Harga TBS Menguat, Disbun Kaltim Khawatir Karhutla Tekan Produksi Sawit

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, SAMARINDA – Menguatnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit menjadi peluang bagi sektor perkebunan untuk meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian Kalimantan Timur (Kaltim). Namun, momentum tersebut dinilai dapat terganggu apabila kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merambah kawasan perkebunan.Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Kaltim, Arief Murdiyatno, mengatakan produktivitas perkebunan harus dijaga agar kondisi harga yang baik dapat memberikan manfaat secara optimal bagi pelaku usaha maupun masyarakat.Menurutnya, kebakaran yang masuk ke areal perkebunan bukan hanya menimbulkan kerusakan tanaman, tetapi juga berpotensi mengurangi hasil produksi. Kondisi itu pada akhirnya dapat berdampak terhadap pendapatan perusahaan dan petani yang menggantungkan penghasilan dari sektor sawit.“Apalagi sekarang khususnya harga TBS ini agak lumayan bagus. Jangan sampai dengan harga yang bagus ini nanti ada berkurang misalnya lahannya karena karhutla. Itu yang kita hindari,” ujar Arief, pada Rabu (2/9/2026).Arief menilai perlindungan terhadap areal perkebunan menjadi penting di tengah upaya pemerintah daerah memperkuat sektor pertanian sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru.Kaltim selama ini memiliki struktur ekonomi yang masih banyak ditopang sektor berbasis sumber daya alam. Karena itu, pengembangan sektor pertanian dan perkebunan terus didorong agar mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian daerah.Dalam konteks tersebut, setiap gangguan terhadap kegiatan budidaya perlu ditekan. Salah satunya risiko karhutla yang dapat merusak tanaman dan mengganggu kesinambungan produksi.“Ketika ini merembet ke kebun kita, tentunya ini akan menyebabkan gangguan kerugian ekonomi yang cukup lumayan,” katanya.Arief menyebut dampak kebakaran terhadap perkebunan tidak berhenti pada kerusakan lahan. Jika tanaman produktif terbakar, diperlukan waktu untuk melakukan pemulihan hingga tanaman kembali menghasilkan. Situasi tersebut dapat memengaruhi kapasitas produksi dalam jangka waktu tertentu.Karena itu, pencegahan menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas perkebunan. Disbun Kaltim tidak bekerja sendiri dalam penanganan karhutla, tetapi melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim sebagai sektor yang menangani penanggulangan bencana.Koordinasi juga dilakukan bersama perusahaan perkebunan, petani, kelompok plasma, serta pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan perkebunan.Untuk perusahaan perkebunan, Arief mengatakan umumnya telah tersedia sarana penanggulangan kebakaran serta standar operasional prosedur (SOP) yang menjadi pedoman ketika terjadi kebakaran di sekitar areal perkebunan.Sementara kepada masyarakat dan petani, Disbun Kaltim terus melakukan pembinaan serta sosialisasi mengenai pencegahan kebakaran. Edukasi tersebut dinilai penting mengingat lahan perkebunan yang dikelola merupakan sumber penghidupan yang harus dijaga bersama.Arief menambahkan, ancaman terhadap produktivitas perkebunan sebenarnya tidak hanya berasal dari karhutla. Gangguan organisme, serangan hama, penyakit tanaman hingga faktor lain juga dapat memengaruhi hasil produksi.Karena itu, kesiapsiagaan terhadap berbagai risiko harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika terjadi peningkatan potensi kebakaran.“Kita tetap siap siagakan karena ini sebenarnya bukan hanya pada saat ini. Dari sebelumnya kita juga banyak sekali gangguan untuk budidaya ini. Semua tantangan, semua hambatan, dan semua kendala yang akan menurunkan atau mengganggu budidaya kita, ini akan kita tanggulangi bersama-sama,” pungkas Arief. (*)