Sejumlah warga melihat gedung bertingkat di Beijing, China, Minggu (11/5/2025). Foto: Pedro Pardo/AFPAda banyak alasan mengapa saya bersyukur bisa datang ke Beijing. Sebagian karena kesempatan untuk belajar, sebagian lagi karena pengalaman-pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tulisan ini adalah salah satunya.Saat ini, saya berada di Negeri Tirai Bambu untuk mengikuti Seminar Development of Transmigration Areas in Indonesia yang diselenggarakan pada 29 Juli–11 Agustus 2026. Perjalanan ini merupakan sebuah anugerah bagi saya, untuk terus berjuang menimba ilmu pengetahuan dengan harapan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.Menginjakkan kaki di Beijing, belajar bersama orang-orang di sini, serta berkenalan dengan peserta yang memiliki latar belakang berbeda menjadi pengalaman yang sangat berharga. Di antara 37 peserta seminar, saya ternyata menjadi peserta termuda. Selain itu, saya juga berkesempatan mengenal para pemateri dan panitia yang selama kegiatan banyak membantu kami.Di antara begitu banyak wajah yang saya temui selama berada di Beijing, ada satu yang perlahan mulai menjadi bagian dari catatan perjalanan saya. Saya tidak tahu apakah itu hanya sebuah kebetulan atau memang karena kami cukup sering bertemu selama kegiatan seminar. Yang jelas, beberapa momen sederhana membuat perjalanan ini terasa sedikit berbeda.Salah satu momen itu terjadi pada 30 Juli 2026.Selepas kelas sore, saya berencana untuk berlari di sekitar hotel tempat kami menginap di Daxing District. Sejak tiba di Beijing, saya memang ingin mencoba berlari sambil menikmati suasana kota pada malam hari. Sebelum keluar dari hotel, saya mengirimkan sebuah pesan melalui WhatsApp."I want to run in the afternoon. This place is safe, right?"Tidak lama kemudian, balasannya masuk."Yes. I even run at night."Jawaban singkat itu membuat percakapan kami berlanjut. Ternyata, malam itu dia juga berencana untuk berlari. Awalnya dia berencana berlari sekitar pukul 21.00 CST. Namun, setelah berbincang beberapa saat, kami akhirnya sepakat untuk memulai lari lebih awal, tepat pada pukul 19.20 CST.Kami merencanakan lari sejauh lima kilometer menyusuri pinggiran sungai di samping penginapan. Udara malam Beijing terasa cukup nyaman, sementara lampu-lampu di sepanjang jalan mulai memantul di permukaan sungai.Di luar dugaan, langkahnya jauh lebih cepat daripada yang saya bayangkan. Saat itu saya baru mengetahui bahwa dia memang memiliki hobi berlari. Sementara saya, terakhir kali berlari pada awal Juli dan bahkan belum mampu menyelesaikan lima kilometer. Saya hanya sanggup mencapai sekitar empat kilometer.Sebagai seorang laki-laki, jujur saya merasa sedikit malu. Namun, saya juga harus jujur dengan kemampuan diri sendiri. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan.Setelah itu, kami menuju sebuah taman yang tidak jauh dari penginapan. Di sana saya menyaksikan suasana yang menarik. Anak-anak muda bermain basket, orang-orang dewasa bermain bulu tangkis, para lansia bermain tenis meja, sementara di sudut lain tampak sekelompok ibu-ibu dan bapak-bapak sedang mengikuti senam bersama. Bagi saya, taman itu bukan sekadar ruang terbuka hijau, melainkan juga ruang sosial tempat masyarakat berkumpul, berinteraksi, dan berolahraga bersama.Setelah mengelilingi taman tersebut, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Sebelum berpisah, kami sempat berfoto berdua di persimpangan jalan di samping penginapan.Sesampainya di hotel, kami kembali berjalan menuju lift. Kebetulan kami menggunakan lift yang sama. Lift berhenti lebih dulu di lantai enam, tempat kamarnya berada.Sebelum pintu lift tertutup, dia menoleh sambil tersenyum."See you."Saya tersenyum dan membalas,"See you too."Pintu lift kembali menutup, lalu perlahan bergerak menuju lantai delapan.Saya kembali ke kamar untuk beristirahat. Hingga tulisan ini saya buat, saya tidak menyangka bahwa sebuah lari sore yang direncanakan secara sederhana akan menjadi salah satu momen yang paling membekas selama rangkain perjalanan di Beijing.