Seorang teknisi laboratorium berpose dengan sampel bahan bakar B50 saat acara pengujian biodiesel sawit di Lembang, Provinsi Jawa Barat, Selasa (21/04/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERSProgram mandatori biodiesel B50 dinilai tak hanya berdampak pada industri energi nasional, tetapi juga berpotensi menggerakkan sektor perkebunan sawit (CPO) sebagai bahan baku melalui proses menjadi FAME (Fatty Acid Methyl Ester).Meningkatnya kebutuhan bahan baku biodiesel diperkirakan akan mendorong aktivitas distribusi dan logistik, sekaligus membuka peluang bagi industri kendaraan niaga.PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), distributor kendaraan niaga Mitsubishi Fuso di Indonesia, melihat kebijakan tersebut sebagai katalis positif bagi permintaan truk, terutama di wilayah yang selama ini menjadi sentra produksi kelapa sawit nasional.Warna-warni truk Fuso di Jambore Nasional Canter Mania Indonesia Community ke-12 di Purwokerto. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparanSales & Marketing Director PT KTB, Aji Jaya, mengatakan sektor perkebunan merupakan salah satu kontributor penting bagi penjualan truk Fuso. Karena itu, meningkatnya aktivitas industri sawit diyakini akan ikut mengerek kebutuhan armada angkutan."Kalau melihat implementasi B50, tentu akan berdampak pada industri sawit karena kebutuhan bahan bakunya meningkat. Buat kami itu menjadi peluang, karena salah satu segmen yang kami layani memang sektor plantation," ujar Aji saat ditemui di ICE BSD, Tangerang, Rabu (5/7) 2026.Ia menjelaskan, selama ini pasar terbesar Fuso masih berasal dari sektor logistik. Namun, industri perkebunan juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penjualan kendaraan niaga perusahaan."Kalau komposisi pasar kami, logistik masih yang terbesar, sekitar 50 persen. Setelah itu ada plantation yang porsinya hampir 20 persen. Sisanya berasal dari sektor konstruksi, manufaktur, sampai pertambangan," katanya.Fuso Canter jadi truk light duty truck terlaris di Bukittinggi, Sumatera Barat. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparanAji mengatakan Fuso memiliki basis pasar yang cukup kuat di wilayah-wilayah penghasil sawit. Kondisi tersebut membuat perusahaan optimistis dapat menangkap peluang apabila aktivitas perkebunan dan distribusi hasil sawit meningkat seiring implementasi B50."Di Sumatera kami cukup kuat, begitu juga di Kalimantan. Wilayah-wilayah itu memang menjadi pasar utama sektor plantation. Jadi kalau industrinya tumbuh, tentu kebutuhan transportasinya juga akan ikut bergerak," ujarnya.Menurut Aji, peningkatan aktivitas di sektor perkebunan tidak hanya berdampak pada pengangkutan tandan buah segar (TBS), tetapi juga distribusi berbagai kebutuhan operasional perkebunan hingga hasil olahan sawit. Seluruh aktivitas tersebut membutuhkan kendaraan niaga sebagai penunjang logistik.Fasilitas perbaikan kabin truk dan sasis Mitsubishi Fuso di Cikupa, Tangerang. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparanMeski demikian, KTB masih akan terus memantau perkembangan implementasi B50 di lapangan. Sebab, kebijakan tersebut baru berjalan dan dampaknya terhadap permintaan kendaraan niaga diperkirakan akan terlihat secara bertahap.Di sisi lain, perusahaan juga terus melakukan pemantauan terhadap performa truk yang telah menggunakan bahan bakar B50. Berdasarkan evaluasi awal, KTB tidak menemukan adanya perubahan signifikan terhadap keandalan kendaraan."Sejauh ini belum ada laporan yang menunjukkan adanya peningkatan kerusakan atau masalah khusus setelah penggunaan B50. Kami tetap melakukan monitoring karena implementasinya juga masih berjalan," tutup Aji.