Ilustrasi membersihkan kulit dengan micellar water. Foto: Prostock-studio/ShutterstockErupsi gunung berapi dapat membuat abu vulkanik menyebar dan menempel pada kulit, rambut, serta pakaian. Meski dampak abu vulkanik lebih sering dikaitkan dengan gangguan pernapasan dan mata, kulit juga dapat mengalami iritasi ketika terpapar.Menurut Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika (Sp.DVE), dr. Matahari Arsy, abu vulkanik dapat mengganggu kulit melalui beberapa mekanisme, yaitu secara mekanik, kimiawi, dan dengan memengaruhi skin barrier.“Kalau abu vulkanik sebenarnya bisa mengganggu dengan beberapa cara, pertama mekanik, kedua kimiawi, ketiga merusak skin barrier,” ujar dr. Matahari.Abu Vulkanik Bisa Mengiritasi Kulit Secara MekanikIlustrasi wanita kesakitan karena iritasi kulit. Foto: Dragana Gordic/ShutterstockSecara mekanik, dampak abu vulkanik bergantung pada karakteristik partikelnya. Menurut dr. Matahari, abu vulkanik saat ini banyak mengandung silicate glass. Ukuran partikel tersebut turut menentukan bagaimana abu berinteraksi dengan kulit.Partikel silicate glass yang cukup besar dapat mengiritasi kulit, terutama pada orang yang memang memiliki kulit sensitif atau kondisi seperti dermatitis dan eksim.dr. Matahari Arsy, Sp.KK. Foto: kumparanSementara itu, ketika partikelnya berukuran sangat kecil, abu dapat masuk ke ruang antarsel kulit. Kondisi tersebut dapat memicu iritasi, peradangan, dan respons sistem imun yang terdapat pada kulit.“Partikel silicate glass itu sendiri cukup besar, dia bisa mengiritasi atau memperparah orang yang kulitnya sudah sensitif, atau ada dermatitis dan eksim,” jelasnya.Menurut dr. Matahari, semakin kecil ukuran partikel, semakin besar pula kemungkinan partikel tersebut masuk ke ruang antarsel kulit. Karena itu, paparan tidak hanya menimbulkan gesekan atau iritasi di permukaan.Paparan Berulang Bisa Mengganggu Skin BarrierIlustrasi Skin Barrier. Foto: Thidarat Kwangten/ShutterstockSelain mekanis, abu vulkanik juga dapat memberikan gangguan secara kimiawi. Proses fisik dan kimiawi yang terjadi ketika kulit terpapar abu dapat memicu respons imun pada kulit.Jika proses tersebut berlangsung terus-menerus, kondisi kulit dapat mengalami gangguan pada skin barrier. Bahkan, menurut dr. Matahari, kulit yang sebelumnya sehat pun dapat mengalami penurunan kondisi barrier jika terus-menerus terpapar.“Nah, proses kimiawi dan fisika tersebut itu tadi kan juga bisa memicu proses imun kulit. Nah, jika ini terjadi terus-menerus bisa merusak skin barrier, jadi orang yang kulitnya sehat pun lama-lama barrier-nya bisa menjadi buruk,” ujarnya.Kondisi tersebut membuat cara membersihkan kulit setelah terpapar abu menjadi penting. Membersihkan partikel yang menempel tetap perlu dilakukan, tetapi jangan sampai proses pembersihannya justru menambah iritasi.Jangan Langsung Gunakan Produk PembersihIlustrasi perempuan cuci muka. Foto: ShutterstockSetelah terpapar abu vulkanik, kulit dan rambut perlu segera dibersihkan. Namun, prosesnya sebaiknya tidak dilakukan secara agresif karena partikel abu yang masih menempel dapat bersifat iritatif.dr. Matahari menyarankan agar partikel abu dibilas terlebih dahulu sebelum menggunakan produk pembersih. “Secara umum, untuk membersihkan abu vulkanik itu jangan langsung menggunakan produk pembersihnya, karena partikel-partikelnya ada yang