El Nino Diprediksi hingga Mei 2027, Petani Diminta Sesuaikan Masa Tanam

Wait 5 sec.

Petani menanam padi di Aceh, Senin (19/5/2025). Foto: Chaideer Mahyuddin/AFPBadan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta petani untuk menyesuaikan masa tanam seiring El Nino yang kini telah memasuki fase kuat dan akan berlangsung hingga Mei 2027.Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan langkah tersebut ditujukan agar petani bisa menghindari risiko gagal panen akibat musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang, utamanya untuk wilayah selatan garis khatulistiwa.Wilayah tersebut meliputi NTT, NTB, Bali, Pulau Jawa, Sumatera bagian selatan, hingga Papua Selatan. Selain itu, Teuku juga melihat percepatan masa tanam ini juga ditujukan agar petani tetap menanam komoditas pangan imbas meskipun akan menghadapi El Nino.“Karena yang kita takutkan adalah ketika terjadi gagal panen atau masyarakat enggan menanam karena menghadapi El Nino ini,” kata Teuku kata Teuku Faisal di Kantor Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Selasa (4/8).Meskipun Teuku juga mengakui saat musim hujan tiba pada Oktober mendatang, dampak yang ditimbulkan oleh El Nino akan mulai berkurang.Selain penyesuaian masa tanam, BMKG juga mendorong penanaman varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering pada kondisi ini. Petani kemudian diberikan pendampingan melalui Sekolah Lapang Iklim yang melibatkan dinas pertanian dan penyuluh pertanian lapangan.Dia menjelaskan BMKG telah melatih lebih dari 40 ribu peserta melalui berbagai program pendampingan, mulai dari soal iklim bagi petani, soal cuaca bagi nelayan, hingga soal gempa bumi dan tsunami.BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca di Waduk Lokasi PLTA Imbas El NinoKepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta Pusat, Selasa (4/8/2026). Foto: Widya Islamiati/kumparanDi sektor energi, BMKG melakukan operasi modifikasi cuaca untuk menjaga pasokan air di lokasi waduk yang dimanfaatkan sebagai sumber air baku, irigasi, hingga pembangkit listrik tenaga air (PLTA).Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menuturkan pasokan air hujan ke sejumlah waduk menipis akibat berkurangnya curah hujan akibat El Nino. Sehingga modifikasi cuaca dibutuhkan. Terlebih saat ini air dari waduk bisa dipergunakan untuk berbagai macam kebutuhan, mulai dari pertanian hingga energi untuk PLTA.“BMKG bekerja sama dengan para stakeholder, dengan pengelola waduk, Kementerian PU dan sebagainya melaksanakan operasi modifikasi cuaca untuk menambah pasokan air waduk,” jelasnya.Seto menjelaskan BMKG telah melakukan modifikasi cuaca di beberapa waduk yang dimanfaatkan untuk PLTA, seperti di seperti Danau Toba, Danau Poso dan Sungai Poso yang dimanfaatkan oleh PLTA Poso Energi.Retakan tanah terlihat di area persawahan yang dilanda kekeringan saat musim kemarau, di tengah prakiraan bahwa El Nino dapat memicu kondisi yang lebih kering dari biasanya, di desa Rido Galuh, Kabupaten Bekasi, Indonesia, Kamis (16/7/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERSTerakhir, modifikasi cuaca juga sedang dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Jawa Barat. DAS ini dimanfaatkan untuk beberapa PLTA, seperti PLTA Cirata, Saguling hingga Jatiluhur.“Hari ini kami sedang melaksanakan operasi di DAS Citarum, Jawa Barat. Supaya pasokan energi, air, dan pertanian itu bisa terjaga dengan baik,” jelasnya.Kemudian untuk menghadapi El Nino ini, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bersama BMKG dan sejumlah kementerian/lembaga telah menyusun policy brief sebagai panduan menghadapi dampak El Nino di berbagai sektor.Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo Teguh Sambodo mengatakan dokumen tersebut menjadi upaya untuk mengonsolidasikan langkah pemerintah menghadapi El Nino. Terlebih kini El Nino berada pada fase kuat.Menurut Leonardo, policy brief tersebut berisi langkah penanganan di sektor pertanian, pangan akuatik atau pesisir, energi, sumber daya air, hingga kesehatan.“Kami melihat ini sebagai satu siklus yang perlu direspons dengan kesiapsiagaan yang lebih baik dan konsolidasi yang lebih baik,” katanya.