisnya, sesuatu yang secara biologis normal dapat diperlakukan seperti aib hanya karena masyarakat terlalu lama membuat perempuan merasa harus malu terhadap tubuhnya sendiri.Pola yang sama dapat ditemukan dalam pembagian pekerjaan di rumah. Ketika tamu datang, perempuan sering kali secara otomatis pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan, membuat minuman, mengambil piring, dan memastikan semuanya berjalan lancar. Sementara itu, laki-laki duduk di ruang tamu untuk berbicara dan bersosialisasi. Tidak ada papan pengumuman yang mengatakan bahwa perempuan harus ke dapur dan laki-laki ke ruang tamu. Tidak perlu. Semua orang sudah mengetahui perannya masing-masing. Dan karena semua orang sudah tahu, tidak ada yang merasa perlu menanyakan mengapa.Pembagian seperti ini mungkin terlihat sepele ketika terjadi sekali atau dua kali. Namun, persoalannya bukan terletak pada satu peristiwa, melainkan pada pola yang terus diulang. UN Women mencatat bahwa secara global perempuan menghabiskan lebih dari 2,5 kali lebih banyak waktu untuk pekerjaan perawatan dan domestik tanpa bayaran dibandingkan dengan laki-laki. Ketimpangan tersebut juga berkaitan dengan norma yang sejak lama menempatkan pekerjaan mengurus rumah dan keluarga sebagai tanggung jawab utama perempuan.Lebih menarik lagi, ketika seorang laki-laki melakukan pekerjaan yang sama, ia sering mendapatkan apresiasi yang jauh lebih besar. Seorang ayah yang memasak, membersihkan rumah, atau mengurus anak dapat disebut “ayah hebat” atau “suami idaman”. Sementara itu, seorang ibu yang melakukan pekerjaan tersebut setiap hari sering dianggap hanya menjalankan kewajibannya. Jadi, pekerjaan yang sama dapat dianggap luar biasa ketika dilakukan oleh laki-laki, tetapi dianggap biasa ketika dilakukan oleh perempuan. Seolah-olah standar penghargaan terhadap pekerjaan domestik bergantung pada jenis kelamin orang yang mengerjakannya.Masalahnya bukan karena laki-laki yang ikut mengurus rumah tidak pantas diapresiasi. Tentu saja setiap bentuk tanggung jawab layak dihargai. Masalahnya adalah mengapa sejak awal kita menganggap ia sedang “membantu,” seolah-olah rumah adalah wilayah perempuan dan laki-laki hanya datang untuk meringankan pekerjaan yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya. Padahal, jika seseorang tinggal di dalam sebuah rumah dan menjadi bagian dari sebuah keluarga, pekerjaan yang membuat kehidupan di dalamnya berjalan seharusnya juga menjadi tanggung jawab bersama.A candid view of two people seated at a rustic shelter in a rural setting. Foto: Rakta Kunda/Pexels.Perempuan yang Terus Diajarkan untuk Menyesuaikan DiriPatriarki juga dapat dilihat dari cara masyarakat mengajarkan perempuan tentang keselamatan. Anak perempuan sejak kecil sering mendengar berbagai nasihat: jangan pulang terlalu malam, jangan pergi sendirian, jangan memakai pakaian tertentu, jangan terlalu mudah percaya kepada orang lain, dan harus selalu berhati-hati terhadap laki-laki. Nasihat untuk berhati-hati tentu penting. Namun, persoalan muncul ketika hampir seluruh pembicaraan mengenai keselamatan selalu berakhir pada apa yang harus dilakukan perempuan.Perempuan diajarkan cara menghindari bahaya, tetapi laki-laki tidak selalu diajarkan dengan penekanan yang sama tentang bagaimana menghormati orang lain dan batasan mereka. Perempuan diminta menjaga diri, menjaga pakaian, menjaga sikap, dan menjaga waktu pulang. Sementara itu, pertanyaan tentang bagaimana anak laki-laki dibesarkan agar memahami rasa hormat, batasan, dan tanggung jawab atas perilakunya sendiri sering kali tidak mendapatkan ruang yang setara.Di sinilah arah pembicaraan menjadi timpang. Pencegahan seolah hanya menjadi tugas orang yang berpotensi menjadi sasaran perlakuan buruk, bukan juga tanggung jawab untuk membentuk perilaku orang yang dapat melakukan tindakan tersebut. UNICEF menyoroti bahwa stereotip yang merendahkan perempuan dan anak perempuan dapat memperkuat ketimpangan kekuasaan, membenarkan tindakan menyalahkan korban, serta mengurangi penghormatan terhadap otonomi dan integritas tubuh perempuan.Hal ini berhubungan dengan cara masyarakat melihat pakaian perempuan. Ketika seorang perempuan memakai pakaian yang dianggap terlalu terbuka, kita sering lebih cepat mengatakan bahwa pakaiannya tidak pantas daripada mempertanyakan mengapa seseorang merasa