Seorang peneliti BRIN mempresentasikan karyanya di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (6/8/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat PresidenPresiden Prabowo Subianto menyoroti capaian Indonesia dalam Programme for International Student Assessment (PISA). Menurutnya, hasil tersebut menunjukkan kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dibanding sejumlah negara tetangga.Hal itu disampaikan Prabowo saat bertemu dengan 150 periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (6/8)."Jadi skor PISA membaca, skor kita tadi kalau Anda lihat di situ, hanya sedikit di atas Filipina. Kita masih di bawah Thailand, di bawah Malaysia, di bawah Belanda, di bawah Vietnam, di bawah rata-rata OECD, di bawah Jepang, di bawah Singapura," kata Prabowo.Presiden Prabowo Subianto melihat siswa mengikuti kegiatan belajar usai meresmikan SMA Taruna Nusantara Kampus Malang, Rabu (14/1/2026). Foto: Instagram/@sekretariat.kabinetMeski demikian, Prabowo menilai perbandingan dengan Singapura tidak sepenuhnya sebanding karena perbedaan skala dan tantangan yang dihadapi kedua negara."Kalau Singapura saya nggak terlalu, nggak usah kita terlalu khawatir kok hanya negara 5 juta kok, satu kota ya kan," jelas Prabowo."Kalau Menteri Pendidikan Singapura itu sebetulnya nggak bisa dibandingkan dengan Menteri Pendidikan Indonesia ya kan. Indonesia punya 388.000 sekolah kalau tidak salah, nanti dicek ya. Ada di tengah gunung, ada di pulau terluar, ada, jadi bagaimana memberi pendidikan yang terbaik untuk Indonesia," sambung dia.Warga dibantu oleh komunitas sepeda Jurnalis Kayuh Indonesia dan JMTB saat membereskan ruang kelas di sekolah dasar SDN 01 Malasari di desa Nanggung, Bogor, Jawa Barat, Jumat (8/4). Foto: Aditia Noviansyah/kumparanMenurut Prabowo, kondisi geografis dan besarnya jumlah sekolah di Indonesia menjadi tantangan tersendiri dalam pemerataan layanan pendidikan. Namun, hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk tertinggal."Now it's real, it's reality, it's reality. Dia berhasil, tapi kesulitan kita sangat besar. Ini tidak boleh alasan bahwa kita menilai bahwa kita tidak perlu kejar ketertinggalan. Ini saya sampaikan ini yang saya katakan realita," tutur Prabowo.Ia juga mengingatkan agar Indonesia tetap objektif dalam menilai berbagai indikator internasional, tanpa mengabaikan tantangan yang dihadapi sebagai negara kepulauan dengan wilayah yang luas."Ini orang luar lihat kita ya kita boleh kita terima tapi kita jangan terlalu juga terlalu takut. Dia hanya lihat gambar dari luar, dia nggak lihat kesulitan-kesulitan yang kita hadapi sebagai negara yang sangat besar ya," lanjutnya.