Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan pada di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, 14 Agustus 2026. Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Presiden, CC BY● Klaim pencapaian pemerintah perlu diuji berdasarkan data yang representatif dan transparan.● Kenaikan indikator keberhasilan tidak otomatis membuktikan kebijakan pemerintah sebagai penyebabnya.● Keberhasilan pemerintah harus diukur melalui dampak nyata, bukan sekadar banyaknya kebijakan.Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan kerap memaparkan capaian pemerintahannya dengan angka-angka.Dalam pidato kenegaraan pada 14 Agustus 2026, misalnya, Prabowo menyebut pemerintah telah menjalankan 121 kebijakan transformatif selama 21 bulan. Prabowo juga mengklaim Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan serta tidak lagi mengimpor solar sejak penerapan B50 pada Juli 2026, yang menurutnya menghemat devisa hingga Rp170 triliun.Berbagai klaim tersebut patut diuji, bukan semata-mata untuk menyangkal keberhasilan pemerintah, melainkan untuk memastikan bahwa angka yang disampaikan memang mengukur apa yang diklaim.Ada setidaknya dua pertanyaan yang bisa kita ajukan: apakah perubahan yang terjadi benar-benar disebabkan oleh kebijakan, dan apakah indikator yang digunakan memang mencerminkan keberhasilan?Tanpa pengujian semacam ini, angka dapat dengan mudah berubah dari alat untuk memahami realitas menjadi alat untuk membangun narasi keberhasilan. Baca juga: Menuju setahun Prabowo: Rezim minim data dan pengetahuan Besaran sampel dan ilusi keterwakilanPrabowo mengklaim bahwa pendapatan pengemudi ojek online (ojol) meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat.Klaim tersebut kemudian dikaitkan dengan, antara lain, kebijakan pemerintah yang menurunkan potongan aplikasi untuk pengemudi maksimal hingga 8%. Klaim ini kemudian disanggah oleh sejumlah pengemudi dan Ketua Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI), yang menyatakan bahwa potongan masih dapat mencapai 34%.Perbedaan klaim ini tidak otomatis membuktikan bahwa salah satu pihak pasti keliru. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana klaim tersebut diperoleh. Presiden menyebut laporan dari banyak pengemudi yang merasakan kenaikan pendapatan. Namun, ia (ataupun menterinya) tidak menjelaskan bagaimana sampel tersebut dipilih dan apakah cukup mewakili populasi pengemudi secara keseluruhan.Dalam penelitian dengan populasi sangat besar, kita memang tidak perlu mengumpulkan data dari setiap individu. Sampel dapat digunakan untuk menggambarkan populasi yang lebih luas.Namun, jumlah sampel saja tidak cukup. Kita juga perlu mengetahui bagaimana sampel dipilih, seperti apa keterwakilannya, serta sejauh mana kesimpulan tersebut dapat digeneralisasi.Statistik dalam ilmu sosial menggunakan angka agregat seperti rata-rata pendapatan atau tingkat pengangguran untuk merangkum kondisi jutaan individu. Namun, angka agregat tetaplah sebuah ringkasan, bukan keseluruhan realitas. Kita perlu melengkapinya dengan distribusi data dan konteks sosial agar kita memahami siapa yang terdampak dan mengapa. Baca juga: Potongan aplikasi 8% tidak efektif, nasib ojol takkan berubah hanya dengan utak-atik komisi Tidak semua kenaikan disebabkan oleh kebijakanPrinsip statistik resmi PBB menekankan bahwa statistik harus disusun berdasarkan pertimbangan profesional, prinsip ilmiah, dan etika profesional. Sumber, metode, serta prosedur yang digunakan juga perlu disampaikan secara transparan agar data dapat diinterpretasikan dengan benar.Maka dari itu, klaim Prabowo bahwa pendapatan pengemudi ojol meningkat dua sampai tiga kali lipat setelah potongan aplikasi diturunkan perlu diuji lebih jauh.Penurunan potongan mungkin dapat meningkatkan pendapatan pengemudi. Namun, pendapatan juga dipengaruhi oleh jumlah pesanan, tarif, jam kerja, biaya operasional, serta kepatuhan