Ilustrasi dentuman. Foto: Getty ImagesSuara dentuman misterius terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya pada Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari. Suara tersebut turut membuat warga Baleendah, Kabupaten Bandung, penasaran.Khintan Fadilla Fhasa (28), warga Baleendah, mengaku mendengar suara seperti dentuman sekitar pukul 00.30 WIB saat hendak mengambil air.Awalnya, Khintan mengira suara tersebut berasal dari seseorang yang berjalan di atas rumah. Namun, setelah melihat informasi yang ramai beredar di media sosial, ia mengetahui suara serupa juga terdengar di sejumlah wilayah lain.“Jam setengah satu malam ke air, terus tiba-tiba ada suara gebrug-gebug gitu kayak dentuman. Kirain orang jalan di atas, taunya memang yang lagi ramai di media sosial,” ujar Khintan, Sabtu (5/9).Meski terdengar cukup jelas, Khintan mengatakan tidak merasakan getaran kuat di rumahnya. Kaca maupun benda lainnya juga tidak sampai bergetar.“Tapi enggak sih sampai kaca bergetar dan lainnya,” katanya.Informasi mengenai dentuman kembali ditemukan Khintan pada Sabtu pagi. Sekitar pukul 05.30 WIB, ia melihat unggahan status saudaranya yang berada di Fukuoka, Jepang.Dalam unggahan tersebut, terdapat informasi mengenai suara dentuman yang juga terdengar di Fukuoka, wilayah yang berada dekat laut.“Terus tadi setengah enam pagi juga lihat status saudara aku yang di Jepang. Padahal enggak lagi di Bandung, tapi sampai kedengeran ke Jepang ada dentumannya di Fukuoka, dekat laut,” tuturnya.Suara dentuman tersebut kemudian ramai dikaitkan warganet dengan aktivitas erupsi gunung api. Namun, Khintan mengaku belum mengetahui secara pasti sumber suara tersebut.“Terus pas lihat di medsos katanya itu erupsi, tapi enggak tahu sih,” ucapnya.Selain Baleendah, suara serupa juga dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya, seperti Bandung Barat, Cimahi, Majalaya hingga Cikancung.BMKG Sebut SkyquakeGedung baru tahan gempa di Kompleks Kantor Pusat BMKG, Jakarta Pusat, Senin (21/7/2025). Foto: Jonathan Devin/kumparanBadan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung menyebut suara dentuman misterius yang dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya sebagai fenomena skyquake atau dentuman langit.Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi mengatakan BMKG telah melakukan pengecekan terhadap sejumlah data untuk mencari kemungkinan sumber fenomena tersebut."Jadi, fenomena ini juga pernah terjadi di wilayah Bogor, itu bulan April 2020 yang kita kenal dengan fenomena skyquake," ujar Suaidi dalam konferensi pers, Sabtu (5/9/2026).BMKG memeriksa data monitoring kegempaan, aktivitas petir, kondisi cuaca, hingga medan magnet bumi pada waktu fenomena tersebut dilaporkan terjadi.Berdasarkan hasil pemantauan, BMKG tidak menemukan adanya aktivitas kegempaan di Bandung Raya pada waktu tersebut.Aktivitas Petir Bandung Raya Tidak SignifikanIlustrasi petir. Foto: NTARA FOTO/Iggoy el Fitra/ama.Selain data kegempaan, BMKG turut memantau aktivitas petir di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya.Hasil pemantauan menunjukkan tidak terdapat aktivitas petir yang signifikan di wilayah Bandung Raya pada waktu dentuman dilaporkan terdengar."Konsentrasi thunderstorm atau petir yang sangat dominan justru berada di wilayah Krakatau. Menariknya adalah di Kota Bandung dan sekitarnya itu sedikit sekali petir," ujar Suaidi.Menurutnya, berdasarkan berbagai data yang dipantau BMKG, tidak ditemukan aktivitas alam di Bandung Raya yang secara langsung dapat menjelaskan sumber dentuman tersebut.Karena tidak ditemukan aktivitas kegempaan maupun petir yang dapat menjelaskan fenomena itu, BMKG mengategorikan suara dentuman tersebut sebagai skyquake.BMKG Rekam Aktivitas Vulkanik KrakatauVisual erupsi Gunung Anak Krakatau, 24/8/2026. Foto: magma.esdm.go.id/Dalam pemeriksaan data, BMKG menemukan adanya aktivitas vulkanik di sekitar Krakatau pada waktu yang berdekatan dengan laporan dentuman di Bandung Raya.Berdasarkan citra satelit Himawari, tidak ditemukan adanya pengumpulan awan yang signifikan di Bandung Raya pada waktu kejadian. Namun, pada waktu yang sama, BMKG justru merekam aktivitas vulkanik di sekitar Krakatau."Dari citra satelit yang kita dapat dari Himawari, pada jam yang kita curigai ternyata di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya itu tidak ada aktivitas