cukup besar dan bisa bersifat iritatif,” jelasnya.Alirkan air terlebih dahulu pada kulit untuk membantu mengangkat partikel abu. Setelah kulit dan rambut dibilas dengan baik, barulah gunakan produk pembersih. Untuk air yang digunakan, dr. Matahari menyarankan air dengan pH yang baik untuk kulit.Pilih Gentle Cleanser dengan Formula yang Tidak AgresifIlustrasi Foam Cleanser Foto: Shutter StockSetelah sebagian besar abu terangkat dengan air, kulit dan rambut dapat dibersihkan menggunakan produk yang lembut. Dr. Matahari menyarankan penggunaan gentle cleanser, sampo, sabun wajah, dan sabun badan dengan formula yang tidak terlalu banyak menghasilkan busa serta tidak terlalu banyak menghilangkan kelembapan dan minyak alami kulit.“Jadi meski terasa licin artinya kelembapan kulitnya masih terjaga dan segera setelah mencuci rambut dan kulit, gunakan moisturizer untuk mengunci dan meningkatkan kekuatan skin barrier,” katanya.Artinya, rasa licin setelah mencuci kulit tidak selalu berarti kulit belum bersih. Dalam kondisi setelah paparan abu, mempertahankan kelembapan alami kulit justru perlu diperhatikan agar skin barrier tidak semakin terganggu.Setelah Membersihkan, Kembalikan Kelembapan KulitIlustrasi memakai pelembap Foto: ShutterstockSetelah kulit dan rambut dibersihkan, langkah berikutnya adalah menjaga kelembapan. Untuk kulit tubuh, bisa gunakan pelembap seperti body butter. Sementara untuk wajah dapat dilanjutkan dengan moisturizer yang sesuai dengan kondisi kulit. dr. Matahari juga menyarankan penggunaan sunscreen untuk perlindungan kulit.Pada rambut, leave-in conditioner atau semprotan keratin dapat digunakan untuk membantu menutrisi rambut kembali setelah dibersihkan. Sementara untuk kulit kepala, hair tonic dapat digunakan sesuai kebutuhan.Jangan Asal Menggunakan Abu Vulkanik sebagai SkincareWarga menunjukkan abu vulkanik di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTOAbu vulkanik yang baru saja jatuh di lingkungan tidak bisa disamakan dengan bahan yang digunakan dalam produk skin care. Menurut dr. Matahari, bahan yang berasal dari abu vulkanik dan digunakan dalam produk perawatan kulit harus melalui proses pemurnian dan pengaturan tertentu. Ia memberikan contoh bahan dalam produk seperti clay mask yang telah dimurnikan dan memiliki karakteristik serta ukuran molekul yang terkontrol.“Untuk abu vulkanik harus digunakan yang sudah masuk skincare dan sudah diatur, jadi yang sudah dipurifikasi atau dimurnikan,” jelasnya.Bahan yang digunakan dalam produk perawatan juga telah melalui proses pengujian keamanan. Karena itu, abu vulkanik yang baru jatuh di lingkungan tidak dapat langsung dikumpulkan lalu digunakan sebagai masker atau perawatan kulit.Ia menekankan bahwa abu vulkanik di lingkungan tidak memiliki karakteristik yang terkontrol. Kandungannya tidak murni, ukuran partikelnya beragam, dan belum melalui pengujian klinis pada kulit manusia.“Jadi kita tidak bisa menggunakan abu yang sekarang ada lalu kita kumpulkan dan gunakan di wajah, pertama itu tidak terkontrol, tidak murni, ukurannya tidak sejenis dan tidak pernah ada uji coba secara klinik terhadap kulit manusia,” ujarnya.Untuk itu, ketika kulit terpapar abu vulkanik, fokus utama sebaiknya bukan mencoba memanfaatkannya sebagai bahan perawatan, melainkan segera membersihkan partikel dengan cara yang tidak memperparah iritasi.