BorneoFlash.com, JAKARTA - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat pemantauan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama terhadap aktivitas ekonomi dan konektivitas transportasi udara.Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi mengatakan Kemenhut memantau titik panas (hotspot), kondisi kebakaran, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, dan jarak pandang.“Kementerian Kehutanan terus memantau secara terpadu perkembangan titik panas (hotspot), kondisi kebakaran di lapangan, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, serta jarak pandang,” kata Ristianto di Jakarta, Kamis.Ristianto mengatakan pemerintah menggunakan data tersebut untuk menentukan prioritas pengendalian karhutla sekaligus memberikan informasi kepada masyarakat. Menurut dia, asap karhutla dapat mengganggu mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi, dan keselamatan penerbangan.Konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, curah hujan, serta dinamika atmosfer dapat memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang di setiap wilayah. Kondisi tersebut juga dapat berubah dengan cepat.Kemenhut menyampaikan perkembangan karhutla melalui kanal resmi dan sistem SiPongi. Untuk perjalanan udara, masyarakat perlu mengikuti informasi terbaru dari BMKG, otoritas bandara, AirNav Indonesia, dan maskapai penerbangan.Ristianto juga meminta masyarakat mengonfirmasi kondisi penerbangan kepada maskapai sebelum menuju bandara, terutama ketika asap mengganggu wilayah sekitar bandara.Kemenhut bersama pemangku kepentingan terus mengendalikan karhutla melalui patroli dan deteksi dini, verifikasi hotspot melalui ground check, pemadaman darat, serta penyekatan untuk menghentikan penjalaran api.Petugas juga melakukan pendinginan hingga api benar-benar padam, patroli udara, water bombing, dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sesuai kondisi meteorologis. (*)