Menilik Stasiun Trem Pare, Jantung Transportasi yang Kini Jadi Warung Sate

Wait 5 sec.

Tiga pintu utama Stasiun Trem Pae masih berdiri kokoh meski kini sudah berubah fungsi jadi warung sate. (Foto. Dok Pribadi - W.S Nurbaiti)Singgah di Pare, Kediri untuk belajar Bahasa Inggris saja tampaknya kurang afdhol. Sebab jika datang ke Pusat Kota Pare ini dan kalian akan dibuat takjub dengan sejarah bangunan-bangunan lama di sekitar Jalan PB Sudirman. Saat ini memang Pare dikenal sebagai kota pelajar, tetapi jauh sebelum tempat kursus bahasa Inggris bermunculan, kota ini pernah menjadi salah satu simpul penting jaringan trem uap di Kediri.Sekitar 1896 hingga akhir 1970-an, suara trem pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pare, Kediri. Salah satu tempat penting dalam perjalanan itu adalah Stasiun Trem Pare yang dibangun perusahaan Belanda, Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM), dan mulai beroperasi pada 1897. Catatan Sejarah, dulu stasiun ini bukan cuma tempat orang menunggu kereta. Barang yang keluar masuk melalui tempat ini juga beragam, terutama hasil bumi dan tebu dari sejumlah pabrik gula di kawasan Kediri.Sepanjang penelusuran saya di lokasi, ada satu hal yang menarik untuk bekas bangunan Stasiun Trem Pare yang masih ada sampai sekarang. Hanya saja, fungsinya sudah berubah. Jika dulu lokasi ini jadi tempat orang menunggu trem, kini menjadi warung sate dan gulai yang berada di depan Mapolres Kediri. Agak unik juga. Dulu orang datang ke sini untuk naik trem. Sekarang orang datang mungkin karena mencium aroma sate yang menggoda selera.Trem Pare jadi Denyut Nadi Ekonomi KediriSisa bangunan utama Stasiun Trem Pare di Jalan PB Sudirman yang kini jadi warung sate. (Foto. Dok Pribadi - W.S Nurbaiti)Pada masanya, Stasiun Trem Pare punya posisi penting. Jalur trem menghubungkan Jombang, Pare hingga Kediri. Dari jalur utama itu, jaringan trem juga bercabang menuju Kepung, Papar, Kencong hingga Kawarasan. Pare akhirnya bukan sekadar tempat persinggahan. Kota ini menjadi salah satu simpul pergerakan orang dan barang pada masa kolonial.Trem uap membantu menghubungkan kawasan perkebunan, pabrik gula, pasar hingga kota-kota yang menjadi pusat perdagangan. Kalau sekarang kita mengenal bus, kereta api dan kendaraan online sebagai penggerak mobilitas, dulu trem uap punya peran serupa. Bedanya, suaranya mungkin jauh lebih berisik dan asapnya lebih tebal.Bahkan sejumlah catatan menunjukkan jika Trem di Pare ternyata bukan sekadar urusan membawa penumpang. Jaringan trem juga menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi kolonial. Hasil bumi, terutama tebu dari kawasan pabrik gula seperti Ngadiluwih, Pesantren dan Wates, ikut bergerak melalui jaringan transportasi tersebut.Rel yang membentang di kawasan Kediri pada masa itu punya fungsi ekonomi yang besar. Barang bisa dibawa menuju pusat distribusi, sementara orang bisa berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Oleh karena itu, jalur trem bukan hanya soal transportasi. Ia juga menjadi urat nadi perdagangan pada zamannya.Stasiun Hilang, Sate pun DatangPembeli datang di bangunan Stasiun Trem Pare yang kini jadi Warung Sate. (Foto. Dok Pribadi - W.S Nurbaiti)Setelah trem berhenti beroperasi pada 1978, perlahan jaringan relnya menghilang. Rel dicabut, jalur berubah, dan bangunan yang dulu menjadi bagian dari sistem perkeretaapian mulai berganti fungsi. Bekas Stasiun Pare pun mengalami nasib serupa. Kini bangunannya digunakan sebagai warung sate dan gulai, tepat di depan Mapolres Kediri.Kalau tidak diberi tahu, mungkin orang akan mengira bangunan itu memang sejak awal dibuat untuk tempat makan. Padahal, lebih dari seabad lalu, tempat yang sama merupakan bagian dari jaringan transportasi kolonial yang menghubungkan berbagai wilayah Kediri dan sekitarnya. Meski trem sudah lama berhenti beroperasi, jejaknya belum benar-benar hilang dari Pare.Beberapa titik persimpangan, jembatan kecil dan bekas rel yang tertanam di bahu jalan masih bisa ditemukan kalau kita mau sedikit lebih jeli. Masalahnya, jejak semacam ini sering dianggap sebagai bagian biasa dari lingkungan sekitar.Padahal, bisa jadi benda yang kita anggap tidak penting itu merupakan potongan sejarah transportasi yang pernah menghidupkan sebuah kota. Pare sekarang memang lebih dikenal sebagai kota pelajar. Tetapi sebelum orang-orang datang untuk belajar bahasa Inggris, kota ini sudah lebih dulu menjadi bagian dari jaringan transportasi yang menghubungkan berbagai wilayah di Kediri.Dulu Ramai Penumpang, Kini Tinggal KenanganSisa Rel Trem dari Stasiun Pare yang melintas di Gayam, Gurah, Kediri terlihat jelas tepat berada di pinggir jalan utama. (Foto. Dok Pribadi - W.S Nurbaiti)Trem Pare akhirnya berhenti beroperasi pada 1978. Meski hingga saat ini sejumlah rel dibiarkan terpendam dan jalurnya berubah mengikuti perkembangan zaman. Tidak ada lagi suara roda besi berjalan di atas rel. Tidak ada lagi asap trem yang mengepul. Tidak ada lagi penumpang yang menunggu perjalanan menuju Kediri, Jombang atau wilayah lainnya.Sejauh pengamatan penulis setiap melintas di sekitaran Pare arah menuju Gurah, Kediri yang tersisa kini tinggal potongan rel, jembatan kecil dan sejumlah cerita yang saya dengar dari orang tua di wilayah itu yang kini perlahan mulai dilupakan. Padahal jika mau dilihat secara mendalam, sejarah tidak selalu tersimpan di museum. Kadang ia justru bersembunyi di tempat yang tidak kita duga. Bisa berupa rel tua di pinggir jalan. Bisa berupa jembatan kecil yang terlihat biasa. Atau bahkan sebuah warung sate yang berdiri di bekas stasiun seperti di Jalan PB Sudirman, Pare, Kediri.Jadi, kalau suatu hari kalian ada kesempatan berkunjung ke Pare, Kediri coba saja makan sate di depan Mapolres Kediri dan melihat bangunan tua di sekitarnya, jangan cuma fokus pada sambalnya. Nikmati juga bangunan sejarahnya. Sebab tempat yang digunakan untuk tempat makan ini pernah menjadi salah satu jantung transportasi Pare lebih dari seabad lalu.Dulu trem datang membawa penumpang dan barang. Sekarang sate datang membawa aroma. Bangunannya memang berubah fungsi, tetapi ceritanya tidak akan pernah basi.