Apa program MBG layak dapat Nobel Perdamaian? Belajar dari World Food Programme

Wait 5 sec.

● Usulan Nobel Perdamaian untuk program MBG memerlukan pembuktian rekam jejak yang panjang.● WFP sudah terbukti membantu mengatasi masalah pangan dunia selama puluhan tahun.● Evaluasi kelayakan MBG perlu lebih transparan dan berbasiskan data yang valid.Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perbincangan publik setelah sebuah makalah yang terbit di Social Science Research Network (SSRN) mengusulkan program tersebut sebagai kandidat Nobel Perdamaian 2026. SSRN adalah repositori daring untuk naskah akademis dan prapublikasi penelitian (preprint).Bagi sebagian kalangan, gagasan tersebut mungkin terdengar berlebihan. Namun, upaya menghubungkan isu pangan dengan perdamaian sebenarnya bukan hal baru. Berbagai studi menunjukkan bahwa kerawanan pangan dapat mengganggu stabilitas sosial dan memicu konflik. Sementara itu, akses masyarakat terhadap pangan turut menyokong pembangunan manusia dan stabilitas jangka panjang.Hubungan inilah yang mendorong Komite Nobel menganugerahkan Nobel Perdamaian 2020 kepada World Food Programme (WFP). Organisasi pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut dinilai berkontribusi dalam memerangi kelaparan, memperbaiki kondisi bagi perdamaian di wilayah terdampak konflik, serta mencegah penggunaan kelaparan sebagai senjata perang.Karena itu, pertanyaan mengenai kelayakan MBG tidak dapat dijawab hanya melalui dukungan atau penolakan semata. Pertanyaan yang lebih penting adalah: sejauh mana MBG memenuhi standar dampak, rekam jejak, dan pembuktian yang selama ini menjadi dasar pertimbangan Nobel Perdamaian?Apa yang membuat WFP layak mendapat nobel?Ada setidaknya tiga alasan yang membuat WFP memperoleh Nobel Perdamaian.Pertama, dampaknya bersifat global. WFP bekerja di berbagai negara yang menghadapi konflik, bencana, krisis kemanusiaan, dan pengungsian massal. Pemenuhan pangan dalam hal ini tidak hanya berkaitan dengan gizi, tetapi juga keselamatan manusia dan stabilitas sosial. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kerawanan pangan dapat memperbesar risiko konflik dan ketidakstabilan.Kedua, Nobel Perdamaian umumnya diberikan berdasarkan rekam jejak yang panjang dan dapat diverifikasi. WFP telah beroperasi selama lebih dari enam dekade dan menjadi salah satu organisasi kemanusiaan terbesar di dunia dalam penanganan kelaparan. Dengan kata lain, penghargaan tersebut diberikan bukan atas potensi atau janji, melainkan dampak yang telah diamati selama puluhan tahun.Ketiga, upaya WFP berkelindan dengan agenda perdamaian. Melalui bantuan pangan darurat di wilayah konflik seperti Sudan dan Gaza, WFP membantu menjaga kelangsungan hidup masyarakat terdampak perang sekaligus mengurangi kerentanan yang muncul akibat terganggunya akses pangan.Dari perspektif ini, Nobel Perdamaian untuk WFP dapat dipahami sebagai pengakuan atas kombinasi dampak kemanusiaan global dengan rekam jejak yang panjang. Upaya WFP juga dianggap terbukti mengurangi dampak krisis pangan dan kemanusiaan.Bagaimana dengan MBG?Jika kita menggunakan tolok ukur seperti WFP, ada beberapa hal yang patut kita apresiasi dari MBG. Program ini dirancang untuk meningkatkan akses terhadap makanan bergizi, memperkuat kualitas sumber daya manusia, serta berpotensi mendorong aktivitas ekonomi lokal melalui keterlibatan petani dan pelaku usaha pangan. Baca juga: Dari kantin hingga katering: Bagaimana MBG berisiko menggerus pendapatan perempuan Tujuan tersebut sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa perbaikan gizi dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, pendidikan, dan produktivitas masyarakat dalam jangka panjang. Oleh karena itu, sebagai kebijakan publik, MBG layak dipandang sebagai investasi yang berpotensi memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang