Ilustrasi Google. Foto: Shutter StockGoogle mematikan total akses mesin pencari Google Search bagi sekolah yang menolak integrasi fitur kecerdasan buatan (AI) mereka pada pekan ini. Kebijakan ketat ini menyasar seluruh akun siswa tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas (K-12).Pihak pengelola sekolah kini tidak lagi diberikan opsi untuk menonaktifkan fitur asisten cerdas Gemini tanpa mematikan fungsi pencarian dasar web secara bersamaan. Langkah drastis ini memaksa institusi pendidikan memilih antara mengadopsi paket kecerdasan buatan secara menyeluruh atau kehilangan akses informasi pencarian sama sekali.Integrasi Penuh Antara Mesin Pencari dan Fitur GeminiMelalui pembaruan sistem pendidikan terbarunya, Google menetapkan bahwa akses menuju Gemini, Gemini Notebook, Gemini in Classroom, serta Google Search akan berstatus nonaktif secara otomatis bagi siswa K-12. Seluruh layanan tersebut baru bisa diakses kembali apabila administrator sekolah memberikan persetujuan eksplisit untuk menyalakan fiturnya.Kebijakan tersebut secara sengaja mengunci kedua platform dalam satu kesatuan sistem yang tidak dapat dipisahkan secara mandiri oleh pihak sekolah. Vice President of Education Google, Chris Phillips, menegaskan bahwa pencarian web dan teknologi generatif saat ini telah menjadi satu kesatuan utuh."Pencarian dan AI terintegrasi secara mendalam, sehingga sekolah yang menonaktifkan fitur AI Google tidak akan memiliki akses ke Search, dan mereka akan melihat pesan dari sekolah yang menunjukkan bahwa layanan tersebut tidak tersedia," ujar Chris Phillips, mengutip The New York Times.Ilustrasi Google Gemini AI. Foto: Poetra.RH/ShutterstockGelombang Penolakan dan Kecaman Para Pejabat PublikKeputusan sepihak ini memicu polemik serta kecaman keras dari sejumlah pembuat kebijakan dan pejabat publik di Amerika Serikat. Senator Bernie Sanders secara terbuka menyebut langkah pemblokiran akses mesin pencari tersebut sebagai bentuk pemerasan terhadap sistem pendidikan publik.Kritik tajam senada juga disuarakan oleh Walikota New York City, Zohran Mamdani, yang menyoroti dominasi penyedia teknologi terhadap kurikulum belajar mengajar siswa. "Tidak boleh ada korporasi yang memiliki kekuasaan untuk mendikte bagaimana kita mendidik anak-anak kita," tutur Zohran Mamdani.Sekretaris Layanan Bisnis dan Konsumen California, Rohit Chopra, turut memperingatkan bahaya perusahaan teknologi raksasa yang menekan sekolah memanfaatkan ketergantungan infrastruktur digital. Kekhawatiran ini kian beralasan mengingat asisten AI Gemini sebelumnya telah diaktifkan secara baku pada aplikasi Google Classroom yang digunakan lebih dari 150 juta pengajar dan pelajar di seluruh dunia.Dampak Kualitas Belajar dan Argumen Pembelaan GoogleKecemasan para pendidik berakar pada laporan penurunan nilai ujian dan penurunan daya analitis siswa akibat ketergantungan berlebih terhadap jawaban otomatis kecerdasan buatan. Sejumlah legislator sebelumnya telah menekan Google terkait potensi bahaya penyebaran teknologi generatif di ruang kelas tanpa pengawasan ketat.Google membela diri dengan menyatakan bahwa penyesuaian ini bertujuan memberi keleluasaan bagi sekolah dalam menentukan instrumen digital masing-masing secara utuh. Perusahaan juga berupaya menjawab kekhawatiran terkait siswa yang memanfaatkan jalan pintas instan dengan menguji coba fitur bimbingan terarah Guided Learning pada layanan AI Overviews di Search untuk beberapa sekolah pilihan.