berhak memperlakukannya secara tidak pantas. Seolah-olah pakaian perempuan adalah masalah yang harus segera diperbaiki, sementara cara seseorang memandang tubuh orang lain tidak perlu diperiksa.Tentu, masyarakat memiliki norma berpakaian dan setiap orang memiliki pilihan serta pandangannya masing-masing. Namun, pakaian seseorang tidak menentukan apakah dirinya layak dihormati atau tidak. Ketika perempuan terus diajarkan bahwa mereka harus mengubah perilaku dan penampilan untuk mencegah perlakuan buruk dari orang lain, tanggung jawab itu kembali diletakkan di pundak perempuan.Artistic grayscale portrait of a woman with hands on head, emphasizing light and shadow. Foto: Stacey Koenitz/Pexels.Pesannya kemudian menjadi sangat jelas: ketika sesuatu terjadi, perhatian pertama sering kali tertuju pada apa yang dikenakan perempuan.Bukan kepada siapa yang melakukan, bukan kepada bagaimana perilakunya, dan bukan kepada mengapa batasan orang lain dilanggar. Dan di titik inilah victim-blaming dapat tumbuh dari sesuatu yang pada awalnya dianggap sebagai nasihat biasa.Bagaimana Pola Ini Diajarkan Sejak Kecil?Patriarki tidak muncul secara tiba-tiba ketika seseorang sudah dewasa. Banyak nilainya justru terbentuk sejak masa kanak-kanak, ketika anak mulai belajar memahami bagaimana dunia bekerja. Mereka mengamati orang tua, guru, teman, media, dan lingkungan sekitar, lalu secara perlahan memahami perilaku mana yang mendapat pujian dan perilaku mana yang mendapat hukuman sosial.Anak laki-laki yang berani berbicara, menyampaikan pendapat dengan tegas, atau mengambil keputusan sering dianggap percaya diri, berani, bahkan memiliki jiwa pemimpin. Namun, ketika anak perempuan melakukan hal yang sama, ia dapat disebut galak, suka memerintah, terlalu keras, atau bossy. Padahal, perilakunya tidak berubah. Yang berubah hanya jenis kelamin orang yang melakukannya.Close-up portrait of a young girl looking up, illuminated by dramatic light and deep shadows. Foto: Gaurav Deswal/Pexels.UN Women bahkan secara khusus menggunakan contoh kata bossy dalam pembahasannya mengenai stereotip gender pada anak. Label seperti itu dapat memperkuat anggapan bahwa ketegasan atau kemampuan mengambil kendali merupakan sifat yang lebih dapat diterima ketika ditunjukkan oleh anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan.Dari sinilah standar ganda mulai tertanam. Anak laki-laki belajar bahwa mengambil ruang dapat dianggap sebagai sesuatu yang positif, sementara anak perempuan belajar bahwa terlalu banyak mengambil ruang dapat membuat dirinya tidak disukai. Laki-laki didorong untuk bersuara, sedangkan perempuan perlahan belajar untuk mempertimbangkan apakah suaranya akan dianggap terlalu keras.Hal semacam ini kemudian terbawa ke kehidupan dewasa. Kita ingin melihat lebih banyak perempuan menjadi pemimpin, tetapi sejak kecil masih mudah merasa tidak nyaman ketika perempuan terlalu tegas. Kita ingin perempuan berani menyampaikan pendapat, tetapi ketika mereka benar-benar melakukannya, kita cepat menyebutnya agresif. Kita mengatakan ingin perempuan percaya diri, tetapi ketika kepercayaan diri itu tidak sesuai dengan gambaran perempuan yang “lembut dan menyenangkan,” tiba-tiba perempuan tersebut dianggap bermasalah.Sulit meminta perempuan mengambil posisi di depan jika sejak kecil mereka terus diajarkan bahwa terlalu menonjol adalah sesuatu yang harus dihindari.Nilai-nilai tersebut diperkuat oleh banyak hal: keluarga, lingkungan sosial, sekolah, media, dan budaya. Tidak selalu ada niat buruk di dalamnya. Justru itu yang membuatnya semakin sulit disadari. Orang tua bisa saja hanya mengulangi nasihat yang dulu diberikan kepada mereka. Guru bisa saja menerapkan kebiasaan yang sudah dianggap lazim. Masyarakat bisa saja mempertahankan tradisi tanpa pernah benar-benar memikirkan dari mana tradisi itu berasal.Ketika pola yang sama terus diulang, orang akhirnya tidak lagi melihatnya sebagai konstruksi sosial. Ia terasa alamiah.Padahal, tidak ada alasan biologis yang membuat perempuan otomatis harus lebih bertanggung jawab mengurus rumah. Tidak ada alasan biologis yang membuat ketegasan lebih pantas dimiliki laki-laki. Tidak ada alasan biologis yang membuat menstruasi harus disembunyikan. Dan tidak ada alasan biologis yang membuat perempuan lebih bertanggung jawab atas perilaku buruk orang lain terhadap