● Buku matematika SD masih mengajarkan pecahan secara usang dan mengabaikan kesiapan mental siswa.● Penyusunan buku ajar idealnya berbasis riset per topik, diuji di kelas, dan terbuka terhadap kritik.● Pemerintah harus melibatkan komunitas peneliti agar temuan akademis bisa nyata terpakai di buku sekolah.Buku pelajaran berperan sangat penting, baik dari sudut pandang kebijakan seperti kurikulum, maupun praktis, sebagai salah satu sumber ajar bagi guru di kelas. Namun seringnya, alur pembelajaran materi dalam buku pelajaran matematika SD, misalnya pecahan, belum selaras dengan hasil riset yang relevan. Alhasil, siswa kesulitan untuk belajar dan guru pun kesulitan dalam mengajarkannya.Sebagai salah satu pendidik matematika di Indonesia yang berfokus pada materi pecahan, saya menganggap bahwa pembelajaran matematika dalam buku pelajaran SD perlu ditinjau ulang. Penyusunan buku harus lebih sesuai dengan cara berpikir anak, sehingga guru bisa merancang metode ajar yang lebih efektif di kelas. Baca juga: Pengajaran aritmatika di SD sembunyikan logika, bagaimana mengatasinya? Pecahan di buku pelajaran matematika SDPecahan merupakan salah satu topik matematika sekolah yang banyak diteliti. Pecahan umumnya diajarkan di kelas 2 di Indonesia dan dianggap sebagai “penjaga pintu matematika”—karena menjadi indikator kesiapan siswa dalam mempelajari aljabar. Masalahnya, konsep pecahan dalam buku pelajaran SD terbitan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun 2022 masih berfokus pada hubungan bagian-keseluruhan. Buku pelajaran SD terbitan pemerintah sebelumnya, misalnya versi 2008, juga memiliki fokus yang sama. Contoh pecahan sebagai bagian dari keseluruhan adalah “Budi memiliki lima buah permen, kemudian tiga permen dibagikan kepada temannya. Permen diterima temannya menunjukkan 3/5.”Padahal, banyak penelitian telah menganjurkan agar siswa tidak hanya fokus mempelajari pecahan sebagai hubungan antara bagian dan keseluruhan. Misalnya dengan memahami pecahan sebagai pengukuran. Baca juga: Apakah matematika berguna selain untuk sekolah atau bekerja? Sebagai contoh, saat mengukur benda dengan jengkal: jika satu jengkal setara dengan 1/5, maka panjang tiga jengkal adalah 3 kali 1/5, atau 3/5. Cara pandang ini memudahkan siswa memahami konsep lanjutan, seperti perbandingan dan aljabar.Selain itu, konsep pecahan yang sulit, seperti 5/3, sudah dikenalkan dalam buku kelas 4 Belajar Bersama Temanmu Matematika untuk Sekolah Dasar vol. 2 tahun 2021 atau buku kelas 5 berjudul Matematika tahun 2022. Padahal, konsep ini membutuhkan kesiapan mental yang lebih tinggi.Penelitian terkait menunjukkan bahwa siswa kelas 6, dan bahkan calon guru masih kesulitan memahami pecahan tersebut karena tuntutan proses mental yang sangat kompleks.Hasil penelitian saya di Indonesia juga menunjukkan bahwa siswa kelas 4 SD kesulitan belajar pecahan karena mereka belum memiliki proses mental yang diperlukan.Bagaimana sebaiknya kita menyusun buku matematika?Dalam pendidikan matematika, ada satu proyek pengembangan buku pelajaran yang terkenal, yaitu mathematics in context (MiC). Setiap materi matematika, seperti pecahan, disusun oleh sekelompok ahli yang memiliki rekam jejak penelitian pada materi tersebut.Buku pelajaran tersebut diteliti penggunaannya di kelas bersama guru untuk menilai efektivitasnya serta sebagai bahan perbaikan.Kemudian, landasan teoritis pengembangan MiC dan hasil uji coba di kelas dikomunikasikan kepada publik melalui publikasi akademis. Proses ini membuka peluang partisipasi publik, khususnya bagi pendidik matematika, untuk menanggapi landasan teoritis atau proses pengembangannya. Poin pentingnya: penyusunan buku ajar perlu lebih berbasis riset, kolaboratif, transparan, serta membuka peluang partisipasi publik. Baca juga: Prabowo minta matematika diajarkan di TK. Bagaimana seharusnya? Tantangan di IndonesiaPengembangan buku pelajaran merupakan proses yang menantang dan membutuhkan waktu yang tidak singkat, terutama di Indonesia. Saya meyakini pengambil kebijakan, contohnya Pusat Perbukuan, sudah melakukan banyak hal untuk menghasilkan buku yang berkualitas. Tahun ini, pemerintah juga berencana memperbaiki kualitas buku pelajaran sekolahNamun, kolaborasi—antara pendidik matematika dan pengambil kebijakan misalnya—masih menjadi tantangan dalam menghasilkan buku pelajaran yang berkualitas tersebut. Dalam hal relevansi, penelitian terkait materi matematika SD, khususnya pecahan, di Indonesia sudah banyak tapi belum jamak digunakan untuk membantu penyusunan buku pelajaran.Selain itu, pengambil kebijakan juga masih kesulitan membuka ruang bagi partisipasi publik. Hal ini bisa diatasi dengan menggandeng komunitas keilmuan pendidikan matematika di Indonesia, seperti Indonesian Mathematics Educators Society (i-MES) atau asosiasi pendidik matematika di perguruan tinggi keagamaan (ADMAPETA-PTKI). Kolaborasi tersebut memungkinkan pendidik matematika memberi masukan kritis terhadap buku ajar. Sebagai contoh, tim penyusun memaparkan landasan teoretis, metodologi, dan hasil evaluasi materi secara terbuka ke publik. Dari sana, pemerintah bisa meminta telaah akademis dari komunitas keilmuan untuk menyempurnakan draf buku.Langkah lainnya adalah menyeleksi tim penulis berdasarkan rekam jejak riset pada materi tertentu, lalu membentuk tim khusus untuk setiap topik bahasan. Melalui proses tersebut, alur pembelajaran matematika tidak hanya ramah usia anak dan relevan, tetapi juga transparan serta terbuka pada partisipasi publik. Baca juga: AI makin jago berhitung, guru perlu ajarkan matematika secara kritis Kamirsyah Wahyu tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.