Populer: Bahaya Impor Beras RI; Pelita Air Maskapai Paling Tepat Waktu

Wait 5 sec.

Ilustrasi Pelita Air. Foto: Darryl Ramadhan/kumparanPeringatan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengenai potensi lonjakan harga beras akibat ketergantungan impor menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Jumat (4/9). Selain itu, keberhasilan Pelita Air mempertahankan predikat sebagai maskapai paling tepat waktu di Indonesia selama dua kali berturut-turut. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:Zulhas Sebut Harga Beras Bisa Rp 20.000 per Kg Jika RI Terus Bergantung ImporKetergantungan Indonesia pada impor beras berisiko mendorong harga komoditas pokok tersebut melonjak hingga Rp 20.000 per kilogram. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyoroti adanya pergeseran konsumsi ke gandum akibat selisih harga yang signifikan. Konsumsi gandum nasional mencatat kenaikan tajam dari kisaran 3 hingga 4 juta ton pada tahun 2004 menjadi 13 juta ton saat ini, yang berpotensi mengancam kedaulatan pangan nasional jika tidak diantisipasi melalui swasembada.Ketidakseimbangan ini diperparah oleh tingginya biaya produksi beras domestik yang mencapai Rp 12.000 per kilogram, jauh melampaui Thailand dan Vietnam yang hanya berkisar Rp 3.800 per kilogram akibat keunggulan teknologi dan manajemen lahan. Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2026). Foto: Widya/kumparanKetimpangan serupa juga terjadi pada komoditas tebu dengan biaya produksi lokal sebesar Rp 14.000 per kilogram dibandingkan India dan Brasil yang berada di bawah Rp 4.000 per kilogram. Selain biaya produksi, disparitas harga pangan antardaerah masih tinggi, seperti harga telur di Jakarta yang berkisar Rp 26.000 hingga Rp 28.000 per kilogram, sementara di Maluku dan Papua menembus Rp 60.000 per kilogram.Pelita Air Pertahankan Predikat Maskapai Paling On Time di RI 2 Kali BeruntunPelita Air kembali mengukuhkan posisinya dengan meraih penghargaan On Time Performance Terbaik Tahun 2026 dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Prestasi ini merupakan kali kedua secara berturut-turut setelah maskapai meraih penghargaan serupa pada Agustus 2025. Penghargaan tersebut menegaskan efisiensi operasional maskapai dalam menjaga ketepatan jadwal penerbangan serta memberikan layanan optimal bagi konsumen.Ilustrasi Pelita Air. Foto: ShutterstockKeberhasilan tersebut ditopang oleh digitalisasi sistem melalui aplikasi OnTimeX yang telah diterapkan pada 16 armada Airbus A320 milik Pelita Air. Inovasi yang dikembangkan sejak tahun 2023 ini mengintegrasikan data pre-flight secara otomatis, meminimalkan potensi kesalahan manual, sekaligus berhasil memangkas penggunaan kertas hingga lebih dari 1,2 ton per tahun. Langkah efisiensi berbasis teknologi ini tidak hanya meningkatkan akurasi keputusan operasional tetapi juga memperkuat aspek keselamatan dan keberlanjutan bisnis maskapai.