luas.Namun, kita perlu membedakan antara potensi dan dampak yang telah terbukti.Program ini masih baru. Belum ada evaluasi jangka panjang dampak MBG terhadap penurunan stunting, perkembangan kognitif anak, maupun kesejahteraan ekonomi masyarakat.Hal yang sama berlaku untuk klaim perdamaian. Studi perdamaian kontemporer mengenal konsep positive peace, yakni kondisi perdamaian yang muncul karena rendahnya ketimpangan, kuatnya institusi, dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.Dalam konsep ini, perbaikan gizi dan pengurangan kerentanan sosial memang dapat dipandang sebagai faktor yang mendukung stabilitas sosial. Namun, hingga kini, hubungan antara program MBG dan perdamaian masih memerlukan pembuktian empiris yang lebih kuat daripada sekadar hubungan teoritis antara pangan, kesejahteraan, dan stabilitas. Dengan kata lain, masih terlalu dini untuk menyimpulkan sejauh mana MBG menghasilkan dampak perdamaian yang dapat diukur—sebagaimana yang menjadi salah satu pertimbangan Nobel Perdamaian.Apa yang perlu diperbaiki?Terlepas dari perdebatan usulan MBG untuk mendapatkan Nobel Perdamaian, yang lebih penting justru bagaimana kita menilai keberhasilannya secara ilmiah.Sebagai program nasional dengan anggaran ratusan triliun, MBG memerlukan evaluasi yang transparan, berkelanjutan, dan dapat diuji secara independen. Baca juga: Kasus MBG menunjukkan bagaimana pemerintah mengontrol informasi untuk membenarkan kebijakan Analisis yang terbit di The Lancet Regional Health Southeast Asia pada 2026 memang mengakui potensi MBG meningkatkan status gizi, kehadiran siswa di sekolah, dan hasil pembelajaran. Namun, studi tersebut juga menyoroti adanya kelemahan dalam penerapan standar keamanan pangan dan sistem pemantauannya. Apalagi terdapat 37 ribu kasus keracunan makanan yang dilaporkan sejak program ini diluncurkan.Temuan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa MBG gagal. Ia justru mengingatkan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kualitas pelaksanaannya.Pengalaman berbagai program makan sekolah di dunia menunjukkan bahwakeberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh jumlah makanan yang dibagikan, tetapi juga kualitas pelaksanaan, keterlibatan keluarga dan komunitas, serta kemampuannya menjangkau kelompok yang paling membutuhkan. Oleh karena itu, evaluasi MBG sebaiknya tidak hanya berfokus pada jumlah makanan yang dibagikan atau anggaran yang terserap.Dampak MBG juga perlu diukur secara akurat dan komprehensif, mulai dari status gizi, kehadiran sekolah, hingga manfaat ekonomi bagi masyarakat, hingga hubungan program dengan sistem pangan lokal. Tanpa data yang dapat diverifikasi, sulit membedakan antara keberhasilan yang nyata dan klaim yang masih bersifat asumsi.Nobel Perdamaian pada dasarnya bukan penghargaan atas niat baik, melainkan pengakuan atas perubahan yang telah terbukti terjadi. Program MBG yang membawa harapan besar bagi jutaan anak Indonesia bisa menjadi salah satu investasi sosial terbesar dalam sejarah negara ini. Namun, apakah program ini suatu hari layak dipandang berkontribusi terhadap perdamaian, ketahanan pangan, atau pembangunan manusia, hanya waktu dan bukti yang dapat menjawabnya. Seperti halnya pengalaman WFP, perjalanan menuju pengakuan global tidak diukur dari besarnya janji maupun klaim yang disampaikan, tetapi dari banyaknya kehidupan yang benar-benar berhasil diubah. Baca juga: Nobel Perdamaian: mengenal Narges Mohammadi dan perjuangan HAM ribuan perempuan di Iran Iskandar adalah salah satu dari 600 ilmuwan muda dunia yang mengikuti 75th Lindau Nobel Laureate Meeting di Jerman selama 28 Juni - 3 Juli 2026. Forum ini mempertemukan peraih Nobel dan peneliti muda dari berbagai negara. Keterlibatan tersebut tidak terkait dengan penulisan artikel ini dan tidak memengaruhi analisis maupun penilaian yang disampaikan.