Headline E-Paper BorneoFlash.com Edisi Senin 7 September 2026: Kabut Asap Selimuti Samarinda, ISPA Naik 22 Persen dan Sekolah Belum Diliburkan

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, SAMARINDA – Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Samarinda. Aroma asap tercium di beberapa wilayah, jarak pandang mulai berkurang, sementara sebagian warga mengeluhkan mata perih.Di tengah kondisi tersebut, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Samarinda tercatat mengalami peningkatan. Namun, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda hingga kini belum mengambil kebijakan untuk meliburkan kegiatan sekolah.Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda menunjukkan rata-rata kasus ISPA akut selama periode 1–22 Agustus 2026 mencapai 206,2 kasus per hari. Angka tersebut meningkat 22,8 persen dibandingkan rata-rata pada Juli yang mencapai 167,9 kasus per hari.Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan peningkatan kasus tersebut masih dalam kategori yang dapat dikendalikan. Hingga saat ini, belum terjadi lonjakan signifikan pasien ISPA yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.Sebagian besar pasien masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas dan klinik.“Peningkatan memang ada, tetapi masih dalam kategori yang wajar. Kenaikannya sekitar 22 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan kondisi ini masih bisa kami kendalikan,” ujar Ismed.Meski demikian, Dinkes terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan penyakit yang berpotensi dipengaruhi kondisi musim kemarau dan paparan asap.Konsentrasi Partikulat Naik Lebih dari Empat Kali LipatKondisi kabut asap juga menjadi perhatian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda.Hasil pemantauan pada Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 14.00 WITA menunjukkan konsentrasi partikulat di udara mencapai 63 mikrogram per meter kubik. Meski masih berada pada kategori sedang, angka tersebut meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan kondisi normal yang biasanya berada pada kisaran 0 hingga 15 mikrogram per meter kubik.Kepala BMKG Samarinda, Riza Arian Noor, menyebut peningkatan konsentrasi partikulat diduga berkaitan dengan aktivitas kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah sekitar Samarinda.Menurutnya, asap dari kebakaran dapat terbawa angin dan masuk ke wilayah Samarinda tanpa mengenal batas administratif.“Kalau ada kebakaran di wilayah sekitar, asapnya bisa terbawa angin ke Samarinda. Asap tidak mengenal batas kabupaten atau kota,” jelasnya.Masyarakat pun diminta mewaspadai perubahan kondisi lingkungan, terutama jika kabut semakin tebal, jarak pandang berkurang, dan aroma asap semakin kuat.Anak-Anak dan Lansia Diminta Kurangi Aktivitas di LuarBadan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda turut meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap bagi kesehatan masyarakat.Kepala BPBD Samarinda, Suwarso, mengatakan gejala paparan asap mulai dirasakan warga dalam beberapa hari terakhir. Keluhan seperti mata perih serta munculnya kabut tipis telah terlihat di sejumlah wilayah.Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan riwayat gangguan pernapasan, diminta lebih berhati-hati dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.“Gejala seperti mata mulai terasa perih dan kabut tipis sudah mulai terlihat di beberapa wilayah. Kami mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan, untuk menggunakan masker saat berada di luar rumah,” ujar Suwarso.BPBD juga telah berkoordinasi dengan Dinkes dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan kasus gangguan pernapasan apabila paparan asap berlangsung lebih lama.Sekolah Belum DiliburkanDi tengah meningkatnya perhatian terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat, Pemkot Samarinda belum memutuskan untuk meliburkan kegiatan sekolah.Sekretaris Daerah Kota Samarinda, Neneng Chamelia Shanti, mengatakan kebijakan penghentian sementara kegiatan belajar mengajar tidak dapat hanya didasarkan pada angka indeks kualitas udara.Pemerintah juga mempertimbangkan aktivitas anak-anak apabila sekolah diliburkan. Menurutnya, belum tentu seluruh siswa akan berada di dalam rumah dan mendapat pengawasan maksimal dari orang tua.“Dikhawatirkan anak-anak kita liburkan malah mereka jalan-jalan ke mana-mana. Kalau di sekolah, paling mereka di jalan antara rumah dengan sekolah,” ujar Neneng, Kamis (3/9/2026).Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Namun, pelajar diimbau menggunakan masker dan masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.Wilayah Palaran dan Sambutan menjadi perhatian khusus karena kualitas udara di kawasan tersebut sempat terpantau lebih buruk dibandingkan wilayah lain.Pemerintah Kota Samarinda memastikan pemantauan kondisi udara dan kesehatan masyarakat akan terus dilakukan. Kebijakan terkait aktivitas sekolah akan dievaluasi berdasarkan perkembangan situasi di lapangan.Di tengah musim kemarau dan meningkatnya risiko kebakaran, masyarakat juga diingatkan untuk tidak melakukan pembakaran sampah yang dapat memperburuk kualitas udara sekaligus meningkatkan potensi kebakaran.Situasi saat ini memang belum sampai pada kategori darurat. Namun, kabut asap yang mulai terasa, kenaikan konsentrasi partikulat hingga lebih dari empat kali lipat dari kondisi normal, serta tren peningkatan kasus ISPA menjadi sinyal bahwa kewaspadaan masyarakat Samarinda perlu terus ditingkatkan. (*)