Menko Pangan Zulkifli Hasan bersama Kepala BGN Sudaryono dalam Rakortas perbaikan tata kelola MBG di Ruang Rapat Utaka Kemenko Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Kamis (6/8/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparanKepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengungkapkan hasil investigasi sementara terkait penyebab kasus keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Temuan tersebut masih didalami sebagai bagian dari investigasi kasus keracunan.Karena itu, BGN kini memperketat pelaksanaan standar operasional prosedur (SOP) untuk mencegah kejadian serupa terulang.“Sejauh ini investigasi sementara mereka masaknya kecepetan. Intinya kita berpacu melawan waktu bagaimana caranya memastikan tidak boleh ada keracunan lagi,” kata Sudaryono usai rapat koordinasi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Kamis (6/8).Menurut Sudaryono, hasil evaluasi juga menemukan masih ada dapur MBG yang telah lama beroperasi tetapi belum melengkapi SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi).“SLHS kita kasih sampai dengan tanggal 10. Ternyata ada dapur-dapur yang sudah beroperasi lama selama ini itu tidak melengkapi diri dengan SLHS,” beber dia.Erna Pujiastuti, petugas SPPG Grajegan yang sekaligus mantan pekerja pabrik tekstil tengah mengemas menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin (16/3/2026). Foto: Dok. Bakom RIDia menjelaskan, kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapur yang belum memenuhi standar higienitas berpotensi menimbulkan persoalan keamanan pangan.“Kami menduga bahwa salah satu yang barangkali menjadi kecurigaan besar, kan kalau dapurnya tidak terstandar sertifikasi higienis kan bahaya,” tutur Sudaryono.BGN pun memberikan kesempatan hingga 10 Agustus kepada dapur yang belum melengkapi SLHS. Apabila hingga batas waktu tersebut persyaratan belum dipenuhi, BGN akan melakukan investigasi lebih lanjut.“Kalau memang ternyata sampai tanggal 10 kok enggak ngurus, kan berarti ada something. Nah itu tentu akan kita investigasi,” ujar dia.