Kualitas Udara Memburuk, Pemkot Samarinda Belum Putuskan Sekolah Diliburkan

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, SAMARINDA — Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda belum memutuskan untuk meliburkan kegiatan sekolah meski kualitas udara di sejumlah wilayah mulai berada pada kategori tidak sehat.Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda, Neneng Chamelia Shanti, mengatakan pemerintah masih mengkaji dampak kondisi udara terhadap aktivitas belajar mengajar. Untuk sementara, kegiatan sekolah tetap berjalan dengan imbauan kepada siswa agar menggunakan masker.Menurut Neneng, keputusan meliburkan sekolah tidak bisa hanya didasarkan pada angka indeks kualitas udara. Pemerintah juga harus mempertimbangkan aktivitas anak selama berada di luar rumah jika kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara.“Dikhawatirkan anak-anak kita liburkan malah mereka jalan-jalan ke mana-mana. Kalau di sekolah, paling mereka di jalan antara rumah dengan sekolah,” ujar Neneng, pada Kamis (3/9/2026).Pertimbangan lain yang turut diperhatikan adalah pengawasan orang tua. Pemkot perlu memastikan anak tetap berada di lingkungan yang aman selama jam sekolah apabila kebijakan belajar dari rumah diberlakukan.“Kalau diliburkan, apakah pengawasan orang tua bisa maksimal terhadap anaknya di saat jam-jam kadar udara tidak bagus? Apakah mereka tetap di dalam rumah? Itu belum tentu juga,” tuturnya.Neneng menyebut secara umum kualitas udara di sejumlah wilayah Samarinda masih berada dalam kondisi yang dapat ditoleransi. Namun, wilayah Palaran dan Sambutan menjadi perhatian karena kualitas udara di dua kawasan tersebut terpantau lebih buruk.Kondisi tersebut belum menjadi dasar bagi Pemkot Samarinda untuk menetapkan kebijakan meliburkan sekolah. Pemerintah masih memantau perkembangan kualitas udara sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.Berdasarkan laporan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), kualitas udara saat ini berada di kisaran angka 100 dan masuk kategori tidak sehat. Karena itu, masyarakat, termasuk pelajar, diminta menggunakan masker sebagai langkah perlindungan diri.Neneng juga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara menunjukkan penurunan.“Jaga kesehatan, mungkin mengurangi aktivitas di luar. Karena indikator udara sekarang sudah mulai mengarah ke arah yang kurang baik. Sudah masuk ke range yang tidak baik,” pesannya.Imbauan tersebut juga berlaku bagi masyarakat yang memiliki kebiasaan berolahraga di luar ruangan. Aktivitas seperti bersepeda dan jogging diminta menyesuaikan dengan kondisi kualitas udara pada waktu pelaksanaan.Neneng mengingatkan masyarakat tidak beranggapan bahwa kondisi udara selalu lebih baik pada malam hari. Berdasarkan pemantauan pemerintah, kadar pencemaran justru dapat mengalami peningkatan setelah siang hari.“Justru di malam hari itu udara lagi tidak baik. Dari jam 2 (siang) itu biasanya kadar pencemaran udara itu naik,” jelasnya.Di tengah kondisi cuaca yang kering, Neneng turut mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah. Selain berpotensi memperburuk kualitas udara, pembakaran terbuka juga dapat meningkatkan risiko kebakaran pada musim kemarau.“Utamanya tadi jangan bakar sampah. Tapi itu mau kekeringan mau tidak seharusnya tidak dibakar sampah. Dilarang untuk dibakar,” tegasnya.Hingga kini, Pemkot Samarinda masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan kualitas udara, terutama di wilayah yang mengalami penurunan kualitas udara. Kebijakan mengenai aktivitas sekolah akan ditentukan berdasarkan perkembangan kondisi udara dan hasil evaluasi bersama organisasi perangkat daerah terkait. (*)