pengumpulan awan. Justru pada jam yang sama itu terekam adanya aktivitas vulkanik di Krakatau," katanya.Selain itu, data stasiun magnet bumi di Serang dan Sukabumi juga mencatat aktivitas yang memiliki korelasi waktu dengan aktivitas vulkanik tersebut.BMKG juga menemukan adanya anomali magnetik yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Krakatau.Meski demikian, temuan tersebut belum dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Krakatau merupakan sumber dentuman yang terdengar di Bandung Raya.Dentuman Hanya Ramai Dilaporkan di Bandung RayaIlustrasi Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Akhmad Dody Firmansyah/ShutterstockHal yang menjadi perhatian BMKG adalah laporan mengenai dentuman justru banyak muncul dari wilayah Bandung Raya dan sekitarnya.Sementara itu, wilayah yang secara geografis lebih dekat dengan Krakatau seperti Jakarta, Bogor, dan sejumlah wilayah Banten, berdasarkan laporan yang dihimpun BMKG, tidak mengalami fenomena serupa."Masalahnya adalah dentuman tersebut hanya terdengar di wilayah Bandung Raya sekitarnya. Tidak terdengar di Jakarta, tidak terdengar di Kabupaten Bogor, di Kota Bogor sendiri, dan Banten dan sekitarnya," ujar Suaidi.Menurutnya, kondisi tersebut membuat aktivitas vulkanik Krakatau belum dapat dijadikan jawaban atas fenomena yang terjadi di Bandung Raya.Ada Dugaan Aktivitas Gas Metana di Danau Purba BandungIlustrasi Gunung Batu di Lembang, Bandung, Jawa Barat. Foto: ShutterstockBMKG masih terus mengkaji kemungkinan penyebab fenomena skyquake tersebut.Suaidi mengatakan terdapat sejumlah literatur yang membahas kemungkinan fenomena skyquake berkaitan dengan aktivitas gas metana.Salah satu dugaan adalah adanya aktivitas gas metana di kawasan Danau Purba Bandung. Namun, ia menegaskan dugaan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut dan belum dapat disimpulkan sebagai penyebab dentuman."Nah, ini yang menjadi suatu pertanyaan. Mungkin nanti teman-teman geologi, Badan Geologi bisa melakukan penelitian ini," kata Suaidi.Dengan tidak ditemukannya aktivitas kegempaan dan petir yang signifikan di Bandung Raya, serta belum adanya bukti yang dapat memastikan aktivitas Krakatau maupun gas metana sebagai penyebab, BMKG untuk saat ini mengategorikan fenomena dentuman tersebut sebagai skyquake atau dentuman langit.Fenomena tersebut masih menjadi kajian para peneliti di bidang sains kebumian, geofisika, dan meteorologi untuk mengetahui mekanisme maupun sumber pasti suara dentuman yang dirasakan warga Bandung Raya.PVMBG Duga Berkaitan dengan Erupsi Anak KrakatauKepala Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati saat memberikan keterangan terkait erupsi Gunung Anak Krakatau pada Konferensi Pers, Sabtu (5/9/2026). Foto: Abisatya/kumparanPusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menduga suara dentuman yang dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.Dugaan tersebut muncul setelah PVMBG menemukan adanya kesesuaian waktu antara laporan dentuman masyarakat dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026).Kepala Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati mengatakan, Gunung Anak Krakatau memang mengalami erupsi menerus selama beberapa jam."Untuk dentuman ini, kami menduga itu memang ada kaitannya dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan," ujar Rita dalam konferensi pers, Sabtu (5/9).Rita mengatakan, erupsi menerus dengan semburan lava merupakan salah satu fenomena yang umum terjadi di Gunung Anak Krakatau.Meski demikian, PVMBG menegaskan dugaan adanya keterkaitan antara erupsi dan dentuman yang terdengar di sejumlah daerah belum dapat dianggap sebagai bukti pasti.Menurut Rita, perambatan suara dari aktivitas erupsi hingga jarak yang cukup jauh bukan merupakan fenomena yang mustahil terjadi."Erupsi Gunung Kelud saat itu kolomnya mencapai 17 kilometer sehingga melepaskan energi akustik yang sangat besar," ujarnya.Dengan mempertimbangkan kejadian Anak Krakatau pada 2020 serta erupsi Gunung Kelud pada 2014, PVMBG menduga erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu kemungkinan sumber dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Jawa Barat pada 4 hingga 5 September 2026.Namun, kepastian sumber suara tersebut masih membutuhkan penelitian dan pencocokan lebih lanjut antara waktu terjadinya erupsi dengan waktu laporan yang disampaikan masyarakat.