platform terhadap kebijakan.Untuk menyatakan bahwa kebijakan menyebabkan kenaikan pendapatan, kita membutuhkan skenario alternatif (counterfactual): kira-kira apa yang akan terjadi jika kebijakan tersebut tidak diterapkan?World Bank menjelaskan bahwa persoalan ini merupakan inti dari evaluasi dampak (impact evaluation). Adanya perubahan kondisi pada kelompok penerima kebijakan tidak otomatis dapat digolongkan sebagai dampak. Sebab, ada kemungkinan perubahan tersebut terjadi akibat faktor lain.Dengan demikian, pemerintah perlu menjelaskan bukan hanya berapa besar kenaikan yang terjadi, tetapi juga bagaimana kenaikan tersebut diukur dan bagaimana pemerintah memperhitungkan faktor lain. Tanpa penjelasan itu, hubungan antara kebijakan dan hasil yang diklaim masih merupakan terkaan, atau setidaknya hanya merupakan korelasi, bukan bukti dari hubungan kausalitas. Baca juga: Bagaimana kebenaran ilmiah bisa saja berubah Ketika kuantitas mendahului kualitasDalam pidato kenegaraan tersebut, Prabowo membanggakan capaian kabinetnya yang telah menghasilkan 121 kebijakan transformatif selama 21 bulan pemerintahan.Angka tersebut memang dapat menunjukkan aktivitas pemerintah. Namun, banyaknya kebijakan tidak otomatis membuktikan bahwa masyarakat menjadi lebih sejahtera.Penggunaan angka 121 sebagai indikator keberhasilan justru berisiko menciptakan paradoks performa performance paradox, yakni ketika indikator kinerja dapat kehilangan kemampuannya untuk menggambarkan apakah suatu institusi benar-benar berkinerja baik atau buruk.Akibatnya, hubungan antara kinerja yang dilaporkan (reported performance) dan kinerja yang sebenarnya (actual performance) menjadi semakin lemah.Angka 121, dengan demikian, lebih tepat disebut sebagai output, atau sesuatu yang telah dikerjakan pemerintah. Hal yang perlu kita pertanyakan berikutnya adalah outcome dan dampaknya: apakah kebijakan-kebijakan tersebut meningkatkan pendapatan, memperluas akses layanan publik, mengurangi ketimpangan, atau memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Baca juga: Komunikasi publik kabinet ‘gemoy’ Prabowo belum transparan dan tak hiraukan kritik Transparansi sebagai bentuk akuntabilitasUntuk dapat memperbaiki hal-hal di atas, pemerintah perlu lebih transparan dalam menjelaskan pencapaiannya. Tim komunikasi kepresidenan dapat melibatkan ahli statistik, ekonom, dan peneliti kebijakan untuk menjelaskan metode pengukuran, sumber data, keterbatasan indikator, serta tingkat ketidakpastian dari setiap klaim.Ini bukan berarti setiap pidato harus berubah menjadi laporan akademis. Namun, ketika pemerintah menggunakan angka untuk membuktikan keberhasilan, publik berhak mengetahui bagaimana angka tersebut diperoleh dan diolah. Presentasi Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan 14 Agustus 2026. Kris/Biro Pers Sekretariat Presiden, CC BY Keterbukaan juga harus berlaku terhadap kritik dan hasil evaluasi independen. Perbedaan antara data pemerintah dan temuan pihak lain tidak semestinya dipandang sebagai ancaman terhadap keberhasilan pemerintah. Tidak seperti hukum alam yang berdasarkan prinsip fundamental, kompleksitas dinamika sosial menyebabkan tafsir statistik tidak bersifat universal.Dalam ilmu pengetahuan, sebuah kesimpulan justru menjadi lebih kuat ketika mampu bertahan setelah diuji dari berbagai sisi. Baca juga: Separuh klaim riset sosial dan perilaku tidak bertahan ketika dicoba ulang Pemerintah tidak cukup hanya menunjukkan berapa banyak yang telah dikerjakan, tetapi juga harus menunjukkan seberapa valid angka yang digunakan serta seberapa kuat bukti bahwa kebijakan menghasilkan perubahan.Tanpa itu, pencapaian yang terdengar besar berisiko menjadi sekadar angka yang memperkuat narasi, bukan bukti keberhasilan. Baca juga: Krisis ojol: Promo selalu mencekik pengemudi, jam-jam padat malah bikin rugi Idrus Husin Belfaqih menerima dana dari LPDP sejak 2022-2026