dirinya.Maka sesuatu dapat terasa alami bukan karena memang alami, tetapi karena kita sudah terlalu sering melihatnya. Masyarakat kita dengan nilai patriarki yang tertanam sudah menjadi kebal dalam hal menormalisasi kebiasaan-kebiasaan kecil yang sebenarnya merugikan.Tradisi yang Sudah Berhenti Kita PertanyakanVintage-style cocktail bar signage featuring retro artwork and typography outside a city establishment. Foto: Christopher Santiago/Pexels.Di sinilah patriarki menemukan salah satu cara paling kuat untuk bertahan: ia berlindung di balik tradisi. Kalimat seperti “dari dulu juga begitu,” “memang perempuan tugasnya begitu,” atau “jangan melawan kebiasaan” sering digunakan seolah-olah lamanya sebuah kebiasaan otomatis membuatnya benar. Padahal, tradisi bukan bukti bahwa sesuatu selalu adil.Masyarakat berubah. Cara kita melihat pendidikan berubah, cara kita bekerja berubah, dan cara kita membangun keluarga pun berubah. UNICEF juga menekankan bahwa norma dan peran gender tidak bersifat tetap; norma tersebut dapat berubah seiring waktu dan berbeda dalam setiap masyarakat. Karena itu, tidak ada alasan untuk memperlakukan pembagian peran berdasarkan gender seolah-olah sebagai sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan hanya karena sudah berlangsung selama puluhan tahun.Mempertanyakan tradisi juga tidak berarti membenci budaya. Justru, kemampuan untuk melihat kembali kebiasaan merupakan bagian dari perkembangan masyarakat. Tidak semua hal yang diwariskan harus dipertahankan. Ada kebiasaan yang memang berharga, tetapi ada pula yang hanya terus hidup karena tidak pernah ada yang cukup berani untuk bertanya apakah kebiasaan tersebut masih adil.Patriarki tidak selalu terlihat seperti penindasan. Terkadang, ia hadir dalam bentuk sesuatu yang bahkan dianggap terlalu sepele untuk dibahas: pembalut yang harus disembunyikan, perempuan yang otomatis pergi ke dapur ketika tamu datang, anak perempuan yang diminta lebih berhati-hati, pakaian perempuan yang lebih sering dipersoalkan daripada perilaku orang yang melihatnya, ibu yang mengurus rumah setiap hari tanpa dianggap melakukan sesuatu yang luar biasa, atau anak perempuan yang disebut bossy ketika anak laki-laki dengan perilaku yang sama disebut pemimpin.Hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil jika dilihat satu per satu. Namun, ketika semuanya terjadi terus-menerus, ia membentuk cara masyarakat memahami laki-laki dan perempuan. Ia menentukan siapa yang dianggap bertanggung jawab atas rumah, siapa yang harus menyesuaikan diri demi keamanan, siapa yang tubuhnya boleh dikomentari, dan siapa yang lebih bebas untuk berbicara tanpa mendapatkan penilaian negatif.Karena itu, mengatakan “saya tidak mendukung patriarki” sebenarnya belum cukup. Yang lebih penting adalah melihat bagaimana keyakinan tersebut tercermin dalam tindakan sehari-hari. Kita bisa saja berbicara tentang kesetaraan gender, tetapi masih menganggap perempuan sebagai pihak yang harus melayani. Kita bisa mengaku mendukung perempuan menjadi pemimpin, tetapi tetap tidak nyaman ketika perempuan bersikap tegas. Kita bisa mengatakan perempuan bebas menentukan pakaiannya, lalu pada saat yang sama menyalahkan pakaian mereka ketika orang lain berperilaku buruk.Patriarki bertahan bukan hanya karena ada orang yang secara sadar ingin mempertahankannya. Ia juga bertahan karena terlalu banyak orang menjalankan polanya tanpa merasa sedang melakukan apa-apa.Mungkin karena itulah pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi sekadar apakah kita menentang patriarki. Pertanyaannya adalah apakah kita berani memeriksa kebiasaan sendiri dan mengakui bahwa bisa saja, tanpa sadar, kita masih ikut mempertahankannya. Waktu yang lama tidak pernah bisa melegitimasi sebuah ketidakadilan.Dan mungkin, sebelum sibuk mengatakan bahwa patriarki adalah masalah yang harus dilawan, kita perlu melihat lebih dulu ke tempat yang paling dekat: rumah kita, cara kita membesarkan anak, cara kita membagi pekerjaan, cara kita menilai perempuan, dan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini kita jalankan tanpa pernah benar-benar bertanya.Karena patriarki tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikenali. Namun, terkadang ia justru bertahan karena kita terlalu terbiasa hidup bersamanya hingga tidak lagi menyadari bahwa kita masih mempraktikkannya.