Ilustrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Foto: Canva.Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuat masyarakat semakin mudah memperoleh informasi dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut menghadirkan tantangan baru, yakni memastikan informasi yang diterima memiliki sumber yang jelas, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Student Dormitory, Selasa (4/8). Mengusung tema "Kesadaran, Perilaku, Interaksi, dan Budaya Informasi di Era Kecerdasan Buatan", forum ini membahas perubahan cara masyarakat mencari, menggunakan, dan berinteraksi dengan informasi di tengah perkembangan AI.Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Aminudin Aziz dalam Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Student Dormitory, Selasa (4/8). Foto: Dok. Istimewa.Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Aminudin Aziz, mengatakan perkembangan AI telah mengubah tantangan utama perpustakaan. Jika sebelumnya perpustakaan berfokus menyediakan akses informasi, kini tantangannya memastikan masyarakat mampu memperoleh informasi yang benar."Selama ini pertanyaan utama perpustakaan adalah bagaimana menyediakan informasi. Namun hari ini pertanyaannya telah berubah menjadi bagaimana memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar. Bagaimana membangun kemampuan berpikir kritis di tengah banjir informasi, menggunakan dukungan AI tanpa kehilangan integritas, etika, dan moral, serta menjaga agar perpustakaan tetap menjadi institusi yang dipercaya ketika mesin mampu menghasilkan jawaban hanya dalam hitungan detik," ujar Aminudin, Selasa (4/8).Menurut Aminudin, AI memberikan berbagai kemudahan bagi masyarakat, mulai dari mempercepat pencarian informasi, merangkum dokumen, membantu penerjemahan, hingga mendukung kegiatan penelitian. Namun, teknologi tersebut juga memiliki risiko karena dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat, bias, atau tidak memiliki sumber yang jelas.Ilustrasi perpustakaan. Foto: Canva.Perubahan tersebut membuat peran perpustakaan menjadi semakin penting. Perpustakaan tidak lagi hanya berfungsi menyediakan akses terhadap koleksi informasi, tetapi juga membantu masyarakat memahami kualitas informasi, menilai kredibilitas sumber, serta membangun kemampuan literasi informasi, digital, dan data."Pusat perubahan dan transformasi bukanlah teknologi, melainkan manusia. Perpustakaan memiliki tanggung jawab membangun masyarakat yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi untuk mengakses dan memproduksi informasi. Namun juga sadar terhadap kualitas informasi, kredibilitas sumber, keamanan data pribadi, perlindungan hak cipta, serta pentingnya etika dalam pemanfaatan AI," jelasnya.Foto bersama setelah Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Student Dormitory, Selasa (4/8). Foto: Dok. Istimewa.Ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia, Joko Santoso, mengatakan KPDI ke-17 menjadi ruang untuk membahas perubahan ekosistem informasi sekaligus mendorong pengembangan kemampuan menghadapi perkembangan teknologi AI."Berbeda dengan penyelenggaraan KPDI pada tahun-tahun sebelumnya, KPDI ke-17 tidak hanya menghadirkan seminar dan presentasi makalah ilmiah, tetapi juga memperluas ruang pembelajaran melalui berbagai kegiatan yang lebih aplikatif," ujar Joko.Salah satu pembaruan dalam KPDI ke-17 adalah layanan software clinic yang memberikan ruang konsultasi terkait repositori institusi, otomasi perpustakaan, integrasi sistem, pengelolaan data digital, hingga pengembangan layanan berbasis teknologi.Melalui forum tersebut, KPDI ke-17 mendorong kolaborasi antara pustakawan, akademisi, peneliti, dan praktisi teknologi untuk membangun ekosistem perpustakaan digital yang mampu beradaptasi dengan perkembangan AI.